Saya teringat dua semester lalu, saat saya masih mengambil mata kuliah Penulisan Berita. Bang Norman adalah dosen mata kuliah itu. Ia kini memimpin Redaksi Sinar Harapan.
Ia sering sekali bercerita tentang bagaimana sulitnya menjadi wartawan. Selama 14 kali pertemuan, ia hampir selalu menceritakannya. Gaya ceritanya yang antusias membuat semua mahasiswa dengan seksama menyimak.
Yang paling saya ingat saat ia bercerita bagaimana menjadi wartawan berarti juga menjadi musuh beberapa pihak. Wartawan kerap menimpa kekerasan. Tentu saja hal itu dilakukan oleh "penguasa" yang tidak menyukai keberadaannya.
Bang Norman sering berpesan agar selalu bekerja dengan hati. Hal tersebut tak hanya ia lakukan pada profesinya sebagai wartawan. Sebagai dosen, ia terlihat bekerja bukan karena uang, tapi karena kesenangan. Wajar saja jika di kelas ia begitu antusias saat membagi pengalamannya. Ia juga sangat terbuka jika diajak diskusi.
Saya mencatat sebuah kalimat yang ia ucapkan di pertemuan terakhir semester itu. Sebelumnya, ia meminta kritik dan saran dari mahasiswa, serta memohon maaf atas kesalahan yang tak sengaja ia lakukan. "Jangan takut menjadi wartawan. Menjadi wartawan memang tak mudah," ungkapnya dengan intonasi pelan. Lalu ia menaikan volumenya saat mengatakan, "tapi semua kebaikan yang dilakukan wartawan, akan dicatat Tuhan, karena membuka hal-hal yang sengaja ditutup-tutupi, yang sengaja diputar-balikkan."
Rabu, 09 Oktober 2013
Song's PoV
Pernahkah kalian mendengarkan sebuah kagu sesuai mood atau
keadaan hati kalian saat mendengarkan lagu itu? Misalnya kalo lagi jatuh cinta
kalian muter lagu-lagu yang bertema jatuh cinta. Kalo baru putus, kalian muter
lagu yang liriknya, bukannya menambah semangat move on, malah makin
mencabik-cabik perasaan kalian. Ato lagi sama temen-temen se geng ato sahabat
tersayang, kalian dengerin lagu-lagu yang bertema friendship never end. Pernah
gag?
Berlayar Menuju Suara Nyanyian Lautan
Bahtera Kehidupan oleh Amang Rahman
“Badai datang, Kapten!”
“Cepat naikkan layar! Jangan sampai kita tenggelam.”
“Aye aye, Kapten!”
Semua awak kapal sibuk di posisinya masing-masing. Ada yang
memegang kemudi, menggulung layar, menyelamatkan kawan yang tersentak ombak,
ada pula yang berlari ketadutan menuju dek kapal. Ombak yang datang tak seperti
biasanya. Kali ini mungkin bila tak sigap, kapal tua bernama Rosswood ini akan
karam. Semakin lama, ombak yang datang semakin kencang. Seluruh awak panik
sambil mulutnya berkomat-kamit sesempatnya.
Kapten David tetap tenang. Ia sudah tahu dari awal, ketika
memutuskan untuk berlayar, badai pasti akan menghalang. Sudah ratusan kali
Kapten David berlayar entah di lautan apa, dan beratus kali pula ia menghadapi
ombak yang mematikan. Namun ombak ini, terasa menyeramkan. Entah karena apa,
Kapten David memasang raut muka yang tak biasa ketika menghadapi ombak.
Dahulu, sebelum Kapten memutuskan untuk berlayar, ia adalah
anak seorang pembual di kampung halamannya. Semua warga kampung tahu kalau
ayahnya adalah seorang pengobral besar. Hanya satu orang yang percaya, yaitu
David.
Suatu hari, di tengah kebun yang melintang langsung ke arah
bukit, ayahnya pernah berkata padanya bahwa dunia di luar sungguhlah indah dan
kampung tempatnya tinggal adalah sampah. Betatupun ia tahu bahwa ayahnya adalah
penduduk asli turun-temurun dan tak pernah meninggalkan kampung halamannya, ia
percaya pada kata-kata ayahnya tanpa adanya sedikitpun keraguan.
David memulai perjalanannya saat ia sudah pernah mimpi
basah. Pertanda seseorang dewasa di kampung itu adalah dengan hadirnya mimpi
basah. Usianya mungkin masih 16 tahun, namun kemaunannya sudah bulat, mencari
sebuah lukisan yang pernah diberikan oleh ayahnya sesaat sebelum menemui ajal.
Orang-orang kampung tahu kalau lukisan itu hanyalah
angan-angan ayah David. Namun perkataan orang kampung tak pernah didengar, ia
tetap melakukan perjalanan mencari sebuah bangunan.
“Carilah bengunan ini di luar sana. Ketika kamu menemuinya,
maka keajaiban akan datang,” ingat Kapten David pada pesan ayahnya kala itu.
Hingga saat ini, ia telah melalukan pelayaran ratusan kali,
mungkin sudah tiga kali mengitari garis katulistiwa. Namun lukisan titipan
ayahnya belum juga ditemukan.
Sementara ombak masih senang menggoda kapan Rosswood yang
awaknya mulai gemetar, tak hentinya berkomat-kamit mengucapkan entah mantra
apa.
Kapten Jono masih tetap diam di haluan kapal. Dalam ketenangannya,
wajah yang tadinya murung berubah menjadi senyuman. Ia menemukan bangunan
seperti di lukisan ayahnya dalam kejauhan.
“Arahkan kapal lurus ke depan,” perintahnya kepada para
awaknya.
Lautan sepertinya sedang tak senang untuk ditunggangi satuan
kayu-kayu berisi manusia. Dari bawah ombak menghantam, memutar kemudi kapal
kembali ke belakang. Langit pun sepertinya sedang senang bersekutu dengan laut.
Badai tak lagi menyisakan ruang kering di atas kapal.
Terdengar lantunan suara-suara tak dikenal dari kejauhan,
dari tempat bangunan dalam lukisan itu berdiri kokoh. Ombak semakin kencang,
hujan semakin ramai menyerang kapal yang saat itu tunggal di sepanjang mata
memandang.
Kapten David menjadi ketakutan. Dari kayu lapisan bawah, air
laut terlihat menyembur ke atas. Semua awak yang tedinya hanya komat-kamot
sesempatnya, sekarang menghabiskan waktunya di pojok-pojok haluan sampai
buritan sembil terus menerus mulutnya bergoyang namun tak bersuara.
Yang terdengar hanyalah lantunan asing dari bangunan di
kejauhan dan suara ombak yang berkerja sama dengan hujan menenggelamkan kapal dengan
perlahan. Kapten David pun tenggelam bersama kapal Rosswood dan para awaknya.
Tak pernah ada terdengar penyesalan dalam perjalan mereka, yang ada hanyalah
suara komat-kamit tak terdengan yang menyatu dengan lautan dan asingnya lantunan
dari bangunan di seberang.
Selasa, 08 Oktober 2013
Yang Baju Merah Jangan Sampe Lolos~
Siapa yang gag kenal sama kalimat
yang gue jadiin judul itu? Iya, itu gue ambil dari nyanyiannya Kasino pas doi
sama Dono nyamar jadi pengamen disebuah restoran. Gue lupa di film mana.
Mungkin anda para viewers tau? Bisa loh ditulis di box komentar judul film nya.
Kalo mau ngasih link youtube film tersebut juga boleh. Apalagi kalo link
download torrent. ;)
Tommy yang Malang
Tommy terdiam. Ia melihat awan hitam semakin menyelimuti
fajarnya yang tak suka datang terlambat. Cahaya terang hampir tak menembus
gugusan air yang pekat. Tangannya berlumur darah, sebilah gergaji di tangang
kirinya menyaksikan sebuah kepuasan meluap-luap. Bau amis menyekap pagi yang
pengap. Dalam keremangan, Tommy mencoba mengingat kembali mengapa ia di sini.
Kala itu, hujan sedang marah pada bumi. Sudah setahun lebih
ia tak mampir menyapa tanah yang mulai terbelah. Panas semakin berkuasa saat
tak ada hujan yang biasa melawan. Tommy yang masih dalam kendungan, perlahan
keluar memalui kemaluan ibunya yang sesaat langsung meninggal.
Tommy kecil adalah manusia terbuang. Ibunya berjuang keras
mengantarkan sebuah nyawa padanya sebelum akhirnya dijemput paksa malaikat.
Bapaknya entah di mana. Mungkin maih ada, mungkin telah tiada. Konon, Ibunnya
tak pernah mencintai bapaknya. Tommy lahir dari kecelakaan yang tak pernah
diinginkan. Cerita-cerita tersebut membesarkan Tommy hingga kini. Ia tumbuh
dengan aib orang tua yang telah tiada. Sendiri Tommy mencari kebahagiaan dalam
perkumpulan anak-anak terlantar di panti asuhan.
Tak ada teman, semua mengucilkan. Bahkan dengan sesama
manusia terbuang.
Tommy begitu malang. Tak seperti nama tommy lainnya yang
menjadi pemegang tahta kala ayahnya berkuasa. Nasib nama memang tak selalu, tak
akan, sama.
Pagi itu, ia tak sempat sembahyang. Waktunya habis untuk
melamunkan asal-usul yang tak seharusnya ada. Tak seharusnya dilamunkan. Ada kebencian
yang bertambah ketika ia kembali merenungkannya. Semakin tebal. Hingga kuasa
tangannya melebihi akal sehatnya.
Sebelum memutuskan untuk tidak sembahyang, Tommy pergi ke
gudang. Gergaji itu terus memanggil, meminta untuk berkeliling mencari
ketenangan. Tommy yang kerasukan pikiran, menyembelih ratusan manusia tebuang
yang belum sempat melihat fajar menjelang hari itu.
Tak ada jerit tangis kematian. Tak ada pemberitaan besar
tentang pembantaian. Ini hanyalah kisah orang-orang malang, orang yang
terbuang.
Kulkas
Ada seekor Macan di dalam kulkas. Bagaimana cara memasukkan Gajah?
Jawabannya: buka kulkasnya, keluarin Macannya, masukkin Gajahnya.
Lalu saya punya seekor Jerapah. Bagaimana cara memasukkannya
ke dalam kulkas? Jawabannya: buka kulkasnya, keluarin Gajahnya, masukkin
Jerapahnya.
Kemudian, saya punya seekor Beruang Kutub. Bagaimana cara
memasukkan Beruang Kutub ke dalam kulkas, sementara di dalam kulkas ada seekor
Jerapah? Jawabannya: buka kulkasnya, keluarin Jerapahnya, masukkin Beruang
Kutubnya.
Tapi, sekarang saya punya seorang Perempuan Cantik dan Seksi. Bagaimana cara memasukkannya ke dalam kulkas, sedangkan di dalam kulkas
ada seekor Beruang Kutub? Jawabannya: tidak ada.
Langganan:
Postingan (Atom)
