Senin, 29 Oktober 2012

Aksi dan Reaksi


Meremehkan sesuatu akan berakibat fatal, saya adalah seorang korban atas tindakan bodoh itu. Akibat meremehkan ujian dalam perkuliahan saya menerima ganjaran yang setimpal. Kegelisahan yang mendalam.
Hari ini ada tiga mata kuliah yang di ujikan oleh masing-masing dosen mata kuliah. Entah mengapa pada minggu malam saya hanya fokus mempelajari satu mata kuliah saja. Saya menganggap dua mata kuliah lainnya bisa saya kerjakan tanpa saya harus repot-repot belajar. Namun kenyataanya berlawanan.
Siang tadi, saat mata kuliah penjurusan saya merasa sangat bingung, panik, dan berkeringat. Sampai-sampai pengawas ujian berkata “kamu udah sarapan belum? Ini soalnya susah lho” saya pun menjawab dengan cengengesan “udah pak” betapa tololnya saya saat itu.

Sampai pengisian jawaban, semua hal yang saya pelajari mendadak hilang dari ingatan saya, padahal saya hanya belajar hal itu. Otomatis dengan sigapnya saya menerapkan sistem lama yang tak pernah usang, bertanya kepada teman di saat ujian berlangsung. Untungnya teman saya tak merasa terganggu dengan sikap saya yang cenderung offensif, itulah gunanya teman, selalu bisa diandalkan dalam keadaan terdesak.
Beberapa saat kemudian, ujian sesi berikutnya dimulai. Tak ada pelajaran yang saya bawa ke dalam ruang kelas. Yang saya bawa hanyalah obrolan tentang band-band metal bersama teman di warkop. Saat soal di bagikan saya merasa tenang dan cuek, dan yang terjadi adalah saya mengingat kata-kata teman saya yang baru saya dengar beberapa jam yang lalu “Real Man anti lama-lama dikelas” saya pun menyetujui hal itu dan mengerjakan ujian kedua dalam kurun waktu hanya sepuluh menit.

Sesi terakhir adalah sebuah bencana, hal yang sangat saya benci keluar sudah. Tak ada yang saya mengerti dari soal-soal yang ditampilkan. Sekalipun hanya dua soal yang harus dijawab. Ini adalah hal terbodoh yang pernah saya lakukan. Pesan moral dari tulisan saya adalah jangan meremehkan segala sesuatu jika tak ingin seperti saya. Udahlah capek

Aljabar: Menjabarkan Diri Sendiri




Catatan seorang penonton lakon Aljabar.

Lampu panggung menyala, terlihat seorang lelaki setengah baya duduk sedang menyelesaikan lukisannya, dan seorang perempuan yang mulai mengantuk dan terus mengajak untuk tidur. Mereka berdua adalah pelukis yang sedang mencapai titik kejenuhan dalam mengahadapi kegelisahan hidupannya. Melalui lukisan, mereka menuangkan seluruh kegelisahan itu.

Namun ketika mereka mencoba untuk melukiskan dirinya sendiri, hasilnya pasti kabur dan tidak sesuai dengan  yang mereka inginkan. Sampai pada akhirnya mereka sadar bahwa mereka belum bisa memahami dan memaknai dirinya sendiri. Dengan hidup yang begitu singkat, mereka pesimis untuk dapat mengetahui arti hidup mereka.

Dua pelukis yang diperankan mencoba untuk mewakili kegelisahan masyarakat saat ini. Masyarakat terkadang menjadi tidak berdaya menghadapi kerasnya persaingan hidup dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sampai pada akhirnya, mereka hanya bisa meratapi kegelisahannya dan menyalahkan kehidupan sebagai biang keladinya.

Lakon yang dibawakan oleh Teater Cinta Lakon ini merupakan representasi mereka terhadap kehidupan masyarakat saat ini. Lakon Aljabar menjadi menarik karena mereka sedang menjabarkan tentang kegelisahan yang mereka rasakan dalam sebuah lukisan. Menjabarkan diri sendiri berarti memahimi diri sendiri secara keseluruhan. Dengan mengenal diri sendiri, tentu akan lebih mudah untuk menikmati kegelisahan yang sedang melanda.

Menelanjangi Makna I Love You


Semua orang tahu apa makna I Love You. Tapi apakah I Love You akan tetap pada maknanya jika susunan di dalamnya dilucuti satu persatu hingga telanjang?

Sekarang saya ingin coba menelanjanginya, dengan cara melucuti huruf-huruf yang membentuk kalimat itu, yang membuatnya memiliki makna.

Pelucutan ini dilakukan dengan dua cara dan sembilan tahap. Cara pertama, dengan menghapus huruf-hurufnya dari depan ke belakang. Cara ke dua, sebaliknya.

Sembilan tahap tersebut seperti di bawah ini:

1) I Love You
2) Love You
3) ove You
4) ve  You
5) e You
6) You
7) ou
8) u
9)

Barusan saya menghapus huruf-huruf dalam kalimat "I Love You" dengan cara pertama (dari depan). Sekarang saya ingin coba menghapusnya dengan cara ke dua (dari belakang).

1) I Love You
2) I Love Yo
3) I Love Y
4) I Love
5) I Lov
6) I Lo
7) I L
8) I
9)

Coba simak hal di atas dengan seksama. Kalimat itu menjadi bentuk-bentuk baru, menjadi makna baru. Tapi, menelanjanginya dari depan atau belakang, di tahap kesembilan, yang ada hanyalah kekosongan. Lalu apa?

Ransel

Jika engkau seorang guru
Timbanglah isi ransel Ku
Dengan begitu kau tak akan pernah tahu
Seberapa berat pikiran Ku
Karena keterbatasanmu
Tak akan mampu menimbang ketidakterbatasan Ku