Tidak ada Kunang-kunang di dalam bir. Ini Pamulang. Bukan Djenar Maesa Ayu ataupun Agus Noor. Kunang-kunang tak terlihat indah di Pamulang. Tetapi di Pamulang, sebaiknya minum Kuda Laut di dalam bir.
Jumat, 27 September 2013
Gengges, HIH!
Udah sebulan
ini gue bolak-balik kampus pakek motor bokap. Dan sebulanan ini gue udah bisa
nyimpulin kalo para penendara kendaraan bermotor di Jakarta tuh gag sabaran dan
annoying banget.
Kenapa gue bisa
nyimpulin gitu? Ini alasanya:
Mengais Sensasi seperti Buku Motivasi
Gambar: Tai
Buku motivasi sudah terlanjur menjamur. Tak henti sampai di
situ, akun motivasi pun merabak sampai puncaknya yang membuat kita muak untuk
mengartikan apa sebenarnya yang ditujukan. Saya tak akan membahas tentang Mario
Teguh atawa Tung Desem Waringin yang memang sudah terlalu usang. Yang paling
baru saya dengar adalah akun brengsek yang adem ayem tanpa melakukan setitik
perlawanan. Berisik namun kosong.
Ini adalah pola baru dalam motivasi; membuat orang bangga
pernah hidup, pun tempat di mana ia hidup adalah kutukan. Ya, mengatakan, “Saya
bangga kuliah di sini, alumninya brengsek-brengsek.” Lalu apa? Mari sejenak
luangkan waktu untuk membaca The Power of Terus Kenape, untuk belajar
mengatakan “Brengsek luh!” kepada akun-akun tersebut.
Hal ini yang sedang mengendalikan kita. Berkata bangga tanpa
menggali mitos yang masih belum nampak. Mari lihat lingkungan di mana kita
berdiri. Ketika obrolan masih seputar figur seseorang, maka celakalah kita. Tak
ada lagi sejarah kelam. Tak ada lagi ide. Tak ada lagi karya.
Kita yang terbuai oleh iming-iming masa lalu menjanjikan. Lupakan
tentang masa depan cerah dan gemilang ketika persoalan lokal pun tak ada yang
bicara. Mari bicara tentang sebuah tindakkan, bukan dengan sampah-sampah
motivasi ulung yang hanya koar-koar.
Persetan dengan mereka yang selalu berkedok pada kejayaan
masa lalu. Toh, pada akhirnya kita akan berjuang sendiri di jalan yang gelap
nan tak berujung.
Mari tarik nafas dalam-dalam, simpan di perut dan mulai. Brengsek
luh!
Kamis, 26 September 2013
Batas
selebihnya langit tak pernah menyangka
kalau saja
ia memiliki batas
aku akan membuktikannya
maka temukanlah lagi
aku di bumi
kalau saja
ia memiliki batas
aku akan membuktikannya
maka temukanlah lagi
aku di bumi
Tentang Obesitas dan Naik Motor
Di foto udah ada copyright-nya
Saya tidak ingin mengasihani sepeda motor yang kelelahan
membawa orang dengan berat badan berlebih. Toh motor adalah benda “mati” yang
dihidupkan oleh manusia. Dan, seberapapun manusia berusaha menghidupkan benda
mati, itu tidak akan membuat benda mati menjadi “hidup”, yang memiliki rasa.
Ah rasa. Rasa adalah salah satu unsur terpenting dalam
teater. Seorang aktor wajib hukumnya untuk mengolah rasa dalam memasuki peran
yang dimainkannya. Tanpa olah rasa, permainan tak akan hidup, dan teater adalah
ilmu tentang kehidupan. Kehidupan memiliki banyak rasa. Semua orang tahu itu. Tapi,
sedikit orang yang tahu kalau dalam menampilkan rasa tanpa adanya sebab yang
jelas dalah hal yang sulit untuk dilakukan. Bayangkan bila dalam perannya,
seorang aktor harus tertawa dengan rasa senang yang berlebih, padahal ia baru
dapat celaka dalam kehidupannya. Bagaimana? Kalau Anda mau tahu caranya, Anda
tahu harus kemana. Saya tak akan membahas tentang teater dalam tulisan ini. Tapipak!
Itu hanyalah sebuah gejolak saya tentang rasa dan teater. Jangan
dihiraukan, mari kita lanjutkan tentang obesitas dan naik motor.
Jadi begini. Teman saya ada yang obesitas dan dia bawa
motor. Motonya bebek lisensi Jepang, buatan Indonesia. Wah, susunan kata demi
kata di sini kayaknya kurang asyik. Ulang dari awal deh.
Semalam, saya ceritanya mau ke rumah teman saya yang
obesitas. Karena tidak tahu rumahnya, saya mengikutinya dari belakang naik
motor saya. Teman saya walaupun obesitas, naik motornya bahaya. Saya sering
tertinggal jauh olehnya. Tapi, di situ bahayanya. Taman saya ini tahu kalau
saya tak tahu rumahnya. Ia setiap kali menarik pedal gasnya jauh di depan saya
, lantas menengok ke belakang untuk melihat apakah saya masih ada atau tidak.
Apa yang aneh dari obesitas dan naik motor? Pertama, ia
tetap bisa melaju kencang layaknya pembalap liar di jalan yang bukan arena
balapan. Bahkan lampu merah pun sempat sekali dihajar. Untung tak tertilang
oleh polisi yang siaga di depan –mengingat setelah dia menerobos, pemotor
berikutnya yang ikut menerobos menjadi santapan polisi yang dari tadi diam di
kegelapan.
Kedua, setelah meninggalkan saya jauh di belakang, dia
selalu menengok ke belakang dengan bantuan otot lehernya yang tertutup lampisan
kulit yang berlebih. Kenapa harus menengok? Karena jangkauan kaca spion telah
terhalang oleh tubuhnya yang lebih lebar dari stang motor.
Nah, jadi apa gunanya spion untuk teman saya yang obesitas begini?
Tak ada! Selain untuk syarat memenuhi peraturan berlalu lintas. Mudah-mudahan
ada seorang inovator yang baca, atau paling tidak orang tekniklah. Biar kegelisahan
teman saya ini bisa teratasi.
Di balik badannya yang besar, ternyata teman saya menyimpan
kegelisahan. Namun, di balik kegelisahannya, ia adalah orang yang baik, karena
dengan tak bosan-bosannya menengok ke belakang untuk memastikan saya tidak
ketinggalan.
Sampailah kita di rumah teman saya ini. Dan akhirnya, kami
makan pakai ayam. “Jangan malu-malu, Bay. Belum tentu besok dapet rezeki kayak
begini lagi,” ucapnya dalam. Sialan!
Langganan:
Postingan (Atom)

