Kamis, 01 November 2012

Wewangian di Tikungan Tajam


Ilustrasi: blogspot.com

Cerita tentang Riko –bukan Riko gitaris Mocca, juga bukan Riko gitaris Backside Terror- yang belum selesai.

***

Senja itu, lapar melanda perut Riko yang belum terisi dari pagi menjelang. Riko memang sedang malang. Di rumahnya hanya ada kue-kue sisa lebaran. Ia pergi ke luar mencari kesenangan. Teman sejawatnya ada yang mengajaknya berkumpul ria sambil tertawa. Bersama teman-temannya, Riko memulai cerita.

Riko berjalan menuju warung untuk membeli kopi dan beberapa rokok untuk melanjutkan kehidupannya. Warung kepunyaan keluarga keturunan Padang yang terbatas tembok, yang memisahkan antara area pendidikan formal dengan realita yang ada. Jalan menuju warung itu harus melewati Tikungan Tajam, tempat yang dianggap paling keramat oleh warga sekitar. Namun, meskipun keramat, Tikungan Tajam merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar.

Tikungan Tajam, setiap Riko melewatinya, selalu tercium wewangian yang khas, layaknya wangi melati saat melewati kuburan. Bulu kuduk Riko bangun semua, ia menundukkan kepalanya. Ketakutan menghantuinya selama perjalanan. Dan, kekeramattannya mulai terasa. Riko mencoba bersikap seperti biasa saat melewatinya.

Setelah membeli kopi, Riko kembali melewati tempat itu, Tikungan Tajam. Wewangian masih tetap tercium. Bahkan semakin kuat, bercampur udara senja yang nikmat. Tak jauh dari Tikungan Tajam, Riko duduk bersama teman-temannya. Ia menikmati kopinya di dekat tikungan itu. Riko merasakan imajinasinya, terbang ke alam mereka dan merebah memandang awan yang sudah keemasan. Ternyata Riko sedang merasakan bahwa tempat yang disebut keramat itu mengasyikan. Walaupun matahari sudah tenggelam dan wewangian perlahan menghilang, Riko masih dibawa terbang. Hanya dengan segelas kopi, makanan alternatif ketika uang di dompet sedang tidak bersahabat, Riko melayang di wewangian Tikungan Tajam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar