Sabtu, 20 Oktober 2012

Surat Seorang Borjuis Untuk Kaum Proletar

Jakarta, 20 Oktober 2012
Kepada:
Yth Martinus
Kupang

Gua udah baca surat lu yang membosankan itu. Entah apa sebenarnya yang lu inginkan. Sekedar mencari perhatian dari gua? Buat apa semua itu? Menaikkan posisi tawar lu dihadapan fans gua yang lain? Terserah lu aja.

Di sini gua sehat selalu. Ayah selalu memberikan makanan bernutrisi tinggi yang disusun ala standar kaum Pondok Indah. Gua tahu, selama ini lu di sana lu selalu memakan makanan yang biasa gua kasih untuk Kucing dapur. Bagaimana lu bisa cerdas, jika hanya mengkonsumsi itu setiap waktu.

Masalah gua ada di tv, gua ngerokok, gua ngebir. Itu urusan gua. Lu gausah sok peduli, toh gua juga ngga ngerugiin lu dan keluarga lu yang super miskin itu. Dan yang gua benci, kenapa lu bawa bawa ayah gua? Ayah  adalah sosok terbaik. Hal bodoh yang pernah ia lakukan adalah bekerjasama dengan Koil. Itu adalah dosa terbesar yang pernah ayah lakukan.

Gua cukup sibuk untuk membalas surat lu, masalah gua sering onani, itu adalah hasrat. Jika lu mau, gua udah kirim satu paket boneka Miyabi beserta viagra dan sabun cair. Sekedar untuk menikmati keindahan hidup.

Idolamu, Achmad Al Ghazalli

Jurnalisme Konvensional vs Jurnalisme Warga



“Wartawan bukan cuma menyampaikan fakta, tapi menyampaikan kebenaran. Sebab ia bukan saluran telepon” –Farid Gaban


Wartawan, melalui media konvensional kini cenderung hanya menyampaikan fakta. Suatu fenomena seringkali disajikan begitu saja dengan bahan berita seadanya. Akibatnya, ketika sebuah berita dipublikasi, masyarakat tak bisa melihat kenyataan sepenuhnya. Hal ini bisa dengan mudah ditemukan terutama di media televisi dan online yang bersifat hiperaktual.

Dengan serampangnya fakta-fakta di lapangan, wartawan berhak memilah fakta-fakta mana yang akan diberitakan. Ini yang menjadi kekhawatiran banyak orang. Sebab, saat ini, di era konglomerasi media, hal itu menjadi cara untuk menafsirkan, menyelewengkan, dan juga menciptakan kebenaran versi pemilik media. Melalui fakta-fakta yang dipilah, alih-alih merepresentasikan kenyataan, ia malah menutupi sekaligus menyelewengkan kenyataan. Ini yang Baudirllard sebut sebagai “simulacrum”.

Tapi bukankah kebenaran itu memang relatif? Lalu, harus menggunakan standar yang mana?

Andreas Harsono, dalam bukunya A9ama Saya adalah Jurnalisme, mengatakan bahwa dalam jurnalisme kebenaran memang relatif. Tapi bukan tidak ada. Ia ada, tapi tak mutlak. Kebenaran hari ini belum tentu kebenaran besok hari. Begitu seterusnya. Itu mengapa, jurnalisme justru berpeluang untuk terus mengoreksi.

Oleh karena itu, kesimpangsiuran “kebenaran” juga menimbulkan hal positif: semua media massa bisa menafsirkan suatu fenomena dengan hasil interpretasi yang berbeda. Namun itu justru memungkinkan dialektika yang dinamis, dan pada gilirannya, selalu mengoreksi.

Celakanya, konglomerasi media juga menimbulkan monopoli media massa. Hal itu sangat mengkhawatirkan karena monopoli media juga berarti monopoli makna, persepsi publik.

Jurnalisme konvensional yang isi beritanya sarat dengan kepentingan pun diragukan. Dari situ, muncullah jurnalisme warga.

Berbeda dengan jurnalisme konvensional yang kerap menyajikan isu-isu yang hanya menopang kepentingan pemilik, jurnalisme warga menyajikan isu-isu publik (masyarakat dalam suatu daerah tertentu) yang tidak tersentuh oleh media-media konvensional. Ini yang dalam artikel Agus Sudibyo berjudul “Jurnalisme Warga” disebut sebagai fungsi demokrasi leberatif, yang memungkinkan semua pihak terlibat dalam isu-isu publik.

Dalam ranah musik, sebenarnya banyak komunitas Punk (sekarang sudah semakin berkembang, tidak hanya di komunitas Punk) yang telah lebih dulu mempraktekkan hal ini. Di setiap pertunjukkan musik, seringkali mereka berbagi pandangan terhadap isu lokal dengan cara bertukar zine (semacam majalah, yang dikelola secara mandiri). Mengingat semakin banyaknya celah pemberitaan di media karena keterbatasan dan juga independensinya, praktik itu sangat dibutuhkan.

Tapi problemnya, jurnalisme adalah persoalan verifikasi kebenaran. Karya jurnalisme warga dianggap lemah dalam verifikasi, akurasi, serta pemisahan antara opini dan fakta. Karena itu, jurnalisme warga juga diragukan.

Meski begitu, sebetulnya jurnalisme konvensional maupun jurnalisme warga, keduanya berada di ranah hukum. Dewan pers dan KPI diharapkan tetap mengkaji permasalahan-permasalah di media konvensional. Kemenkominfo tetap mengamati permasalahan komunikasi di ranah publik.

Dari permasalahan di atas, dapat disimpulkan bahwa Jurnalisme Konvensional dan Jurnalisme Warga memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Bagi saya, itu adalah hal positif karena jika keduanya dijadikan sebagai alat untuk mendapatkan informasi, kenyataan akan terlihat lebih berimbang. Selain itu, keduanya juga memiliki fungsinya masing-masing: Jurnalisme Konvensional untuk isu umum, Jurnalisme Warga untuk isu lokal yang tak tersentuh Jurnalisme Konvensional.

Jurnalisme Warga, Ketidakpuasan kepada Media Massa



Jurnalisme warga, yang saat ini menjadi fenomena di Indonesia, lahir dari ketidakpuasan masyarakat dengan media massa yang ada. Media-media besar semakin hari semakin berpihak kepada kepentingan penguasa. Informasi yang dihadirkan sering kali tidak berimbang. Hal ini yang menyebabkan masyarakat tidak puas dengan berita-berita yang disajikan di media mainstream.

Banyak kepentingan yang terdapat di dalam berita yang disajikan media massa. Mulai dari kepentingan politik, ekonomi, dan lain sebagainya, yang semakin membuat media massa tidak seimbang (cover both side) lagi dalam menyampaikan isi pernyataan. Yang dirugikan adalah masyarakat yang mengkonsumsi media tersebut. Masyarakat diberikan mitos melalui tanda (bahasa) oleh media, kemudian media mengemas mitos dengan rapi, sehingga mitos itu dianggap sebagai sebuah kebenaran. Mitos-mitos yang diciptakan media mainstream membuat masyarakat terperangkap dalam tanda-tanda yang diberikan tanpa tahu kebenarannya, bagaikan seekor katak dalam tempurung. Dalam kepalsuan mitos itu pula, kualitas pikiran masyarakat terus menurun. Oleh karena itu, mitos yang dihasilkan oleh media perlu untuk diketahui asal-usul kebenarannya.

Masyarakat yang memiliki sikap kritis, tentu, tidak begitu saja percaya dengan apa yang disaksikan melalui media massa. Mereka, yang masih bisa sedikit kritis, akan berusaha membongkar fakta yang diberikan oleh media mainstream. Namun, mitos yang dihasilkan oleh media massa tidak lantas menjadi alasan untuk membenci media yang notabene-nya memberi informasi. Salah satu cara untuk membongkar mitos tersebut adalah dengan menjadi media yang lebih jujur, obyektif, tanpa adanya kepentingan para penguasa. Dari hal tersebut munculah jurnalisme warga, sebagai media dari dan untuk untuk masyarakat.

Juralisme warga lahir dari masyarakat yang muak dengan media massa mainstream, yang seragam. Mereka, masyarakat yang muak dengan media mainstream, lantas mencari media alternatif, mengamati dan mulai menirukannya. Sadar atau tidak, mereka telah menjadi media –setidaknya media untuk menyalurkan pemikirannya sendiri. Saat ini masyarakat dapat dengan sangat mudah menjadi media yang memnyampaikan pikiran-pikirannya tentang isu atau kondisi yang sedang terjadi melalui situs jejaring sosial yang ada. Jika antusias seperti ini dikelola dengan baik, seperti jurnalisme profesional, tentu akan menjadi alternatif bagi masyarakat untuk menemukan informasi yang berbeda dari berbagai perspektif.

Don’t hate the media, just be the media,” begitulah salah seorang kawan saya berucap. Jangan pernah menyalahkan media bila kita tak dapat berbuat apa-apa. Setidaknya, bertindaklah sebagai media. Media yang menghasilkan pikiran-pikiran segar, yang telah lama hilang dari media-media besar.