Tubuh pepat dalam bahasa. Pecah di seragam. Terjebak dalam warna. Terpenjara dalam konsep. Menggantung di tiang-tiang Kebudayaan. Mati dirayakan.
Mata mampus dalam cahaya. Dalam sinar. Dalam Jelaga. Dalam kacamata. Dalam pandang. Dalam dosa.
Ketiak terikat dalam sistem. Tewas di hadapan pasar. Hilang dalam wangi.
Kelamin raib dalam adab. Terhukum oleh tradisi.
Aku merdeka dalam cinta,
Tapi cinta terkekang,
Sempurna dalam budaya.
Senin, 30 September 2013
Tentang PKI yang Sudah Lama Pergi
Ilustrasi minjem dari Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit
Haram hukumnya memperdalam komunis, kecuali (bacalah aturan negeri kita di bawah ini baik-baik)...
Pasal 212 dan
213 RUU KUHP:
Tindak pidana terhadap Ideologi Negara
Paragraf 1
Penyebaran Agama Komunisme/Marxisme-Leninisme
Pasal 212
1. Setiap orang yang secara melawan hukum di muka umum
dengan lisan, tulisan di media apapun, menyebarkan atau mengembangkan ajaran
komunisme/Marxisme-Leninisme dengan maksud mengubah atau mengganti pancasila
sebagai dasar negara, dipidanakan dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh)
tahun.
2. Tindak pidana sebagaimana yang dimaksud dalam pada ayat
(1) yang mengakibatkan:
a. Terjadinya kerusuhan dalam masyarakat atau kerugian harta
kekayaan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun;
b. Terjadinya kerusuhan dalam masyarakat yang mengakibatkan
orang menderita luka berat dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 tahun,
atau;
c. Terjadinya kerusuhan dalam masyarakat yang mengakibatkan
matinya orang dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun.
3. Tidak dipidana orang yang melakukan kajian terhadap
ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme dengan maksud dan tujuan semata-mata
kegiatan ilmiah.
Pasal 213
Dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun setiap
orang yang;
a. Mendirikan organisasi yang diketahui atau patut diduga
keras menganut ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme;
b. Mengadakan hubungan dengan atau memberikan bantuan kepada
organisasi, baik di dalam maupun di luar negeri yang diketahuinya berasaskan
ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme dengan maksud mengubah dasar negara yaitu;
c. Mengadakan hubungan dengan atau memberikan bantuan kepada
organisasi, baik di dalam maupun di luar negeri, yang diketahui berasaskan
ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme dengan maksud menggulingkan pemerintah yang
sah."
Nb: kabar terakhir yang saya dengar, ada seorang pemuda yang
ditangkap karena memasang bendera PKI di jendela kamarnya, pun ia akhirnya
dibebaskan setelah hanya dimintai keterangan.
Minggu, 29 September 2013
Korupsi
Bagai dua sisi mata uang
Satu sisi menyenangkan
Di sisi lain, menyengsarakan
Korupsi
Mati satu, tumbuh seribu
Ditangkap satu, malah menyerbu
Satu sisi menyenangkan
Di sisi lain, menyengsarakan
Korupsi
Mati satu, tumbuh seribu
Ditangkap satu, malah menyerbu
Marah
Pada langit yang tak berujung, jatuh deras mimpi-mimpi yang kita junjung. Mimpi-mimpi yang membuat tubuh ini hidup, sekaligus mati, terjebak dalam bermacam fantasi. Inikah masa depan? Masa depan yang kita bayangkan dan kelak kita perjuangkan?
Bilamana kita sibuk dan terlupa untuk sekadar mabuk dan bercinta, mereka bilang inilah takdir. Pembangkangan adalah hal bodoh yang tersusun rapi di aturan-aturan kebudayaan. Tetapi selalu saja diri kita ingin berak dan pipis di celana, tanpa perlu berjalan menuju kamar mandi.
Lalu bagaimana kita menjalani hidup semestinya berarti menghayati hidup yang jauh di luar diri kita. Kemudian seseorang menyangkalnya. Seorang lagi ikut serta. Terus begitu, seorang demi seorang, sampai kita terbentuk untuk percaya pada jumlah. Dan keikut sertaan adalah partisipasi menjalankan apa yang disebut kebenaran.
Kemarahan yang terpendam tak pernah terungkapkan. Tapi ia menguntit kita, diam-diam mengikuti kita, seperti bayangan tubuh kita. Maka temukan dan raihlah.
Bilamana kita sibuk dan terlupa untuk sekadar mabuk dan bercinta, mereka bilang inilah takdir. Pembangkangan adalah hal bodoh yang tersusun rapi di aturan-aturan kebudayaan. Tetapi selalu saja diri kita ingin berak dan pipis di celana, tanpa perlu berjalan menuju kamar mandi.
Lalu bagaimana kita menjalani hidup semestinya berarti menghayati hidup yang jauh di luar diri kita. Kemudian seseorang menyangkalnya. Seorang lagi ikut serta. Terus begitu, seorang demi seorang, sampai kita terbentuk untuk percaya pada jumlah. Dan keikut sertaan adalah partisipasi menjalankan apa yang disebut kebenaran.
Kemarahan yang terpendam tak pernah terungkapkan. Tapi ia menguntit kita, diam-diam mengikuti kita, seperti bayangan tubuh kita. Maka temukan dan raihlah.
Monyet yang Lebih Pintar dari Manusia
Monyet yang menginspirasi penulis
Di sebuah hutan yang sangat jauh dari pusat
keramaian, bahkan tak terjamah oleh tangan manusia, ada sekelompok monyet yang
sedang berbincang tentang manusia. Mereka sedang membicarakan kemampuan manusia
yang konon katanya sangat hebat dan melebihi kecerdasan dari kawanan monyet
yang hidup di hutan belantara. Salah satu pemimpin mereka terlhat kurang setuju
bila kawanan mereka yang teramat cerdas dibandingkan dengan level kecerdasan
manusia yang tak seberapa.
“Manusia lebih cerdas dari kita? Mereka hanya
memakai insting untuk hidup, tak seperti kita yang senantiasa menggunakan akal
untuk bertindak!” seperti Iblis yang tidak mau menyembah Adam, ujar pemimpin
monyet itu.
Monyet-monyet yang lain pun hanya bertatap
mata, saling memandang satu sama lain seakan tidak mengerti akan perbincangan
yang sedang mereka bicarakan. Mereka belum pernah melihat manusia secara
langsung, hanya dari kabar burung mereka mengetahui sosok manusia. Begitu sebaliknya,
kabar tentang monyet yang lebih hebat dari manusia hanya ada dalam kata.
Ternyata, ada
monyet yang lebih hebat dari manusia.
Langganan:
Postingan (Atom)

