Rabu, 09 Juli 2014

Kemenangan besar Jerman, keterkaitan dengan pilpres dan kemungkinan perang / derbi Branding

Jerman tampil amat gila semalam, mereka menggerus tuan rumah Brazil 1-7 di Estadio Bello Horizonte. Jerman sendiri menjawab keraguan saya akan sisi pragmatisnya yang membosankan. Mereka mencoba keluar dari zona nyaman dan hasilnya adalah 200 juta jiwa lebih harus merasakan kepiluan atas perlakuan Jerman. Hal ini tentu mengingatkan saya terhadap pembantaian tentara Jerman kepada kaum yahudi puluhan tahun silam. Kepiluan yang dirasakan warga Brazil dan Yahudi mungkin terlihat sama. Namun berbeda konteks.
Ketiadaan Thiago Silva dan Neymar disinyalir menjadi kerapuhan utama pertahanan dan penyerangan Brazil. Lihat saja bagaimana Kroos, Khedira, Muller, Oezil dan Klose mampu menari-nari ditengah benteng pertahanan Brazil yang dijaga jendral dadakan, kribo bangsat David Luiz. Dalam tempo setengah jam, sudah ada lima peluru tim panser yang bersarang di benteng terakhir Brazil. Sejujurnya, peperangan itu sudah selesai semenjak panser unggul lima gol.
Siapa yang bisa memprediksi kemenangan super besar ini? Saya rasa tak ada satu orangpun mampu meramalkannya. Yang saya tahu ialah, Jerman bermain dengan semestinya mereka bermain, disiplin dalam menyerang dan bertahan, seperti perpaduan Munchen dan Dortmund. Hal itu sudah cukup untuk saya tersenyum lebar.
Yang menggelikan, hasil akhir pertandingan ini dijadikan acuan siapa pemenang Capres 2014. Pendukung Prabowo mencoba menggambarkan skor 1-7 sebagai tanda bahwa presiden ke 7 Indonesia adalah nomor 1. Sementara pendukung Jokowi menandakan Skor tersebut dengan analogi 7okow1 sebagai penanda presiden Republik indonesia ke tujuh. Atau 7 (untuk pengganti huruf J pada Jokowi) dan 1 sebagai maksud RI 1, whatever. Fcuk.

Tim panser tinggal menunggu lawan berikutnya di Final. Apakah wakil Nike asal Eropa, Belanda. Atau kebanggaan Adidas asal Amerika Selatan, Argentina. Kemungkinan yang bakal terjadi di final ialah Battle of Adidas atau Battle of Branding.

Reaksi Kun Fayakun pada Kekalahan Brasil: Protes, FIFA dan Lazio

Protes rakyat Brasil (Sumber: Google)
Dari awal, sebagian rakyat Brasil memang tak setuju Piala Dunia 2014 digelar di negaranya. Pasalnya, krisis ekonomi sedang melanda negeri samba itu.

Ingat beberapa bulan lalu, ketika renovasi stadion-stadion di Brasil molor dari jadwal? FIFA sampai harus menahan tujuh persen tiket karena kapasitas stadion belum juga diketahui. Tujuh tahun yang digunakan Brasil untuk persiapan pagelaran sepakbola terbesar di Bumi ini, sia-sia.

Terkesan dipaksakan, Piala Dunia 2014 memang tak seheboh Piala Dunia sebelumnya, saat digelar di benua hitam Afrika. Theme song yang didendangkan oleh Pitbull bersama Jennifer Lopez & Claudia Leitte tak setenar Waka Waka yang dinyanyikan Shakira. Banyak bangku kosong di stadion saat babak penyisihan grup. Dan, pesta pembukaan yang payah.

FIFA menjadi kambing hitam, bulan-bulanan rakyat Brasil yang dari awal memrotes Piala Dunia ini dilangsungkan di negerinya. Menurut mereka, FIFA telah mengubah sepakbola sebagai industri. Ada bisik-bisik yang menyebutkan FIFA mendesak pemerintah Brasil untuk mengubah undang-undang tentang minuman keras, agar para sponsor minuman beralkohol dapan dengan leluasa mengedarkan produknya.

Tak berhenti sampai di situ, para demonstran juga memrotes kebijakan pemerintah Brasil, yang lebih memilih membangun stadion daripada membangun infrastruktur publik dan kelayakan upah untuk rakyat Brasil.
Sumber: Google
"Jika mereka memiliki uang untuk pembangunan stadiun Itaquerao, bagaimana mereka mengaku tidak memiliki uang yang cukup untuk publik," ujar presiden serikat buruh, Prazeres Junior, sebagaimana dikutip Infobae.com.i

Sementara itu, Menteri Negara untuk Urusan Strategis Brasil Marcelo Neri berkelit, "Ini adalah kesempatan seperti yang Anda miliki di Inggris (untuk Olimpiade 2012). (Sementara) kita memiliki potensi yang sangat besar dalam hal pariwisata namun belum berkembang dengan baik. jadi dengan ini sekaligus dapat meningkatkan pariwisata."ii

Dari awal, rakyat Brasil telah memandang Piala Dunia ini sebagai tragedi, di mana pemerintah lebih meminggirkan urusan perut rakyat dari pagelaran akbar tersebut. Taragedi, seperti kekalahan Brasil pagi tadi.
***

Pemain kedua kesebelasan –Brasil dan Jerman- telah berdiri dilorong, bersiap memasuki lapangan hijau. David Luiz memimpin pasukan Brasil dengan wajah tegang. Ia harus menggantikan peranan Thiago Silva yang terkena akumulasi kartu. Sementara, Phillip Lahm melangkah ke luar tanpa beban.

Bendera FIFA dikibarkan, bersama dengan bendera kedua negara yang bertanding. Pasukan Joachim Loew dipersilakan menyanyikan lagu kebangsaannya duluan. Sementara seluruh penghuni Estádio Mineirão, Belo Horizonte, hampir seluruhnya berwarna kuning diam, dan pada saatnya ramai-ramai meneriakan lagu kebangsaan mereka, Hino Nacional Brasileiro.

Marco Rodriguez, pengadil yang memimpin drama kekalahan Italia, meniupkan peluit tanda dimulainya pertandingan. Sepuluh menit pertama, permainan milik Brasil. Serangan demi serangan dilancarkan ke gawan Neuer. Tapi sial, menit kesebelas adalah milik Thomas Muller, yang melesakan bola ke gawang Julio Cesar, sekaligus mengejar torehan gol Jamez Rodriguez di papan topskor.

Menit 23, giliran Miroslav Klose yang mencatatkan namanya di papan sejarah. Ya, pemain Societa Sportiva Lazio ini telah melampaui rekor Ronaldo di topskor sepanjang masa. Brasil menerima dua pukulan sekaligus, kebobolan untuk kedua kalinya dan catatan legendanya disalip pemain bernomor punggung 11 ini.
Curva Nord stadion Olimpico Roma saat Derby Della Capitale 16 Oktober 2011 (Sumber Google)
Satu menit berselang, giliran Toni Kroos. Dan, dua menit selanjutnya, Kroos menanamkan rasa bagaimana dipermalukan di stadion yang dibangun tidak atas kehendak rakyat sendiri tersebut. Dengan latar seorang bocah menangis, seakan pilu melihat negaranya dilumat, sang komentator berucap, “Little boy is crying.”

Saya tak ingin melanjutkan review pertandingan sampai selesai, karena informasi mengenai itu bisa anda dapatkan saat anda membuka layar ponsel dalam keadaan berak dan teman anda menagih uang taruhan yang harus dibayar. Hasilnya kita semua sudah tahu. Brasil mengalami tiga kekalahan dalam satu pukulan.

Pertama adalah rakyat yang dimarjinalkan oleh pegelaran sepakbola terbesar di Bumi. Kedua adalah tim nasional sepakbola yang hampir disamakan dengan tim nasional Arab Saudi pada Piala Dunia 2002. Dan yang ketiga, sekaligus penutup; Ronaldo, yang karirnya ditutup oleh skandal seks dengan seorang waria, harus rela namanya digantikan oleh pemain SS Lazio di pencatat gol terbanyak di Piala Dunia.

Dan ingat, seluruh kejadian di semesta adalah sebuah relasi, sebab-akibat. Rakyat Brasil dari awal sudah menolak menyelenggarakan Piala Dunia. Mereka merasa tidak diperhatikan oleh negara. Apakah fungsi negara sebenarnya? Sepertinya saya harus kembali membaca pandangan kaum anarki.

Pemerintah yang memaksakan gelaran Piala Dunia harus terlaksana, menuai imbasnya. Tak hanya bagi pemerintah, tapi bagi rakyat Brasil. Kun Fayakun adalah jawabannya. Ia tidak terjadi begitu saja, tapi adalah relasi. Relasi dari semesta yang tunggal.

Dan di luar stadion, mereka masih berdemonstrasi.

Catatan:

Selasa, 08 Juli 2014

Menghadirkan Masa Lalu di Masa Kini

LELAKI di depan saya tak mengerti bagaimana mungkin namanya berasal dari nama mantan pacar ibunya. Lebih dari itu, ia tak mengerti mengapa ayahnya menyetujui nama tersebut. Ia mengetahui kenyataan itu dari cerita ibunya.

Yang menarik, saat si ibu bercerita, ibunya menunjukkan foto mantan pacarnya itu kepadanya. Tak hanya itu, si ibu juga menunjukkan foto mantan pacar ayahnya. Jadi, si ibu tak hanya menyimpan rekaman masa lalu dirinya, tapi juga menyimpan rekaman masa lalu ayahnya.

Teman saya itu mengaku tak memahami bagaimana cara berpikir orang tuanya dalam memandang masa lalu. Jika ayahnya lelaki biasa, tentu ia merasa ada yang tak baik-baik saja ketika istrinya memberi nama anaknya dengan nama mantan pacar si istri. Apa lagi, itu dilakukan menggunakan kesadaran penuh, juga dengan kejujuran mengungkapkan bahwa nama tersebut adalah nama mantan pacarnya.

Ibu teman saya juga tampak tak seperti perempuan biasa. Itu karena ia menyimpan foto mantan pacarnya dan foto mantan pacar suaminya sekaligus. Entah apa yang ada di pikirannya. Ketika saya tanyakan pada teman saya, ia tak tahu.

Saya mengatakan kepada teman saya, hal tersebut menandakan, ibunya tak membiarkan masa silam dirinya dan suaminya berlalu dan terlupakan. Sebab, menyimpan foto mantan pacarnya dan mantan pacar suaminya adalah usaha mengekalkan masa lalu. Dan menyamakan nama anak dengan nama mantan pacar adalah menghidupkan masa lalu itu di masa kini.

Teman saya tak tahu-menahu hal yang sebenarnya. Yang jelas, teman saya itu menceritakan hal tersebut dengan nada melawak. Wajahnya tampak biasa-biasa saja. Ia tak melihat ada masalah dari fakta di balik namanya. Tapi ia tertarik menggali lebih dalam pemikiran orang tuanya.


Day 10

Penjajah Itu Masih Ada

Buku sejarah pendidikan kita mengajarkan bahwa bangsa kita telah merdeka sejak tahun 1945, dan secara penuh diakui kedaulatannya pada tahun 1949 saat Belanda mengakui kemerdekaan. Lantas, apa sesungguhnya arti merdeka itu?

Saya tak hendak mengutip kamus besar bahasa Indonesia untuk menafsirkan kata merdeka. Namun saya ingin kembali menceritakan bagai mana Nyai Ontosoroh melawan.

Kalian ingan sosok Nyai Ontosoroh pada cerita saya sebelum ini? Ia berjuang menghadapi pengadilan Hindia-Belanda untuk mendapatkan haknya, Annelies dan perusahaan yang selama ini ia kembangkan dengan jerih payahnya.

Tampil sebagai pribumi yang menjadi korban, Nyai mendapatkan perlakuan yang sewenang-wenang di dalam persidangan. Cap ‘nyai’ memang selalu diidentikan dengan keluarga amoral. Nyai tak lebih dari gundik seorang totok, yang melulu diasosiasikan dengan seks dan kelamin. Ontosoroh pun tak lepas dari stereotip itu. Meski ia cerdas.

Bukan kekalahan Nyai di pengadilan yang ingin saya terangkan. Karena kalah itu sudah pasti. Nayai hanya ingin melawan. Namun, sikap hakim pengadilan yang memandang Nyai sebagai binatang yang menjadi persoalan.

Hakim melulu membuat pertanyaan yang sifatnya privasi dan konyol, yang jelas tak ada hubungannya dengan kasus yang dipersidangkan, hanya mencari pembenaran untuk menjadikan si korban dipandang amoral.

Cerita itu ditulis Pram dengan tegas saat berada di pulau Buru, saat menjadi tapol akibat dituduh. Dengan menggunakan latar penjajahan kolonial, Pram mengajak kita membaca sejarah dengan tidak kaku, dengan segala rasanya. Ia ingin menunjukkan bahwa penjajahan belum usai.

Jika kalian berpikir penjajah hanya bangsa ini hanya berwujud tinggi besar seperti Kompeni atau pendek, sipit dan teratur seperti tentara Jepang, maka ada yang salah dengan penafsiran kita akan kemerdekaan.

Semalam, kabar penjajahan datang lagi. Kabar yang dateng ketika media tak disiplin melakukan verifikasi.i Kabar yang datang dari sebuah blog, dari sebuah cerita dengan segala rasanya, tentang pemerkosaan.
YF, korban pemerkosaan oleh petugas TransJakarta, telah menjalani persidangan sampai tahap penuntutan. Proses pencarian bukti dilakukan YF sendirian. Ia berpengan teguh pada keyakinannya, bahwa ia telah diperkosa. Dan ia harus melawan.

Namun perlawanan, tek selamanya mudah seperti ucapan seorang motavitor terkenal. Perlawanan menghabiskan waktu, energi dan, terdakang, cemoohan.

Saya akan menyampaikan petikan pertanyaan yang dilakukan oleh hakim  dan pengacara terdakwa kepada korban;

“Saudari, pakai BH warna apa hari itu?”

“Sudah tau gampang sakit, kenapa naik kendaraan umum sendirian? Kenapa ga ditemani?”

“Saudari kan orang Aceh. Berarti muslim ya. Apa boleh seorang wanita muslim pakaiannya seperti itu?”

“Saudari kan orang berpendidikan ya? Kok orang berpendidikan kerja pakai celana pendek?

“Benarkah saudari saat itu sedang hamil dari laki-laki yang bukan suami saudari?”

“Saya mau lihat, seberapa pendek celana itu di kaki kamu.” Kebetulan celana dan baju YF dijadikan barang bukti karena ada noda sperma di pakaian tersebut. Permintaan absurd ini ditolak hakim. Bagaimana dengan jaksa? Jaksa diam saja. Saat terdakwa diizinkan untuk bertanya langsung kepada YF pun jaksa tidak mengajukan keberatan.ii

Pertanyaan yang melecehkan dan sungguh, tak ada sangkutpautnya dengan kasus yang disidangkan.

Epilog
Suatu hari, saya menonton ujian sidang teman saya untuk mendapatkan gelar sarjananya. Teman saya ini perempuan dan sudah menikah. Anaknya baru satu, dan lucu.

Saya ingat sekenanya, pertanyaan sang penguji setelah permasalahan pokok selesai dipertanggungjawabkan, “Anak kamu sekarang umurnya berapa tahun?”

“Tiga tahun, Pak,” jawab teman saya.

“Oh sudah besar ya. Sekarang lagi ngapain dia?”

“Kayaknya sih lagi tidur di rumah sama bapaknya.”

“Sekarang bapaknya yang ngelonin. Nanti malem kamu gantian ngelonin bapaknya. Hahaha..”

Dua penguji yang lain ikut tertawa. Saya diam melihat raut muka teman saya yang tak senang.

Apa masih layak kita menyebut bangsa ini merdeka?

Catatan:

Senin, 07 Juli 2014

Berhala

Saya punya pengalaman menarik terkait efek televisi. Beberapa tahun lalu, saya membeli rokok di warung. Di sana, saya mendapati perempuan penjaga warung sedang membelakangi saya karena tengah menonton sinetron di tv. Saya memanggilnya untuk memesan rokok. Lalu rasa canggung tiba-tiba hadir tatkala perempuan itu menoleh ke arah saya dalam keadaan menangis terisak. Rupanya ia menangis lantaran menonton sinetron yang waktu itu memang sedang mendapat rating yang tinggi.

Begitu gaibnya sebuah kotak bercahaya di hadapan manusia. Kotak itu bisa membuat orang menangis, tertawa, dan bahkan horny. Segala yang ada dalam kotak tersebut, seolah-olah adalah kenyataan yang utuh, penuh, dan apa adanya. Sialnya, banyak orang percaya saja.

Acara-acara tv barangkali memang berfungsi untuk memberi pengalaman atau pengetahuan yang tak bisa kita alami atau ketahui di kenyataan. Bila ingin melihat macan, kita tak perlu membuang uang untuk pergi ke Ragunan, sebab macan ada di tv. Bila ingin mengetahui kondisi luar angkasa, kita tak perlu membuang-buang tenaga naik jet, karena bisa kita lihat dengan memutar film Gravity.

Itu kenapa tv menjadi menarik, apa lagi bagi penjaga warung berusia tua yang kerjanya hanya menunggu pembeli datang. Tv menjadi menarik sejauh ia tak sama dengan kenyataan yang penonton dapat alami atau ketahui. Agar tetap menjadi menarik, tv bahkan kerap memproduksi sesuatu yang bahkan tak mungkin terjadi di kenyataan.

Namun begitulah tv. Ia memproduksi mimpi. Mimpi tentang anak remaja yang memiliki pacar seorang monyet atau seorang serigala. Mimpi tentang tukang becak berlarian di pinggir pantai sambil menggenggam tangan pacarnya yang super cantik. Mimpi, mimpi, dan mimpi.

Sampai di sini, batas antara realitas dan imajinasi pun melebur. Kita sulit membedakan mana yang fakta mana yang fiksi. Segalanya ada di tv, bahkan sesuatu yang tak ada pun, bisa ada di tv. Seluruh imaji sudah habis dilumat televisi.

Maka, seperti kata Melancholic Bitch di lagu Mars Penyembah Berhala:

Siapa yang membutuhkan imajinasi jika kita sudah punya televisi?

Karena itu, tv seperti dipuja, seperti disembah. Ia seperti berhala. Melbi pun berkhotbah di lagu itu:

Sodara… Sodara-sodara...
Sodara-sodara dalam iman
Letakkan kedua tangan sodara di layar kaca
Pejamkanlah kedua mata sodara
Dan dalam gelap itu, sodara, lihatlah satu titik cahaya di kejauhan 
Biarkan cahaya itu mendekati sodara
Lalu capailah cahaya itu, sodara, dengan kedua tangan sodara
Genggamlah ia... genggamlah ia sodara
Sebab semesta ada di tangan sodara
Sebab semesta ada di tangan sodara
Sebab semesta, sodara... telah pepat... telah pepat dalam 14 inchi 


Day 9


Akankah pertanian Indonesia mati?



Pertanian di Indonesia sempat menjadi bahan pembicaraan masyarakat dunia, khususnya Eropa. Hasil tani Indonesia sempat menjadi salah satu komoditas paling dicari oleh bangsa Eropa. Invasi Portugal ke bumi pertiwi pada tahun 1500an menjadi indikasi betapa berartinya hasil tani kita untuk mereka. Karena pada saat itu, harga hasil tani di pasar Eropa dan Afrika sangatlah mahal. Sehingga bangsa Eropa mencoba mencari alternatif lain untuk menekan pengeluaran dalam sektor pangan, yaitu dengan cara mencarinya ke belahan Asia dan Amerika Selatan. 

Awalnya bangsa Eropa hanya ingin membeli berbagai prodak pertanian dengan harga murah dan membawanya kembali ke negaranya. Lambat laun, mereka berfikir untuk menguasai segala aspek yang ada di Indonesia, tak terkecuali pertanian. Portugal, Inggris, Belanda hingga Jepang silih berganti mengoyak segala kekayaan alam bangsa tercinta ini. bahkan Belanda telah mengusai Negara ini selama 3,5 abad demi mencapai kemakmuran pribadi dan bertindak semena-mena kepada rakyat.

Kesewenang-wenangan inilah yang kemudian mengakibatkan timbulnya pemberontakan rakyat.  Revolusi dimulai dari sistem sewa pajak tanah yang diprakarsai oleh Rafless. Sang penemu Raflessia Arnoldi. Singkatnya, Rafless ingin segala bentuk hasil yang ditanam di tanah Jawa harus dikenakan biaya ekstra. Sistem ini jelas memberatkan dan membuat para petani geram. Siapa yang mau membayar pajak jika kita harus membayar hasil tani di tanah sendiri? Kebijakan Rafless ini mengakibatkan pemberontakan Jawa, atau biasa disebut perang Diponegoro.

Selain itu, ada juga sistem tanam paksa yang digagaskan gubernur Hindia Belanda saat itu, Johannes Van Den Bosch  yang mewajibkan setiap desa menyisihkan 20 % tanahnya untuk ditanami komoditi yang laku keras dipasar Eropa seperti kopi, nila dan tebu. Hasil dari tanaman komoditi ini harus dijual kepada colonial belanda dan siapapun yang tak memiliki tanah harus bekerja selama 75 hari untuk memenuhi tuntuan 20 % tersebut. Kenyataannya, warga desa harus menanam semua komoditi tersebut di lahan mereka dan warga dilarang menanam tanaman lain. Sehingga warga yang berprofesi sebagai petani tak bisa mendapatkan keuntungan dari hasil panen. Karena pemerintah Belanda menetapkan harga panen tersebut. Siapa petani yang tahan akan kebijakan tersebut. Mereka harus melawan kesewenang wenangan penjajah dengan beragam kekuatan. Mungkin inilah yang mendasari band Hardcore asal Jakarta, Srtaight Answer menciptakan athem fenomelan bagi kaum marjinal, “Bangkit melawan atau tunduk ditindas.”

Setelah era kemerdekaan. Sektor pertanian Indonesia bisa dikatakan telah mencapai puncaknya. Hal ini dikarenakan kebijakan mantan presiden Soeharto yang menerapkan sistem swasembada pangan dalam program Repelita IV. Pada tahun 1984 Indonesia berhasil menciptakan swasembada beras karena bersahil memproduksi 25,8 ton beras. Hal ini kemudian berujung pada ganjaran penghargaan dari FAO (organisasi  pangan dan pertanian dunia) pada 1985.

Runtuhnya era Orde baru akibat krisis moneter dan revolusi mahasiswa mengakibatkan terganggunya stabilitas perekomonian disegala sektor termasuk pertanian. Sektor pangan menjadi terganggu, harga pangan dan beras sebagai konsumsi pokok masyarakat merangkak naik tak terkendali. Kekhawatiran akan kurangnya pangan bagi rakyat mengakibatkan pemerintah membuka sistem impor pangan demi mestabilkan kebutuhan. Sebenarnya sistem impor sendiri sudah ada sejak era Soekarno. Namun, kecenderungan impor terjadi pada era setelah kememimpinan Soeharto.

Sebetulnya, kebijakan ini bak pisau bermata dua. Disatu sisi, stock pangan impor melimpah dan prodak lokal menjadi tebengkalai. Hal inilah yang membuat keresahan para petani. Mereka harus memutar otak sebelum memasarkan prodaknya kepasaran. Apalagi prodak impor sendiri terbilang murah. Petani semakin sulit untuk meraih pasar konsumen yang sudah terbiasa dengan barang impor, apapun jenisnya.

Kebijakan impor sendiri, jika dilihat dari sisi globalisasi sebenarnya adalah cara cepat untuk merealisasikan kebutuhan. Sekalipun kebutuhan itu sendiri tak mendesak. Dengan kebijakan impor, Indonesia sebenarnya telah mencoba menaikan status dari Negara berkembang ke Negara maju dengan mengutamakan sektor penyewaan lawan kepada asing, pajak dan devisa dari TKI sebagai landasan pemasukan Negara. Sektor pertanian seakan dilupakan. Sebab, pemerintah saat ini mungkin lebih berprinsip pada dialek lama, time is money. 

Prinsip ini mungkin benar adanya. Coba kita ukur, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk panen hasil tani? Sekalipun ada teknologi untuk mempercepat waktu panen. hal ini seakan tak digubris pemerintah. Beberapa alasan yang mungkin relevan untuk mempertimbangkan matinya sektor tani di Indonesia, diantaranya:

1)      Pemerintah lebih senang membangun beton

Di point ini, pemerintah cenderung lebih suka menyewakan tanahnya kepada asing untuk berinvestasi. Hitung saja sendiri berapa banyaknya perusahaan asing  yang berdiri di Indonesia. Singkatnya, pemerintah hanya perlu menyewakan lawan kosong tanpa fasilitas apapun. Mereka bisa mendapatkan uang lebih banyak daripada mencoba mendirikan lahan pertanian yang belum tentu bisa menghasilkan profit. Mengingat banyaknya faktor yang mengakibatkan gagalnya profit untuk pemerintah, seperti gagal panen, bencana alam, hasil panen tak laku dipasaran dan lain sebagainya.

2)      Permainan harga oleh petani

Sebenarnya hal ini jamak terjadi. Setiap sentra perekonomian pasti memiliki permainan harga masing-masing.  Terkadang, masih banyak yang menjual hasil produksinya secara berlebihan dan tak sebanding dengan kualitas produk yang dihasilkan. Hal ini sudah barang tentu membuat geram rakyat, yang bertindak sebagai konsumen

3)   Maraknya budaya gantung cangkul

Banyak dari masyarakat yang merasa profesi sebagai buruh tani tak lagi bisa menyejahterahkan. Impor yang semakin gila, keterbatasan lahan serta pudarnya ideologi sebagai petani adalah beberapa faktor yang mempengaruhi proses gantung cangkul. Para petani yang “mempensiunkan diri” tersebut lebih memilih untuk bermigrasi ke kota dan mencari pekerjaan lain yang dianggap menyejahterahkan.

Ketiga faktor tersebut secara langsung ataupun tidak dapat mempengaruhi proses matinya pertanian di Indonesia. Sekali lagi, globalisasi dan perkembangan zaman telah merubah segalanya. Tugas dari para petani yang tersisa mungkin hanyalah memperbesar setiap kemungkinan yang akan terjadi dalam dunia pertanian sehingga orang orang seperti saya tak lagi memiliki sudut kemungkinan untuk berkata bahwa pertanian Indonesia akan mati.