Jumat, 11 Juli 2014

Ngentot ala Amerika



Kemarin, saya mendapatkan mandat untuk memesan makanan berbuka puasa bersama anak yatim. Kami sudah menyepakati membeli makanan di warung makan ala Amerika, yang kerap menawarkan hasrat nikmat tiada terkira. Saya datang ketika orang muslim sedang melaksanakan ibadah solat tarawih. Suasana di warung makan itu terlihat cukup ramai, seramai pasar tradisional di pagi hari.

Banyak wajah-wajah asing yang saya temui. Ada sebuah keluarga kecil tengah menyantap ayam beserta kentang goreng dengan lahapnya, seperti kaum lapar di Ethopia yang baru menemukan kudapan setelah tiga hari tak makan. Ada perempuan paruh baya yang memakai perhiasan mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Mungkin ia ingin dibilang orang kaya. Mungkin agar semua orang memperhatikan, memperhatikan gerak geriknya yang nampak seperti remaja tanggung. Padahal, kulitnya telah mengedur seperti kerupuk yang terkena basah. Ada perempuan bercadar yang misterius di pojokan kaca bersama suaminya yang Arab. Ini unik, saya kira orang keturunan Arab benci akan segala sesuatu berbau Amerika. Pasalnya, Amerika sendiri kerap menjadikan negara-negara Arab sebagai musuh semenjak kejadian 9/11. Ada anak kecil yang telah berkawan akrab dengan gadget. Ia tak memperdulikan sekitarnya. Ia sibuk tertawa, marah dan kadang berbicara dengan gadgetnya. Ada pegawai yang terlihat menyulap wajah lesunya dengan topeng senyum yang menawan demi menarik perhatian pengunjung agar memesan ayam lebih dari cukup. Agar sang pegawai bisa cepat naik pangkat. Agar ia memiliki kredit yang baik dimata atasan. Dan banyak sekali wajah-wajah asing di warung makan itu.

Tibalah waktu saya memesan makanan. Saya bertemu dengan supervisor toko. Ia terlihat malas menemui saya. Hal itu terlihat dari pandangan matanya yang menyebalkan. Ingin rasanya saya mencongkel kedua matanya untuk kemudian saya berikan kepada anjing gembala yang kelaparan di pertigaan jalan. Lantas saya memesan secara ekslusif kepadanya. Saya menyebutkan pesanan, ia mencatatnya. Sungguh tiki taka yang nyaman diantara kita, walaupun ia masih menyebalkan sejak datang menghampiri saya.

Ada keanehan dalam pesanan saya. Di billboard warung, harga pesanan saya satuannya berkisar Rp 25.525.- belum termasuk PPN 10%. Saya sendiri kerap mempertanyakan untuk apa PPN tersebut, apakah untuk membeli senjata Amerika dalam rangka menginvasi jazirah Arab. Atau uang tersebut disetorkan ke pemerintah sebagai kas pemasukan negara? Entahlah. Jika harga pesanan sayaRp. 25.525.- ditambah PPN 10% seharusnya angka yang saya dapatkan sekitar Rp. 28.000/pcs. Namun sang supervisor menembak dengan harga Rp. 30.000.- per makanan, keparat.

Berikut adalah percakapan saya dengan sang supervisor

Saya: Saya pesan paket A sebanyak 50 buah, untuk hari sabtu (12/7), pesanan akan saya ambil jam empat sore.
Supervisor: Oke, harga per buahnya Rp.30.000
Saya: (melihat ke mukanya yang membosankan) Rp 30.000 ya mas...... okelah pikir saya.
Supervisor: Oh iya ini kena Charge 12 ribu sebagai ongkos packing
Saya: ongkos packing?
Supervisor: Iya, packing. Dan juga untuk minumannya, kita ganti pakai kalengan soalnya takut tumpah nanti.

Dari percakapan diatas, supervisor beserta tokonya yang keparat telah mengambil untung dari harga awal menurut perkiraan saya. Mereka mengambil dua ribu rupiah. Kalikan 50 buah, pesanan saya. Berapa totalnya? Hitung saja dengan sempoa butut kalian. Oh, itu baru dari saya, belum dari customer lain. Berapa kali mereka mendzolimi kita? Padahal tanpa kita, warung makan mereka bukanlah apa-apa. Mengenai charge 12 ribu, warung makan tersebut jelas takut untuk miskin. Selain menjual ayam, mereka juga menjual plastik dan karton kepada pelanggannya. Semua ada harganya. Semua ada maknanya. Ah Amerika, engkau menciptakan musuh dimanapun kau mau. Ngentot !!!

Antara Digul, Buru dan Jakarta

Ada yang mengisahkan tentang pembuangan orang-orang merah di Boven Digul..
Ada yang menyesal karena kakanda’ tak sempat melamar Cindai sebelum menjadi orang buangan..
Ada yang optimis bahwa tanah buangan adalah tanah kebebasan..
Ada istri yang menangis ketika matu tak mau harus ikut suami ke tanah malaria..
Gedung parlemen tetap riuh, tetap membicarakan kesenangan mereka

Ada yang bingung dituduh komunis dan tak bisa sekolah..
Ada yang mati disembelih di ujung pantai..
Ada yang tertawa tertembak peluru kebencian yeng entah datang dari mana..
Tapi kehidupan gemerlap itu takkan pernah membosankan,
memabukkan, membuat yang terkenang, terlupakan..

Ada yang bertemu rahasia pelacur Jepang di pulau tak bernama..
Ada yang menulis di tengah keterasingan..
Ada yang menyesal pernah membantu seorang laknat berkuasa..
Tapi kehidupan tetap herus berjalan,
mengorbankan nyawa yang menjadi barisan depan..

Satu jam sebelum berbuka puasa

Kamis, 10 Juli 2014

Rakus

Lelaki kurus itu berjalan mendekati meja makan. Pelan-pelan berjalan dengan sekujur tubuh gemetar. Tangannya juga bergetar.

Matanya melotot. Bibirnya bergerak-gerak seperti orang stroke. Kepalanya yang agak patah ke samping, juga bergerak-gerak. Ia bertelanjang dada.

Di meja makan, ada banyak makanan. Ada nasi, sop, daging, buah-buahan, dan beberapa plastik. Banyak sekali makanan terhampar tak beraturan. Dengan tangan gemetar, lelaki itu menarik kursi di meja makan, lalu duduk.

Ia sejenak mengamati seluruh makanan yang ada di hadapannya. Kemudian perlahan memakannya dengan tangan kanan.

Satu suap, dua suap, tiga suap, kecepatannya menyuap semakin cepat. Semakin cepat dan terus semakin cepat. Ia kemudian menggunakan tangan kirinya juga untuk menyuap. Kecepatannya terus bertambah hingga suara lelaki itu keluar, seperti menggumam.

Lama-lama, kedua tangannya itu menyuap makanan dengan cara menggenggam. Digenggamnya makanan di meja itu secara acak. Suapan sebesar genggaman tangannya membuat makanan-makanan itu memenuhi mukanya. Gumamannya juga semakin keras.

Ia begitu nafsu memakan seluruh makanan di meja itu. Ia ingin menghabiskan semuanya. Detik demi detik hasrat memakannya semakin besar. Hingga akhirnya dia muntah di meja makan. Ia muntah begitu banyak.

Ketika muntahnya tak lagi keluar, ia jatuhkan kepala dan tangannya di atas meja makan, di atas makanan dan muntahannya. Ia diam beberapa jenak sambil menggumam dan nafasnya tersendat. Kemudian ia bangun, lalu tersenyum, dengan tubuh yang masih gemetar.



Day 12

BUNGA

Layumu mekar.
Kelopak jingga itu
masih menolak runtuh
Tangkaimu tak lagi berduri,
tak mampu melindungi

Ruang gelap itu,
kini bermandikan cahaya.
Jutaan kunang-kunang raksasa
menyatu. Menjadi derita.

Mereka berkata;
"Aku berdoa untukmu dari jauh."
Cahaya itu tetap gemerlap.
Enggan berubah.
"Doamu tak dijabah,
terlalu banyak lalu lintas doa."
Entah suara siapa.

Sebagian percaya, ini takdir Tuhan.
Yang lain tetap berdoa,
lain lagi yang hanya linlung. Mencari pelarian.
Menjadi suci seketika..

Ada yang minta maaf,
entah kepada siapa.
Suaranya parau, minor.
Seperti ingin didengar, namun hampa.

Mungkin benar takdir Tuhan
kita hanya terjaga,
sambil sesekali mengada.

Layumu kini menghitam
membekas lebam
kelopakmu hampir jatuh,
tapi tak rela.

Kita hanya terjaga..
Menunggu
mekar yang tak layu.
Kelopak jingga bercahaya.

Kita hanya terjaga..

06.12 setelah kekalahan Belanda

Rabu, 09 Juli 2014

Kemenangan besar Jerman, keterkaitan dengan pilpres dan kemungkinan perang / derbi Branding

Jerman tampil amat gila semalam, mereka menggerus tuan rumah Brazil 1-7 di Estadio Bello Horizonte. Jerman sendiri menjawab keraguan saya akan sisi pragmatisnya yang membosankan. Mereka mencoba keluar dari zona nyaman dan hasilnya adalah 200 juta jiwa lebih harus merasakan kepiluan atas perlakuan Jerman. Hal ini tentu mengingatkan saya terhadap pembantaian tentara Jerman kepada kaum yahudi puluhan tahun silam. Kepiluan yang dirasakan warga Brazil dan Yahudi mungkin terlihat sama. Namun berbeda konteks.
Ketiadaan Thiago Silva dan Neymar disinyalir menjadi kerapuhan utama pertahanan dan penyerangan Brazil. Lihat saja bagaimana Kroos, Khedira, Muller, Oezil dan Klose mampu menari-nari ditengah benteng pertahanan Brazil yang dijaga jendral dadakan, kribo bangsat David Luiz. Dalam tempo setengah jam, sudah ada lima peluru tim panser yang bersarang di benteng terakhir Brazil. Sejujurnya, peperangan itu sudah selesai semenjak panser unggul lima gol.
Siapa yang bisa memprediksi kemenangan super besar ini? Saya rasa tak ada satu orangpun mampu meramalkannya. Yang saya tahu ialah, Jerman bermain dengan semestinya mereka bermain, disiplin dalam menyerang dan bertahan, seperti perpaduan Munchen dan Dortmund. Hal itu sudah cukup untuk saya tersenyum lebar.
Yang menggelikan, hasil akhir pertandingan ini dijadikan acuan siapa pemenang Capres 2014. Pendukung Prabowo mencoba menggambarkan skor 1-7 sebagai tanda bahwa presiden ke 7 Indonesia adalah nomor 1. Sementara pendukung Jokowi menandakan Skor tersebut dengan analogi 7okow1 sebagai penanda presiden Republik indonesia ke tujuh. Atau 7 (untuk pengganti huruf J pada Jokowi) dan 1 sebagai maksud RI 1, whatever. Fcuk.

Tim panser tinggal menunggu lawan berikutnya di Final. Apakah wakil Nike asal Eropa, Belanda. Atau kebanggaan Adidas asal Amerika Selatan, Argentina. Kemungkinan yang bakal terjadi di final ialah Battle of Adidas atau Battle of Branding.

Reaksi Kun Fayakun pada Kekalahan Brasil: Protes, FIFA dan Lazio

Protes rakyat Brasil (Sumber: Google)
Dari awal, sebagian rakyat Brasil memang tak setuju Piala Dunia 2014 digelar di negaranya. Pasalnya, krisis ekonomi sedang melanda negeri samba itu.

Ingat beberapa bulan lalu, ketika renovasi stadion-stadion di Brasil molor dari jadwal? FIFA sampai harus menahan tujuh persen tiket karena kapasitas stadion belum juga diketahui. Tujuh tahun yang digunakan Brasil untuk persiapan pagelaran sepakbola terbesar di Bumi ini, sia-sia.

Terkesan dipaksakan, Piala Dunia 2014 memang tak seheboh Piala Dunia sebelumnya, saat digelar di benua hitam Afrika. Theme song yang didendangkan oleh Pitbull bersama Jennifer Lopez & Claudia Leitte tak setenar Waka Waka yang dinyanyikan Shakira. Banyak bangku kosong di stadion saat babak penyisihan grup. Dan, pesta pembukaan yang payah.

FIFA menjadi kambing hitam, bulan-bulanan rakyat Brasil yang dari awal memrotes Piala Dunia ini dilangsungkan di negerinya. Menurut mereka, FIFA telah mengubah sepakbola sebagai industri. Ada bisik-bisik yang menyebutkan FIFA mendesak pemerintah Brasil untuk mengubah undang-undang tentang minuman keras, agar para sponsor minuman beralkohol dapan dengan leluasa mengedarkan produknya.

Tak berhenti sampai di situ, para demonstran juga memrotes kebijakan pemerintah Brasil, yang lebih memilih membangun stadion daripada membangun infrastruktur publik dan kelayakan upah untuk rakyat Brasil.
Sumber: Google
"Jika mereka memiliki uang untuk pembangunan stadiun Itaquerao, bagaimana mereka mengaku tidak memiliki uang yang cukup untuk publik," ujar presiden serikat buruh, Prazeres Junior, sebagaimana dikutip Infobae.com.i

Sementara itu, Menteri Negara untuk Urusan Strategis Brasil Marcelo Neri berkelit, "Ini adalah kesempatan seperti yang Anda miliki di Inggris (untuk Olimpiade 2012). (Sementara) kita memiliki potensi yang sangat besar dalam hal pariwisata namun belum berkembang dengan baik. jadi dengan ini sekaligus dapat meningkatkan pariwisata."ii

Dari awal, rakyat Brasil telah memandang Piala Dunia ini sebagai tragedi, di mana pemerintah lebih meminggirkan urusan perut rakyat dari pagelaran akbar tersebut. Taragedi, seperti kekalahan Brasil pagi tadi.
***

Pemain kedua kesebelasan –Brasil dan Jerman- telah berdiri dilorong, bersiap memasuki lapangan hijau. David Luiz memimpin pasukan Brasil dengan wajah tegang. Ia harus menggantikan peranan Thiago Silva yang terkena akumulasi kartu. Sementara, Phillip Lahm melangkah ke luar tanpa beban.

Bendera FIFA dikibarkan, bersama dengan bendera kedua negara yang bertanding. Pasukan Joachim Loew dipersilakan menyanyikan lagu kebangsaannya duluan. Sementara seluruh penghuni Estádio Mineirão, Belo Horizonte, hampir seluruhnya berwarna kuning diam, dan pada saatnya ramai-ramai meneriakan lagu kebangsaan mereka, Hino Nacional Brasileiro.

Marco Rodriguez, pengadil yang memimpin drama kekalahan Italia, meniupkan peluit tanda dimulainya pertandingan. Sepuluh menit pertama, permainan milik Brasil. Serangan demi serangan dilancarkan ke gawan Neuer. Tapi sial, menit kesebelas adalah milik Thomas Muller, yang melesakan bola ke gawang Julio Cesar, sekaligus mengejar torehan gol Jamez Rodriguez di papan topskor.

Menit 23, giliran Miroslav Klose yang mencatatkan namanya di papan sejarah. Ya, pemain Societa Sportiva Lazio ini telah melampaui rekor Ronaldo di topskor sepanjang masa. Brasil menerima dua pukulan sekaligus, kebobolan untuk kedua kalinya dan catatan legendanya disalip pemain bernomor punggung 11 ini.
Curva Nord stadion Olimpico Roma saat Derby Della Capitale 16 Oktober 2011 (Sumber Google)
Satu menit berselang, giliran Toni Kroos. Dan, dua menit selanjutnya, Kroos menanamkan rasa bagaimana dipermalukan di stadion yang dibangun tidak atas kehendak rakyat sendiri tersebut. Dengan latar seorang bocah menangis, seakan pilu melihat negaranya dilumat, sang komentator berucap, “Little boy is crying.”

Saya tak ingin melanjutkan review pertandingan sampai selesai, karena informasi mengenai itu bisa anda dapatkan saat anda membuka layar ponsel dalam keadaan berak dan teman anda menagih uang taruhan yang harus dibayar. Hasilnya kita semua sudah tahu. Brasil mengalami tiga kekalahan dalam satu pukulan.

Pertama adalah rakyat yang dimarjinalkan oleh pegelaran sepakbola terbesar di Bumi. Kedua adalah tim nasional sepakbola yang hampir disamakan dengan tim nasional Arab Saudi pada Piala Dunia 2002. Dan yang ketiga, sekaligus penutup; Ronaldo, yang karirnya ditutup oleh skandal seks dengan seorang waria, harus rela namanya digantikan oleh pemain SS Lazio di pencatat gol terbanyak di Piala Dunia.

Dan ingat, seluruh kejadian di semesta adalah sebuah relasi, sebab-akibat. Rakyat Brasil dari awal sudah menolak menyelenggarakan Piala Dunia. Mereka merasa tidak diperhatikan oleh negara. Apakah fungsi negara sebenarnya? Sepertinya saya harus kembali membaca pandangan kaum anarki.

Pemerintah yang memaksakan gelaran Piala Dunia harus terlaksana, menuai imbasnya. Tak hanya bagi pemerintah, tapi bagi rakyat Brasil. Kun Fayakun adalah jawabannya. Ia tidak terjadi begitu saja, tapi adalah relasi. Relasi dari semesta yang tunggal.

Dan di luar stadion, mereka masih berdemonstrasi.

Catatan: