Selasa, 08 Juli 2014

Menghadirkan Masa Lalu di Masa Kini

LELAKI di depan saya tak mengerti bagaimana mungkin namanya berasal dari nama mantan pacar ibunya. Lebih dari itu, ia tak mengerti mengapa ayahnya menyetujui nama tersebut. Ia mengetahui kenyataan itu dari cerita ibunya.

Yang menarik, saat si ibu bercerita, ibunya menunjukkan foto mantan pacarnya itu kepadanya. Tak hanya itu, si ibu juga menunjukkan foto mantan pacar ayahnya. Jadi, si ibu tak hanya menyimpan rekaman masa lalu dirinya, tapi juga menyimpan rekaman masa lalu ayahnya.

Teman saya itu mengaku tak memahami bagaimana cara berpikir orang tuanya dalam memandang masa lalu. Jika ayahnya lelaki biasa, tentu ia merasa ada yang tak baik-baik saja ketika istrinya memberi nama anaknya dengan nama mantan pacar si istri. Apa lagi, itu dilakukan menggunakan kesadaran penuh, juga dengan kejujuran mengungkapkan bahwa nama tersebut adalah nama mantan pacarnya.

Ibu teman saya juga tampak tak seperti perempuan biasa. Itu karena ia menyimpan foto mantan pacarnya dan foto mantan pacar suaminya sekaligus. Entah apa yang ada di pikirannya. Ketika saya tanyakan pada teman saya, ia tak tahu.

Saya mengatakan kepada teman saya, hal tersebut menandakan, ibunya tak membiarkan masa silam dirinya dan suaminya berlalu dan terlupakan. Sebab, menyimpan foto mantan pacarnya dan mantan pacar suaminya adalah usaha mengekalkan masa lalu. Dan menyamakan nama anak dengan nama mantan pacar adalah menghidupkan masa lalu itu di masa kini.

Teman saya tak tahu-menahu hal yang sebenarnya. Yang jelas, teman saya itu menceritakan hal tersebut dengan nada melawak. Wajahnya tampak biasa-biasa saja. Ia tak melihat ada masalah dari fakta di balik namanya. Tapi ia tertarik menggali lebih dalam pemikiran orang tuanya.


Day 10

Penjajah Itu Masih Ada

Buku sejarah pendidikan kita mengajarkan bahwa bangsa kita telah merdeka sejak tahun 1945, dan secara penuh diakui kedaulatannya pada tahun 1949 saat Belanda mengakui kemerdekaan. Lantas, apa sesungguhnya arti merdeka itu?

Saya tak hendak mengutip kamus besar bahasa Indonesia untuk menafsirkan kata merdeka. Namun saya ingin kembali menceritakan bagai mana Nyai Ontosoroh melawan.

Kalian ingan sosok Nyai Ontosoroh pada cerita saya sebelum ini? Ia berjuang menghadapi pengadilan Hindia-Belanda untuk mendapatkan haknya, Annelies dan perusahaan yang selama ini ia kembangkan dengan jerih payahnya.

Tampil sebagai pribumi yang menjadi korban, Nyai mendapatkan perlakuan yang sewenang-wenang di dalam persidangan. Cap ‘nyai’ memang selalu diidentikan dengan keluarga amoral. Nyai tak lebih dari gundik seorang totok, yang melulu diasosiasikan dengan seks dan kelamin. Ontosoroh pun tak lepas dari stereotip itu. Meski ia cerdas.

Bukan kekalahan Nyai di pengadilan yang ingin saya terangkan. Karena kalah itu sudah pasti. Nayai hanya ingin melawan. Namun, sikap hakim pengadilan yang memandang Nyai sebagai binatang yang menjadi persoalan.

Hakim melulu membuat pertanyaan yang sifatnya privasi dan konyol, yang jelas tak ada hubungannya dengan kasus yang dipersidangkan, hanya mencari pembenaran untuk menjadikan si korban dipandang amoral.

Cerita itu ditulis Pram dengan tegas saat berada di pulau Buru, saat menjadi tapol akibat dituduh. Dengan menggunakan latar penjajahan kolonial, Pram mengajak kita membaca sejarah dengan tidak kaku, dengan segala rasanya. Ia ingin menunjukkan bahwa penjajahan belum usai.

Jika kalian berpikir penjajah hanya bangsa ini hanya berwujud tinggi besar seperti Kompeni atau pendek, sipit dan teratur seperti tentara Jepang, maka ada yang salah dengan penafsiran kita akan kemerdekaan.

Semalam, kabar penjajahan datang lagi. Kabar yang dateng ketika media tak disiplin melakukan verifikasi.i Kabar yang datang dari sebuah blog, dari sebuah cerita dengan segala rasanya, tentang pemerkosaan.
YF, korban pemerkosaan oleh petugas TransJakarta, telah menjalani persidangan sampai tahap penuntutan. Proses pencarian bukti dilakukan YF sendirian. Ia berpengan teguh pada keyakinannya, bahwa ia telah diperkosa. Dan ia harus melawan.

Namun perlawanan, tek selamanya mudah seperti ucapan seorang motavitor terkenal. Perlawanan menghabiskan waktu, energi dan, terdakang, cemoohan.

Saya akan menyampaikan petikan pertanyaan yang dilakukan oleh hakim  dan pengacara terdakwa kepada korban;

“Saudari, pakai BH warna apa hari itu?”

“Sudah tau gampang sakit, kenapa naik kendaraan umum sendirian? Kenapa ga ditemani?”

“Saudari kan orang Aceh. Berarti muslim ya. Apa boleh seorang wanita muslim pakaiannya seperti itu?”

“Saudari kan orang berpendidikan ya? Kok orang berpendidikan kerja pakai celana pendek?

“Benarkah saudari saat itu sedang hamil dari laki-laki yang bukan suami saudari?”

“Saya mau lihat, seberapa pendek celana itu di kaki kamu.” Kebetulan celana dan baju YF dijadikan barang bukti karena ada noda sperma di pakaian tersebut. Permintaan absurd ini ditolak hakim. Bagaimana dengan jaksa? Jaksa diam saja. Saat terdakwa diizinkan untuk bertanya langsung kepada YF pun jaksa tidak mengajukan keberatan.ii

Pertanyaan yang melecehkan dan sungguh, tak ada sangkutpautnya dengan kasus yang disidangkan.

Epilog
Suatu hari, saya menonton ujian sidang teman saya untuk mendapatkan gelar sarjananya. Teman saya ini perempuan dan sudah menikah. Anaknya baru satu, dan lucu.

Saya ingat sekenanya, pertanyaan sang penguji setelah permasalahan pokok selesai dipertanggungjawabkan, “Anak kamu sekarang umurnya berapa tahun?”

“Tiga tahun, Pak,” jawab teman saya.

“Oh sudah besar ya. Sekarang lagi ngapain dia?”

“Kayaknya sih lagi tidur di rumah sama bapaknya.”

“Sekarang bapaknya yang ngelonin. Nanti malem kamu gantian ngelonin bapaknya. Hahaha..”

Dua penguji yang lain ikut tertawa. Saya diam melihat raut muka teman saya yang tak senang.

Apa masih layak kita menyebut bangsa ini merdeka?

Catatan:

Senin, 07 Juli 2014

Berhala

Saya punya pengalaman menarik terkait efek televisi. Beberapa tahun lalu, saya membeli rokok di warung. Di sana, saya mendapati perempuan penjaga warung sedang membelakangi saya karena tengah menonton sinetron di tv. Saya memanggilnya untuk memesan rokok. Lalu rasa canggung tiba-tiba hadir tatkala perempuan itu menoleh ke arah saya dalam keadaan menangis terisak. Rupanya ia menangis lantaran menonton sinetron yang waktu itu memang sedang mendapat rating yang tinggi.

Begitu gaibnya sebuah kotak bercahaya di hadapan manusia. Kotak itu bisa membuat orang menangis, tertawa, dan bahkan horny. Segala yang ada dalam kotak tersebut, seolah-olah adalah kenyataan yang utuh, penuh, dan apa adanya. Sialnya, banyak orang percaya saja.

Acara-acara tv barangkali memang berfungsi untuk memberi pengalaman atau pengetahuan yang tak bisa kita alami atau ketahui di kenyataan. Bila ingin melihat macan, kita tak perlu membuang uang untuk pergi ke Ragunan, sebab macan ada di tv. Bila ingin mengetahui kondisi luar angkasa, kita tak perlu membuang-buang tenaga naik jet, karena bisa kita lihat dengan memutar film Gravity.

Itu kenapa tv menjadi menarik, apa lagi bagi penjaga warung berusia tua yang kerjanya hanya menunggu pembeli datang. Tv menjadi menarik sejauh ia tak sama dengan kenyataan yang penonton dapat alami atau ketahui. Agar tetap menjadi menarik, tv bahkan kerap memproduksi sesuatu yang bahkan tak mungkin terjadi di kenyataan.

Namun begitulah tv. Ia memproduksi mimpi. Mimpi tentang anak remaja yang memiliki pacar seorang monyet atau seorang serigala. Mimpi tentang tukang becak berlarian di pinggir pantai sambil menggenggam tangan pacarnya yang super cantik. Mimpi, mimpi, dan mimpi.

Sampai di sini, batas antara realitas dan imajinasi pun melebur. Kita sulit membedakan mana yang fakta mana yang fiksi. Segalanya ada di tv, bahkan sesuatu yang tak ada pun, bisa ada di tv. Seluruh imaji sudah habis dilumat televisi.

Maka, seperti kata Melancholic Bitch di lagu Mars Penyembah Berhala:

Siapa yang membutuhkan imajinasi jika kita sudah punya televisi?

Karena itu, tv seperti dipuja, seperti disembah. Ia seperti berhala. Melbi pun berkhotbah di lagu itu:

Sodara… Sodara-sodara...
Sodara-sodara dalam iman
Letakkan kedua tangan sodara di layar kaca
Pejamkanlah kedua mata sodara
Dan dalam gelap itu, sodara, lihatlah satu titik cahaya di kejauhan 
Biarkan cahaya itu mendekati sodara
Lalu capailah cahaya itu, sodara, dengan kedua tangan sodara
Genggamlah ia... genggamlah ia sodara
Sebab semesta ada di tangan sodara
Sebab semesta ada di tangan sodara
Sebab semesta, sodara... telah pepat... telah pepat dalam 14 inchi 


Day 9


Akankah pertanian Indonesia mati?



Pertanian di Indonesia sempat menjadi bahan pembicaraan masyarakat dunia, khususnya Eropa. Hasil tani Indonesia sempat menjadi salah satu komoditas paling dicari oleh bangsa Eropa. Invasi Portugal ke bumi pertiwi pada tahun 1500an menjadi indikasi betapa berartinya hasil tani kita untuk mereka. Karena pada saat itu, harga hasil tani di pasar Eropa dan Afrika sangatlah mahal. Sehingga bangsa Eropa mencoba mencari alternatif lain untuk menekan pengeluaran dalam sektor pangan, yaitu dengan cara mencarinya ke belahan Asia dan Amerika Selatan. 

Awalnya bangsa Eropa hanya ingin membeli berbagai prodak pertanian dengan harga murah dan membawanya kembali ke negaranya. Lambat laun, mereka berfikir untuk menguasai segala aspek yang ada di Indonesia, tak terkecuali pertanian. Portugal, Inggris, Belanda hingga Jepang silih berganti mengoyak segala kekayaan alam bangsa tercinta ini. bahkan Belanda telah mengusai Negara ini selama 3,5 abad demi mencapai kemakmuran pribadi dan bertindak semena-mena kepada rakyat.

Kesewenang-wenangan inilah yang kemudian mengakibatkan timbulnya pemberontakan rakyat.  Revolusi dimulai dari sistem sewa pajak tanah yang diprakarsai oleh Rafless. Sang penemu Raflessia Arnoldi. Singkatnya, Rafless ingin segala bentuk hasil yang ditanam di tanah Jawa harus dikenakan biaya ekstra. Sistem ini jelas memberatkan dan membuat para petani geram. Siapa yang mau membayar pajak jika kita harus membayar hasil tani di tanah sendiri? Kebijakan Rafless ini mengakibatkan pemberontakan Jawa, atau biasa disebut perang Diponegoro.

Selain itu, ada juga sistem tanam paksa yang digagaskan gubernur Hindia Belanda saat itu, Johannes Van Den Bosch  yang mewajibkan setiap desa menyisihkan 20 % tanahnya untuk ditanami komoditi yang laku keras dipasar Eropa seperti kopi, nila dan tebu. Hasil dari tanaman komoditi ini harus dijual kepada colonial belanda dan siapapun yang tak memiliki tanah harus bekerja selama 75 hari untuk memenuhi tuntuan 20 % tersebut. Kenyataannya, warga desa harus menanam semua komoditi tersebut di lahan mereka dan warga dilarang menanam tanaman lain. Sehingga warga yang berprofesi sebagai petani tak bisa mendapatkan keuntungan dari hasil panen. Karena pemerintah Belanda menetapkan harga panen tersebut. Siapa petani yang tahan akan kebijakan tersebut. Mereka harus melawan kesewenang wenangan penjajah dengan beragam kekuatan. Mungkin inilah yang mendasari band Hardcore asal Jakarta, Srtaight Answer menciptakan athem fenomelan bagi kaum marjinal, “Bangkit melawan atau tunduk ditindas.”

Setelah era kemerdekaan. Sektor pertanian Indonesia bisa dikatakan telah mencapai puncaknya. Hal ini dikarenakan kebijakan mantan presiden Soeharto yang menerapkan sistem swasembada pangan dalam program Repelita IV. Pada tahun 1984 Indonesia berhasil menciptakan swasembada beras karena bersahil memproduksi 25,8 ton beras. Hal ini kemudian berujung pada ganjaran penghargaan dari FAO (organisasi  pangan dan pertanian dunia) pada 1985.

Runtuhnya era Orde baru akibat krisis moneter dan revolusi mahasiswa mengakibatkan terganggunya stabilitas perekomonian disegala sektor termasuk pertanian. Sektor pangan menjadi terganggu, harga pangan dan beras sebagai konsumsi pokok masyarakat merangkak naik tak terkendali. Kekhawatiran akan kurangnya pangan bagi rakyat mengakibatkan pemerintah membuka sistem impor pangan demi mestabilkan kebutuhan. Sebenarnya sistem impor sendiri sudah ada sejak era Soekarno. Namun, kecenderungan impor terjadi pada era setelah kememimpinan Soeharto.

Sebetulnya, kebijakan ini bak pisau bermata dua. Disatu sisi, stock pangan impor melimpah dan prodak lokal menjadi tebengkalai. Hal inilah yang membuat keresahan para petani. Mereka harus memutar otak sebelum memasarkan prodaknya kepasaran. Apalagi prodak impor sendiri terbilang murah. Petani semakin sulit untuk meraih pasar konsumen yang sudah terbiasa dengan barang impor, apapun jenisnya.

Kebijakan impor sendiri, jika dilihat dari sisi globalisasi sebenarnya adalah cara cepat untuk merealisasikan kebutuhan. Sekalipun kebutuhan itu sendiri tak mendesak. Dengan kebijakan impor, Indonesia sebenarnya telah mencoba menaikan status dari Negara berkembang ke Negara maju dengan mengutamakan sektor penyewaan lawan kepada asing, pajak dan devisa dari TKI sebagai landasan pemasukan Negara. Sektor pertanian seakan dilupakan. Sebab, pemerintah saat ini mungkin lebih berprinsip pada dialek lama, time is money. 

Prinsip ini mungkin benar adanya. Coba kita ukur, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk panen hasil tani? Sekalipun ada teknologi untuk mempercepat waktu panen. hal ini seakan tak digubris pemerintah. Beberapa alasan yang mungkin relevan untuk mempertimbangkan matinya sektor tani di Indonesia, diantaranya:

1)      Pemerintah lebih senang membangun beton

Di point ini, pemerintah cenderung lebih suka menyewakan tanahnya kepada asing untuk berinvestasi. Hitung saja sendiri berapa banyaknya perusahaan asing  yang berdiri di Indonesia. Singkatnya, pemerintah hanya perlu menyewakan lawan kosong tanpa fasilitas apapun. Mereka bisa mendapatkan uang lebih banyak daripada mencoba mendirikan lahan pertanian yang belum tentu bisa menghasilkan profit. Mengingat banyaknya faktor yang mengakibatkan gagalnya profit untuk pemerintah, seperti gagal panen, bencana alam, hasil panen tak laku dipasaran dan lain sebagainya.

2)      Permainan harga oleh petani

Sebenarnya hal ini jamak terjadi. Setiap sentra perekonomian pasti memiliki permainan harga masing-masing.  Terkadang, masih banyak yang menjual hasil produksinya secara berlebihan dan tak sebanding dengan kualitas produk yang dihasilkan. Hal ini sudah barang tentu membuat geram rakyat, yang bertindak sebagai konsumen

3)   Maraknya budaya gantung cangkul

Banyak dari masyarakat yang merasa profesi sebagai buruh tani tak lagi bisa menyejahterahkan. Impor yang semakin gila, keterbatasan lahan serta pudarnya ideologi sebagai petani adalah beberapa faktor yang mempengaruhi proses gantung cangkul. Para petani yang “mempensiunkan diri” tersebut lebih memilih untuk bermigrasi ke kota dan mencari pekerjaan lain yang dianggap menyejahterahkan.

Ketiga faktor tersebut secara langsung ataupun tidak dapat mempengaruhi proses matinya pertanian di Indonesia. Sekali lagi, globalisasi dan perkembangan zaman telah merubah segalanya. Tugas dari para petani yang tersisa mungkin hanyalah memperbesar setiap kemungkinan yang akan terjadi dalam dunia pertanian sehingga orang orang seperti saya tak lagi memiliki sudut kemungkinan untuk berkata bahwa pertanian Indonesia akan mati.

Romantisme Mario Teguh dan Kepahitan Itu

Ilustrasi cover roman Bumi Manusia

Ah, mengapa engkau masih juga mengutip Mario Teguh, sayangku? Aku tahu kau sedang butuh pegangan hidup. Namun, ah, mengapa harus Mario Teguh, sayang?

Sudikah kau mendengarku bercerita tentang Minke. Tahu kau Minke? Aku ragu kau mengenalnya. Minke hidup dalam khayalan Pram. Apa? Kau juga tak kenal Pram? Pramoedya Ananta Toer?

Mungkin agak panjang untuk diceritakan. Tapi untukmu, apapun akan kulakukan, sayangku.
***

Dulu, saat kau dan aku masih dalam alam ruh, Pram hidup. Sampai kita lahir ke dunia, ia masih hidup. Sayang, ia meninggalkan kita pada usia 81 tahun, 2006 silam, saat aku masih duduk di bangku sekolah menegah pertama.

Hidupnya pahit, sayang. Ia dipenjara oleh tiga zaman. Penjara Kolonial, Orde Lama dan Orde Baru pernah dienyamnya. Hampir separuh umurnya habis dipenjara. Orde Baru mengasingkannya ke pulau Buru, sebagai tahanan politik, tanpa proses pengadilan. Sebabnya? Ia dituduh PKI.

Ah, ia hanya sebagian dari orang yang dituduh. Banyak yang lebih sial. Orang-orang yang mati di pantai. Hanya karena dituduh. Tak ada bukti. Tak ada pengadilan.

Namun, mungkin baru Pram yang meninggalkan kenangan kepadaku. Karena ia menulis. Ia menulis tentang kepahitan. Minke adalah salah satu kepahitannya.

Minke lahir dari keluarga bangsawan rendah. Beruntungnya, meskipun keturunan bangsawan rendah, ia bersekolah. Dulu, hanya keturunan bangsawan yang bisa sekolah, sayang. Priyayi. Mereka yang bukan bangsawan, bukan priyayi, bukan totok, bukan indo, hanya bisa melakukan sembah. Melawan dengan darah.

Minke sadar ketidakadilan itu. Ia memberontak. Ia menjadi enggan menyembah bangsawan, kelasnya sendiri. Dan sebaliknya, ia tak mau disembah.

Sayang, nasib Minke sungguh memilukan. Pernikahannya yang pertama, dengan gadis Indo, putri cantik yang lahir dari rahim Nyai Ontosoroh berkat air mani Herman Mallema, dipisahkan oleh jahatnya hidup.

Annelies Mallema.

Kau tahu Nyai Ontosoroh? Ia dulunya adalah gadis pribumi yang dipaksa kawin dengan Kompeni Herman Mallema oleh ayahnya, agar sang ayah mendapatkan posisi sebagai juru tulis di pabrik gula. Kawin, sayangku. Tak ada surat. Sampai lahirlah Robert Mallema dan Annelies Mallema, istri Minke.

Setelah Mallema tak lagi menjabat di pabrik gula, Nyai dan Mallema membuka usaha sendiri. Bukan Mallema yang mengembangkan, tapi Nyai. Nyai berjuang keras, menahan rasa dendam kepada keadaan, menghidupi dirinya sendiri. Nyai perlahan menjadi berubah dari gadis desa, menjadi perempuan yang gigih. Sementara Mallema hanya bisa menghabiskan uang dan waktunya di rumah pelacuran, setelah anaknya dari Belanda datang menuntuk haknya.

Mallema yang linglung, sayang. Ia sudah punya keluarga di Belanda, namun ditelantarkannya. Anak dari istri pertamanya minta haknya. Mallema linglung, sampai akhirnya mati di rumah pelacuran.

Ah, sayangku. Kau tahu, seluruh usaha yang telah dibangun oleh Nyai Ontosoroh? Saat ini, usahanya terancam. Karena itu adalah hasil dari modal Mallema. Keturunan Mallema yang diakui adalah yang berasal dari istri pertamanya, dari Belanda. Nyai Ontosoroh tak pernah resmi menjadi istri Mallema. Hanya karena surat, sayangku. Dan, memang saat itu gadis pribumi dianggap tak pantas menikah dengan totok. Ia hanya sebatas Nyai. Bukan Nyonya.

Penjajah waktu itu benar-benar rakus, sayangku. Mereka tahu, biar bagaimanapun, Robert dan Annelies pasti kebagian hak waris atas kekayaan Herman Mallema. Mereka ingin menghancurkannya.

Annelies saat itu masih berumur 16 tahun. Pernikahan dengan Minke pun hanya dilakukan secara agama. Keluarga Mallema dari Belanda memaksa hak asuh atas Annelies dari Nyai Ontosoroh, ibu yang tidak diakui pemerintahan Hindia-Belanda.

Nyai tentu tidak diam. Dia adalah perempuan cerdas. Ia melawan.

Lewat pengadilan, perlawanan dilakukan. Tapi, bagaimana? Pribumi saat itu adalah kasta terendah di dataran Hindia-Belanda. Hakim pasti memihak keluarga Mallema yang sah.

Minke pun turut melawan. Ia menulis untuk melawan. Minke menulis di koran-koran berbahasa Belanda. Namun, siapa pribumi yang bisa membaca Belanda kalau bukan Priyayi? Priyayi, sayangku, adalah antek Belanda. Hanya kaki-tangan. Berniat melawan pun, mungkin sudah gentar.

Mereka kalah. Nyai dan Minke harus dipisahkan dengan bidadarinya, Annelies.

Annelies dibawa ke Belanda untuk diasuh oleh keluarganya yang sah. Alih-alih diasuh, Annelies yang saat itu tertekan secara mental karena dipaksa berpisah dengan suami dan ibu kandungnya, diterlantarkan.

Annelies akhirnya meninggal, sayangku. Di negeri yang jauh dari suaminya, dari ibu kandungnya.

“Kita kalah, Ma,” bisik Minke pada Nyai.

“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”i
***

Lantas kau masih menggantungkan kepercayaanmu kepada Mario Teguh, sayang? Munugkin, nanti akan kulanjutkan kisah tentang kepahitan itu.

Catatan:
i Kalimat terakhir dalam roman Bumi Manusia

Minggu, 06 Juli 2014

Analisis Semi-final Piala Dunia 2014: Antara Balas dendam, perang Branding dan kapitalisme



Babak pedelapan final Piala Dunia 2014 di Brazil telah dirampungkan pagi tadi. Belanda memastikan tempat terakhir di Semifinal setelah mengandaskan Kosta Rika 4-3 via drama adu penalti. Pasukan van Gaal bukannya tak bisa membinasakan perlawanan underdog dari benua amerika utara itu melalui pertandingan gentel selama 90 menit. Namun, laskar der Orange bisa dibilang sial sepanjang pertandingan tersebut. Beberapa kali tembakan marabahaya dari Wesley Sneidjer hanya mampu menerpa mistar gawang. Tusukan maut dan berbagai aksi teaterikal si kaki kaca, Arjen Robben hanya menghasilkan beberapa tendangan bebas dan sepak pojok. Si keparat Robin van Persie pun hanya membuang-buang peluang emas. Malam itu ia tampil bak Fernando Torres ataupun kompatriotnya di United, Danny Wellbeck. Belanda juga bisa dibilang tidak cermat membaca peluang pagi tadi. Hal ini bisa dilihat dengan banyaknya offside yang mereka dapatkan. Sungguh mubazir. Sesungguhnya Gusti Allah membenci perbuatan itu.

Kemenangan Belanda atas Kosta Rika juga tak lepas dari kejeniusan Louis van Gaal. Sang meener memasukan penjaga gawang cerdas yang berasal dari tim penuh masalah, Newcastle United, Tim Krul, pada menit ke 120. Hal ini membawa sukses besar karena Krul sendiri berhasil memblock dua sepakan pemain kosta rika. Dengan hasil tersebut, Belanda akan bersua tim tango, Argentina di semifinal.

Pada Piala Dunia 1978, Argentina berhasil menghempaskan perlawanan tim tulip arahan Rinus Michells dengan skor 3-1. Piala Dunia ini juga sedikit dibumbui kontroversi karena Argentina mampu memporak-porandakan Peru dengan skor 6-0 di semifinal. Padahal, saat itu Peru memiliki  penjaga gawang kuat, Ramon Quiroga tampil gemilang serta jarang kebobolan sepanjang turnamen. Selidik punya selidik, ternyata Quiroga masih memiliki darah Argentina dan sengaja mengalah demi membuat Argentina melaju menghadapi Belanda di final.Argentina berhasil menjadi juara untuk pertama kalinya di rumah sendiri sekaligus menandai matinya total football yang diperagakan Johan Cruyff di tanah Amerika latin.

Hal inilah yang mendasari Belanda harus membalaskan dendamnya kepada tim tango. Belanda diprediksikan mampu mengatasi perlawanan yang maha kuasa Lionel Messi beserta pengikut-pengikut setianya. Belanda memiliki kolektivitas serta kerjasama tim yang baik dibandingkan Argentina yang hanya mengandalkan serangan melalui di Maria dan Messi. Apalagi di Maria sendiri diprediksikan akan absen pada partai ini. hal ini juga yang membuat Belanda sedikit diuntungkan ketimbang Argentina.

Partai lain juga diprediksikan akan berlangsung menarik kala Brazil bersua Jerman. Masih lekat dalam ingatan ketika tim samba memporak-porandakan Jerman 2-0 di Final Piala Dunia 2002. Ronaldo Luiz Nazario menjadi aktor protagonis pada laga itu, ia berhasil menyumbang satu gol ke gawang si singa Bavaria Oliver Kahn sekaligus membuatnya menjadi topskor turnamen dengan gol.
Jerman sendiri memiliki peluang  lolos lebih besar ketimbang tuan rumah. Hal itu disebabkan karena beberapa pemain kunci Brazil semisal Neymar dan Thiago Silva harus absen. Neymar harus merasakan pahitnya dunia karena kesombongannya membodohi para pemain lawan dengan skill murahannya karena fullback kolombia, Zuniga telah memberikan kenangan tak terlupakan untuk sang bocah ingusan nan tengil tersebut, Cidera fisik dan psikis. Silva sendiri harus absen lantaran menerima akumulasi kartu kuning. Pertahanan Brazil diprediksi akan rapuh karena kehilangan sosok benteng tangguh yang mampu menahan derasnya penetrasi striker-striker kelas wahid. Sebetulnya, Brazil masih memiliki sosok kribo bangsat bernama David Luiz. Namun Luiz masih kerap inkonsisten dalam bermain. Apalagi dalam partai-partai besar.

Laskar panser sendiri sebenarnya tampil amat membosankan dan kaku sepanjang turnamen ini. Setelah kemenangan 4-0  atas Portugal di partai pembuka, anak asuh Joachim Loew seakan kurang greget dalam bermain. Mereka cenderung menggunakan skema pragmatis  ala Jose Mourinho bersama Chelsea untuk mengunci hasil. Lihat saja beberapa pertandingan sebelumnya. Jerman hanya meraih kemenangan kemenangan tipis atas lawan lawannya. Padahal, der Panzer sendiri banyak dihuni oleh pemain asal Dortmund dan Munchen yang terkenal dengan skema menyerangnya. Sungguh diluar ekspektasi.

Pertandingan semifinal antara Jeman v Brazil atau Argentina v Belanda tak lepas dari pertarungan dua Apparel terkemuka di dunia, Adidas dan Nike. Adidas memiliki Argentina dan Jerman sebagai wakil. Sementara Nike menyumbangkan Brazil dan Belanda sebagai penggedor market. Kedua brand ini memiliki rivalitas yang sengit. Hal ini dimulai pada akhir 80an. Saat itu Nike sudah terkenal di kacah basket, mereka mencoba menginvasi sepakbola dengan menggaet federasi sepakbola Brazil dan Belanda sebagai mitranya- yang kebetulan hadir sebagai kontestan semifinalis Piala Dunia kali ini- Hal ini mengakibatkan Adidas memiliki kompetitor baru. Karena  sebelum Nike masuk ke ranah sepakbola, Adidas adalah sponsor tunggal dan memfasilitasi berbagai kebutuhan tim beseerta tetek bengek lainnya di turnamen empat tahunan ini.

Distribusi juara dunia pemeluk kedua brand ini cukup Sengit. Adidas sudah menyumbang beberapa juara seperi Jeman (1990), Prancis (1998) dan Spanyol (2010). Semetara Nike baru mengamit Brazil sebagai juara pada 2002. Uniknya, pada piala dunia 1998 dan 2010, Prancis dan Spanyol berhasil membuat perwakilan Nike menangis tersedu-sedu di final, Brazil dan Belanda. Semetara Brazil sendiri sebagai wakil Nike berhasil menghempaskan Jeman (Adidas) pada piala dunia 2002.

Entah disengaja atau tidak, aroma balas dendam dan persaingan kedua brand terkemuka ini menjadi bumbu baru di kejuaraan sepakbola nomer wahid ini. Siapapun juaranya nanti pasti akan membawa efek domino atas meroketnya penjualan produk mereka. Dan tentu saja kedua perusahaan ini akan terus melebarkan sayapnya pada roda konsumsi masyarakat dunia agar memiliki prodak-prodak terbaru yang nantinya akan dirilis. Sekali lagi, sepakbola adalah ladang basah untuk mempromosikan opera kapitalisme. Dan tak lama lagi kita akan mendengar seruan yang kurang lebih seperti ini, “Beli………..beli……..beli………..konsumsi……….konsumsi…………..konsumsi kami sehingga kalian dapat berpartisipasi dalam usaha anak negeri yang berjibaku untuk naik haji.”