Jumat, 19 Oktober 2012

Adakah Cinta yang Universal?

Catatan: tulisan ini adalah draft yang belum terselesaikan, apalagi tersunting. Tulisan ini diposting atas dasar tuntutan untuk mempublish di blog 30 hari menulis. Oleh karena itu, sangat mungkin ada kelanjutan atas tulisan ini.

Seorang teman saya putus cinta. Ia bicara panjang-lebar tentang perasaan dan permasalahannya. Tapi kemudian ia mencapai pada sebuah pertanyaan: apa itu cinta?

Cinta bukanlah tema yang langka dibicarakan. Banyak lagu, buku, dan film yang mengangkat tema ini. Tapi jarang sekali ada pembahasan ontologis mengenai cinta. Ketika saya bertanya apa itu cinta, teman saya selalu menjawab bahwa cinta hanya bisa dirasa. Jawabannya adalah jawaban sekaligus pelarian agar berhenti untuk mempertanyakan cinta. Seolah-olah cinta hanya dipercaya keberadaannya, namun tak bisa dibuktikan. Bagi saya ini aneh. Ia seperti seorang agnostik yang selalu menolak ketika diajak membicarakan cinta.

Di Indonesia, konstruksi cinta dibangun oleh berbagai macam cerita. Cerita-cerita ini yang kemudian menghegemoni dan dengan sendirinya disepakati sebagai “cinta”.

Dalam cerita Sri Rama dan Dewi Sinta, misalnya. Saat itu Sri Rama dan Hanoman beserta pasukan Kera-nya berhasil mengalahkan Rahwana. Tapi Sri Rama cemas. Ia meragukan kesucian istrinya (Dewi Sinta) yang telah berbulan-bulan menjadi tawanan Rahwana.

Dewi Sinta tak tinggal diam. Ia ingin membuktikan kesuciannya dengan mengajukan sebuah opsi: dengan menceburkan diri ke dalam api. Apabila api membakar dirinya dan ia mati, itu berarti ia sudah tak lagi suci. Namun jika api tak mampu membakar Dewi Sinta sedikit pun, kesuciannya terbukti.

Upacara itu pun dilakukan. Dewi Sinta menyeburkan dirinya ke dalam api. Namun tak seujung rambut pun ia terbakar.

Itulah sebuah pengorbanan Sinta (dalam huruf sankrit Sinta (mungkin) ditulis dengan huruf “Çinta” (Sinta), sebagaimana juga “Çakti” (Sakti)) yang dijadikan simbol rasa kasih sayang yang rela berkorban apa saja – termasuk jiwanya – untuk menyatakan kesetiaan dirinya pada Sri Rama, suaminya. Simbol inilah yang kemudian beranak pinak diadopsi menjadi kisah-kisah, dan bahkan lirik-lirik lagu, yang pada gilirannya menjadi pemahaman sebagian besar masyarakat Indonesia.

Erich Fromm, dalam bukunya The Art of Loving mengatakan bahwa konstruksi cinta tak lepas dari tuntutan perkembangan zaman. Pada zaman pertengahan, misalnya, konsep cinta mengarah ke dalam bentuk yang spiritual. Pada zaman Victorian, konsep cinta ditentukan oleh norma-norma sosial dan aturan feudal. Atau pada tahun 1920-an, seorang gadis perokok dan peminum, ulet serta seksi dipandang menarik. Pada pertengahan abad 20, apa yang dianggap menarik mengalami perubahan.

Hal itu menunjukkan bahwa persoalan cinta bukanlah semata tentang perasaan, tapi juga tentang kultur.

Kembali ke Indonesia. Di sini, konsep cinta bukan hanya dibangun oleh kisah Rama-Sinta. Sekarang, nilai-nilai fetisme terhadap benda-benda (sebagai konsekwensi atas kapitalisme) juga turut mengkonstruksi pemahaman masyarakat  terhadap cinta. Maka wajar jika banyak orang menentukan ciri-ciri orang (laki-laki atau perempuan) yang disukainya dengan pedoman “cantik” atau “ganteng” berdasarkan stereotip barat yang mulai mendominasi melalui globalisasi.

Tapi ukuran “ganteng” juga tidak pernah sama. Ia bergantung pada nilai-nilai historis suatu tempat. Teman saya pernah bercerita, di Afrika, ada sebuah suku yang mengukur “kegantengan” melalui panjang penis. Ia jadikan sebuah kelakar, “jika ukuran ganteng tersebut diberlakukan di Indonesia, maka ajang pencarian jodoh seperti take me out atau seperti yang di koran-koran hanya akan ramai dengan seberapa panjang penis cowok”.

Seperti halnya ukuran “ganteng” atau “cantik”, konsep “cinta” juga tak datang dari sananya. Ia dikonstruksi, dan dihancurkan oleh nilai-nilai yang berlaku pada zaman tertentu, oleh penguasa yang memiliki wewenang atas itu – yang memiliki kemungkinan besar untuk menciptakan standar baik-buruk, benar-salah.

Lalu, adakah cinta yang universal?

Surat Seorang Proletar Untuk Kaum Elit Borjuis

Judul di atas merupakan sebuah track lagu The Brandals di album Brandalisme yang dirilis via Aksara Record pada tahun 2007. Namun, Saya tak ingin membicarakan The Brandals (karena mereka sudah cukup banyak mendapat publikasi dari media). Sekedar hanya meminjam judul lagu di atas untuk sebuah surat imajiner, yang bisa saja menjadi kenyataan kelak. (Izinkan hamba meminjamnya, yang mulia Eka Annash)

_________________________________________________________________________________



Kupang, 19 0ktober 2012

Kepada :
Yth Achmad Al Ghazalli
Jl Pinang Mas, Pondok indah

Halo Al, apa kabar? Sepertinya kau cukup bahagia di sana. Setiap sore menjelang malam, aku selalu melihatmu bersama adik-adikmu di salah satu stasiun televisi swasta. Aku lihat kau sangat menikmati peranmu. Aku baru mengirimkan surat ini sekarang. Karena aku cukup kesulitan mengumpulkan uang demi membeli seracik kertas, sebuah bolpoint, serta perangko sekedar untuk mengirimkan surat kepada idolaku (mungkin saja kau tak peduli).


Semoga kau semakin sehat di sana dengan memakan makanan bergizi ala Eropa. Sementara aku di sini hanya bisa makan sehari sekali, itu pun dengan lauk seadanya. Dan tentunya jauh dari kadar gizi yang disarankan para pembual yang mendeklarasikan diri mereka sebagai dokter.

Aku cukup kecewa waktu melihatmu di televisi. Aku melihatmu minum bir dan menghisap sebatang rokok. Aku tahu itu hal yang wajar. Namun kau masih empat belas tahun, Al. Tunggulah beberapa tahun lagi untuk melakukan semua itu. Sudah barang tentu kau mengecewakan ayahmu yang menganggap dirinya sebagai orang tua super (sejenis Fairly Odd Parents? Fuck). Aku harap kau tak melakukannya lagi, kau harus tahu betapa sulitnya mencari uang. Ayahmu tak akan selamanya kaya raya. Mungkin hari ini kau sedang bahagia, namun siapa yang tahu hari esok?

Sekian surat dariku, semoga kau bisa lebih baik dari ayahmu. Rajin rajinlah belajar. Onani terlalu banyak juga tak cukup baik untukmu.

                                                                           

                                                                                                                  Fans Beratmu, Martinus.



Surat ini dibalas oleh Al

Keluh Kesah Seorang Pembawa Amanah


Dalam ajaran Islam, amanah yang dititipkan seseorang yang sudah disepakati bersama wajib hukumnya untuk dijaga dan/atau dijalankan. Ketika amanah yang telah diepakati tidak terlaksana, maka label munafik akan segera menempel di kepala orang-orang yang tidak menyampaikan amanah itu. Saya diberi kepercayaan untuk menyampaikan amanah dari seorang kawan. Tentu, sebagai muslim yang kadang patuh pada ajaran agama dan tidak ingin bermunafik-ria, saya menjaga amanah itu dan berusaha untuk tidak mengkhianatinya.

Amanah tetap amanah. Kesepakatan telah tercipta. Alamat tujuan amanah itu sudah diberikan, tinggal bagaimana jalannya.

Terik matahari yang menyengat, kemacetan lalu lintas terlihat di setiap ruas, serta kesewenangan pengguna jalan yang selalu senang untuk menyerobot. Ya, ini tentang Jakarta. Kali ini saya berkeluh-kesah tentang ibukota negara yang bernama Indonesia. Tak hanya tentang Jakarta, tapi tentang sebuah alamat yang “aneh”. Sebuah alamat yang diamanahkan kawan saya untuk dikunjungi.

Peta sebagian selatan Jakarta

“Aneh”, karena hampir tiga jam berputar-putar mengelilingi secuil bagian Jakarta sebelah selatan alamat itu tak kunjung ditemui. Alih-alih bertanya kepada yang lebih tahu, malah tersasar entah ke tempat yang semakin membuat linglung. Patokan yang diberikan adalah supermarket Giant –yang dalam bayangan saya berbentuk giant pula. Namun, nyatanya supermarket tersebut terselip antara ruko-ruko biasa yang bersarnya hampir sama dengan yang disebut sebagai giant. Sekali lagi, saya tertipu oleh sebuah kata.

Setelah perjalanan “panjang” akhirnya amanah itu dapat tersampaikan. Mungkin ada beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai reminder dari keluh kesah ini. Pertama, amanah yang telah disepakati adalah kewajiban untuk dipenuhi. Seorang manusia dipandang bukan karena ucapannya, melainkan perbuatannya. Pun akhirnya keluh kesah ini lahir, tapi setidaknya amanah itu telah tersampaikan (paragraf ini adalah sebuah pembenaran).

Kedua, kata Giant tak selalu bermakna giant. Sebuah kata memang lazimnya terbentuk dari satu makna yang diinginkan penciptanya. Tapi ketika kata itu telah lahir, secara bersamaan makna tunggal itu menjadi tak berarti, mati. Namun, ketika sang pencipta (pemberi amanah) masih ada, tak ada salahnya untuk bersikap skeptis.

Ketiga, alamat lengkap bukan jaminan untuk sampai tujuan dengan cepat. Alamat memang petunjuk yang paling benar, namun bukan berarti yang paling baik –apalagi bila ditujukan kepada orang-orang yang menghafal tempat, bukan alamat. Pada hemat saya, sebagian (besar atau kecil, itu relatif) warga Jakarta tidak hafal nama-nama jalan yang ada. Mereka menghafal tempat-tempat yang populer sebagai patokan untuk pergi ke suatu tempat. Patokan tempat yang populer, mungkin, bila dipadukan dengan alamat lengkap, akan penjadi sebuah pentunjuk yang sempurna –walaupun di dunia tak ada yang sempurna, setidakknya mendekati.

Mungkin sampai di sinilah akhir keluh-kesah saya –setidaknya untuk saat ini.