Rabu, 24 Oktober 2012

Tentang Kerinduan yang Tak Menemukan Tujuan


Aku telusuri kamu dari panjang siang, yang lengking mengerang rindu tentang hujan. Tapi kamu tak ada. Barangkali kamu memang tak nyata.

Kadang kalau kemudian debu-debu menyapu trotoar, aku titipkan padanya rindu supaya terbang tanpa menuju, sementara orang-orang menutup hidungnya, mobil-mobil menutup kacanya.

Tapi rindu hanya rindu seperti semua orang tau: lamunan yang terus berdetak di tik-tik hujan, renungan yang kian lapang, atau hal-hal yang membuat nyaring klakson kereta. Ia meminta menagih, satu hal yang membuatnya tabah atau bahkan gegabah.

Sesekali aku seenaknya menebakmu: mungkin kamu berada di atas batu koral pada sebuah sungai, menari-nari mengikuti bunyi arusnya yang perih. Atau mungkin kamu di pinggir gelas kopi setengah isi yang baru saja ditinggal pergi, seorang laki-laki buru-buru sambil melihat arlojinya di tangan kiri.

Kerinduanku diredam sebuah ingatan. Waktu itu temanmu pernah berkata, "dalam lakon, kita harus tak jadi diri sendiri". Ah mungkin kamu justru sedang mencari-cari, apa itu "lakon", apa itu "diri". 

Sementara rinduku tanpa menuju. Ia meminta menagih, satu hal yang membuatnya tabah atau bahkan gegabah, hingga tengadah.

Selasa, 23 Oktober 2012

Sajak Rokok Putih


Di sore hari yang cerah, di kampus yang tercinta (huaaaaaaah….), saya sedang menikmati sebuah rokok putih yang hangat beserta sebuah kopi hitam lokal terbaik. Tiba-tiba seorang kawan menghampiri dan berkata. “ Rokok lu kayak orang kaya, kok ngopinya kopi item? Caphuchinno dong harusnya,” sindirnya. 
Lepas itu kami berbicara panjang lebar dan tentunya wasting time.

Keesokan harinya saya kembali membakar rokok putih dan nongkrong bersama kawan-kawan professional time waster, seorang dari mereka mengambil sebatang rokok putih saya dari bungkusnya, “Ini rokoknya Noel (Noel Gallagher, gitaris dari grup Oasis) sama Cobain (Kurt Cobain, vokalis Nirvana), rokoknya musisi ini mah coy.” Saya hanya tertawa.

Beberapa waktu yang lalu. Seorang teman menghampiri dan saya yang sedang merokok rokok putih (lagi) kemudian membuangnya dari hadapan saya, dan mengembalikannya. Orang tersebut adalah orang “yang katanya“  anti kapitalis.

Dari beberapa kasus di atas, dengan sok tahu saya akan memberikan seedikit penjelasan.

Rokok Putih sering dibilang sebagai rokok orang kaya. Ada beberapa faktor yang menyebabkan stigma seperti itu.

Satu, rokok putih terlihat begitu ekslusif karena tak bisa diketeng (dibeli secara satuan) di warung-warung kelontong. Sekalipun ada, harganya akan lebih mahal (lima ribu rupiah, hanya dapat tujuh batang, tanyakan pada warung  di depan kampus tercinta).

Dua, jikalau diketeng, hal itu akan mempengaruhi rasa yang akan dihasilkan oleh rokok tersebut saat dibakar. Rokok putih akan terasa hambar (tak enak) jika lama terkena angin. Beda dengan rokok lainnya. Yang semakin terkena angin akan semakin enak. Karena pada dasarnya, rokok putih adalah rokok yang terbuat dari kertas yang dicampur aroma saus tembakau.

Tiga, harga rokok putih yang mahal. Sudah barang tentu hal inilah yang menyebabkan stigma tersebut muncul. Bandingkan dengan harga rokok lainnya dipasaran. Jika kita membeli di warung kelontong modern (seperti Alfa dan kawan-kawannya), harga rokok putih mencapai Rp13.500 s/d  Rp 20.000. Warung kelontong sederhana biasanya hanya menjual beberapa jenis rokok putih. Dengan kisaran harga Rp14.000 s/d  Rp15.000.

Keempat, mereka yang borjuis juga menjadi pihak yang menyebabkan “pengeksklusifan” rokok jenis ini adalah rata rata mereka menerapkan standar 4B (Blackberry, behel, belah tengah, black menthol). Hal terakhir bisa jadi acuan. Rokok menthol biasanya menjadi ajang “eksistensi“ untuk para perokok awam untuk sekedar bergaya dan tidak benar benar menyukai jenis rokok tersebut.

Rokok putih dibilang rokok musisi luar negeri karena:

Satu, di luar negeri tidak ada rokok yang terbuat dari tembakau. Karena ada perundang undangan tentang pelarangan pemakaian tembakau pada sebuah rokok. Jelas saja Noel, Cobain atau siapapun tak pernah menghisap jenis rokok lain selain rokok putih. Sekalipun ada rokok dari tembakau, harganya pasti mahal.

Dua, Slash (eks gitaris Guns and Roses) sering memainkan solo gitar seraya menghisap rokok (bisa dilihat di video Sweet Child of Mine). Mungkin hal inilah yang kerap menjadi sebuah acuan tersebut.

Tiga, Sebagian besar produsen rokok putih di negara tercinta ini (Cuih…) berasal dari luar negeri.

Rokok putih juga sering di anggap sebagai produk kapitalis karena berasal dari luar negeri. Namun sebagian besar rokok  putih di Indonesia rata-rata sudah di produksi di daerah daerah di Indonesia. Seperti Jakarta dan Bekasi. Apakah ini masih disebut sebagai produk kapitalis?  Lalu apa kabar dengan celana jeans yang biasa kau pakai setiap hari? Apakah itu bukan produk kapitalis yang selama ini kau benci?

Kebenaranku Kebenaranmu


Ilustrasi: deviantart.net

Kehidupan tidak selalu tentang baik dan buruk, benar dan salah, hitam dan putih. Namun, tak seorangpun yang berhasih menjadi satu sisi tersebut secara sempurna. Tidak ada orang yang sepenuhnya salah, begitu pula sebaliknya. Kehidupan merupakan proses menjumpai kebenaran yang sesungguhnya. Selalu abu-abu. Selalu ada toleransi.

Pertentangan terjadi ketika keegoisan kebenaran melawan segala hal yang dianggap salah. Kebenaran menurut siapa? Menurut golongan yang merasa benar dan tak mau mengakui kebenaran orang lain, karena menurutnya, kebenaran yang diperjuangkannya adalah kebenaran mutlak. Konflik mungkin tak akan terjadi bila dalam kehidupan ini tidak ada kebenaran atau mungkin dengan toleransi yang tak ada batasannya. Tapi, toleransi selalu mempunyai batas. Sayang sekali toleransi tak bisa sepenuhnya menjadi anti-tesis konflik.

OK. Mungkin saya keliru. Kebenaran mungkin memang harus ada dalam kehidupan. Tapi, kebenaran menurut siapa? Kebenaran penguasa? Kebenaran agama? Kebenaran kaum minoritas? Kebenaran feminisme? Kebenaran fasisme? Begitu banyak kebenaran dalam kehidupan kita. Begitu banyak orang yang dianggap salah atas dasar kebenaran tersebut. Begitu bahagianya mereka yang hidup atas nama kebenaran.

Lalu siapa yang paling benar? Tidak ada kebenaran yang mutlak di kehidupan ini. Yang ada hanya kebenaran atas dasar kesepakatan. Kebenaran yang diterima oleh semua pihak. Kebenaran yang tidak mengambinghitamkan yang lain. Kebenaran yang tidak melabeli predikat  “salah” secara semena-mena kepada pihak yang bertentangan. Semua ada prosesnya. Ada proses untuk merundingkan kebenaran untuk disepakati.

Ohhh... Betapa membawa masalahnya kebenaran ini. Kebenaran tulisan ini pun mungkin mengambinghitamkan Anda sebagai pembaca. Tapi hal tersebut tentu saja di luar kuasa saya. Anda yang merasa tersalahkan. Saya tidak bilang bahwa Anda keliru. Tapi tenang, kekelirauan saya masih bisa ditoleransi, saya pun akan memberi toleransi kepada Anda yang keliru secara tidak terbatas –walaupun dalam realita, toleransi selalu berbatas. Ya, masih ada toleransi sebagai kambing hitam untuk tidak menyalahkan Anda atau saya. Mungkin ini adalah keapatisan saya saat ini kepada mereka yang membicarakan tentang kebenaran. Betapapun usaha seseorang untuk membuka kebenaran, namun kebenaran sejati adalah diri kita sendiri –yang tidak semena-mena menyalahkan pihak lain, tentunya.

Senin, 22 Oktober 2012

Perasaan yang Selalu Mengintai Kenyamanan

Kau pernah merasa terasing saat berhadapan dengan orang terdekatmu, di sebuah ruang yang sebenarnya sudah tak lagi baru? Ruang yang sama seperti sebelumnya. Orang terdekat yang juga sama. Mungkin teman dekatmu, keluargamu, atau pacarmu, atau bahkan istrimu.

Tak ada masalah dengan ruang itu. Tapi seperti ada yang terpisah, terbelah, terasing, antara kau dan orang itu, meski saling berhadapan. Ganjil, sekaligus gaib.

Kau pernah?

Di sana, seperti ada jarak yang dalam, yang jauh tak terkira, tak terlihat. Tapi jarak itu ada. Sebuah perasaan membuatnya hidup. Perasaan yang selalu pantas untuk dicurigakan. Perasaan yang jika dijelaskan, akan membuatnya mati, menjadikannya bukan perasaan, lagi.

Kemungkinan merasakan itu agaknya selalu ada. Selalu mungkin. Ia adalah rasa yang tak tertangkap, karena adanya rasa-rasa yang lain. Rasa yang terabaikan, yang sebenarnya esensial. Pada gilirannya, ia akan muncul dengan mematahkan segala ketidakmungkinan di antara banyaknya kemungkinan.

Ia akan menyatakan, membuktikan: jarak, bukanlah soal ruang. Ia juga sekaligus akan mengingatkan: ada yang selalu mengintai di balik setiap kenyamanan.

Entah

Aku selalu berada di dalam tekanan yang dibuat oleh orang-orang yang tidak bisa merasionalkan akal pikir. Aku menjadi terbelenggu ketika orang tersebut mennafsirkan segala bentuk pemberontakan (yang menurutnya) indah. Aku tak akan menjadi sebuah keinginan yang pasti, hidupku akan selalu berubah setiap detik. Pemaknaan hanyalah citra, dan omongan orang-orang tak lebih dari serapah. Biarkanlah aku tetap terhina, aku teraniaya. Aku bahagia.

Kamu adalah seorang pemberontak. Anarkisme yang kau celotehkan sangat bermakna . Namun, sadarkah engkau? Pola hidupmu akan terlihat bodoh di mata ku. Kamu juga nampak tak perduli, merasa paling tiri, memapakan diri diantara sejuta kaya. Coba doktrin kami bak motivator terkini. Kamu nampak bersahaja, Kamu terindah.

Dia sangat cantik. Dia adalah elemen terpenting untuk kita. Dia bak generator kereta uap yang siap melaju pelan namun menderu kencang. Dia amat berharga, namun kita enggan untuk memilikinya. Dia bak permata termewah, lihatlah sepuasnya, jangan pegang!!! Dia amat baik dan membahagiakan hari-hari kami. Dia adalah atap kita.

Ini adalah pemaknaan yang mini tentang berharganya peran. Kita mungkin akan saling bersinergi, berkaitan dan berkesinambungan. Namun kita tak pernah sadar adanya peran kecil yang sesungguhnya nampak besar.

Sugesti, Membohongi Diri Sendiri


Dalam buku The Hidden Message in Water, ada teori yang mengatakan bahwa sugesti yang diberikan pada air akan mempengaruhi energi yang dihasilkan oleh air tersebut. Ketika air diberikan sugesti positif, air itu akan membentuk kristal yang sempurna. Sebaliknya, ketika air itu diberikan sugesti negatif, maka air tersebut tidak membentuk kristal sempurna. Namun yang lebih parah lagi bila air itu tidak diberikan sugesti, maka tidak akan terbentuk kristal sama sekali.

Dari hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa sugesti yang diberikan kepada sebuah objek akan mempengaruhi energi yang dihasilkan oleh objek tersebut. Objek tersebut akan menghasilkan energi sesuai dengan sugesti yang diberikan. Kita dapat mengatur segala sesuatu melalui sugesti yang kita berikan dan kita bisa menjadi apapun yang kita inginkan melalui sugesti itu.

Ilustrasi: istimewa

Hal ini semacam hipnosis. Kita cenderung akan selalu memberikan sugesti yang positif kepada diri kita sendiri dan selalu memberikan sugesti kepada semua orang agar menerima perilaku yang kita anggap benar. Namun pertanyaan mulai datang, apakah kita akan hidup dalam sugesti-sugesti yang dihasilkan oleh keegoisan diri sendiri? Apakah sugesti akan merubah realita yang ada? Tentu tidak.

Sugesti positif, yang menganggap diri kita adalah superman, bila diberikan atau ditanamkan secara berlebihan akan membawa kita ke arah narsisisme akut. Sugesti positif itu akan membuat kita merasa seperti superman yang mampu menghadapi segala masalah. Kehidupan kita akan terus dibayangi oleh sugesti bahwa kita adalah superman, sehingga kita akan terlena dalam sugesti kita sendiri tanpa peduli dengan realita yang terjadi. Optimis dalam pikiran, namun tidak didukung oleh perbuatan secara nyata adalah gejala narsisisme.

Hal tersebut tentu akan membuat kita semakin narsis dengan segala hal dengan hanya mengandalkan sugesti, tanpa mau berinteraksi dengan realita yang ada. Kita yang menganggap bahwa diri kita adalah superman, namun dalam realita hanyalah manusia biasa yang bila kematiannya tiba, banyak manusia-manusia biasa lain yang akan menggantikan diri kita dengan cepat.

Sugesti membuat kita hidup dalam ilusi, kebohongan, membentuk pribadi narsis yang selalu optimis tanpa kegelisahan. Namun, hakikat kehidupan hanya akan ditemukan melalui kegelisahan. Manusia yang konkret adalah manusia yang selalu gelisah dan merayakan kegelisahannya tersebut, bukan manusia yang hidup dalam sugeti, kepalsuan.