Rabu, 16 Januari 2013

Riko dan Keluh Kesahnya


Bila kalian sudah bosan mendengar cerita tentang Riko, yang bermimpi menjadi seorang rockstar, saya tak peduli. Yang penting, Riko tetap ber-oranggila-ria.

Malam setelah hujan berhenti mengguyur Lenteng Agung-Srengseng Sawah dan sekitarnya, Riko datang ke rumah. “Sialan, laptop gue kena virus sality. Photoshop sama Illustrator-nya pada ilang-ilangan,” keluh kesahnya saat hendak meminjam komputer saya untuk mengerjakan tugas kuliahnya.

Tugas selesai dan, seperti biasa, transaksi ilegal –entah musik, film, atau gambar- dimulai. Lebih dari sepuluh album Bob Marley saya copy dari laptop yang sudah kehilangan software Adobe portable-nya. Sebagai imbalannya, saya memberikan film-film kadaluarsa dengan subtittle-nya. Tak disangka dan tak diduga, saya menemukan tugas iklan di laptopnya. 

Apa isinya?

Riko sebagai talent, bukan lagi rockstar, tapi tetap orang gila

Sepertinya tak perlu lagi penjelasan tidak berkualitas ini, sekian dan terima kasih.

*Tulisan ini sesungguhnya adalah....

Jumat, 14 Desember 2012

Tentang Teater, Hidup, dan Menulis Kehidupan



Saya adalah orang yang tergabung dalam sebuah kelompok teater, Teater Kinasih. Baru-baru ini, kelompok teater tempat saya tergabung bengadakan sebuah diskusi tentang jurnalisme musik. Ada pro, ada kontra.

Kenapa musik? Karena semua orang suka musik, semua orang menikmati musik, dan semua orang hidup berdampingan dengan musik. Musik juga merupakan elemen penting dalam teater. Menulis tentang musik berarti berusaha untuk mengetahui tentang latar belakang teriptanya musik tersebut.

Bila memutuskan untuk mengundang pembicara yang notabennya adalah seorang teaterawan/ti, tentu yang akan senang adalah kita sepihak, sebagai kelompok teater. Animo masyarakat kampus pun tak akan besar dan akhirnya, hanya kelompok teater tersebut yang bertambah ilmunya. Teater Kinasih mencoba untuk tidak memuaskan diri sendiri.

Ada yang bilang, jika sebuah kelompok teater hanya bergaul dengan sesama orang teater, setiap nonton, nonton teater, mengadakan acara, acara teater, kita hanya akan mendapatkan teknik berteater yang baik dan benar (dan kami tentu sadar bahwa kami belum menguasai teknik itu dengan benar), dan sebagai bonus, kita hafal nama-nama pembesar teater dan dikenal dikalangan orang-orang teater.

Teater Kinasih mencoba untuk tidak terperangkap dalam arti teater yang sempit di atas, yang hanya memikirkan tentang pementasan, aktor, panggung, dll. Kemarin, Kinasih mengadakan sesuatu yang berbeda, "Bincang Musik Teater Kinasih: Jurnalisme Musik Dulu & Sekarang". Di acara yang diaselenggarakan oleh Teater Kinasih yang bekerja sama dengan webzine lokal Jakartabeat.net, juga tidak serta merta lepas dari pelajaran, yang telah didapatan dari latihan maupun masukan yang diberikan para senior (orang-orang yang lebih dahulu bernaung di Kinasih) yang hadir, tentang bagaimana mengaplikaskan ilmu teater dalam kehidupan, tentang cara membangun relasi dengan mereka yang dibilang awam dalam dunia teater, tentang mengajak masyarakat kampus mengenal Teater Kinasih yang terbuka.

Ada benang merah yang masih berkesinambungan antara teater dan menulis musik. Kalau teater itu adalah ilmu tentang kehidupan, menulis musik juga menulis menulis tentang kehidupan (setidaknya itu yang dikatakan oleh Taufiq Rahman sebagai pembicara). Kita bisa mempelajari dan menuliskan tentang kehidupan sekaligus, melalui proses berteater dan menulis.

Saya pribadi cukup puas dengan terselengaranya acara "Bincang Musik Bersama Teater Kinasih: Jurnalisme Musik Dulu & Sekarang", dan respon para peserta diskusi pun sama, puas. Semua senang dan mendapatkan sesuatu yang baru untuk dibawa pulang. Jadi, bila anda yang merasa kenal maupun awam dengan teater, mungkin perlu untuk menuliskan kehidupan.

Rabu, 14 November 2012

Harga yang sepadan untuk CD C'mon Lennon


Dua tahun yang lalu, saya pergi kesebuah toko musik independent dibilangan Jakarta Selatan. Bisa dikatakan saya sering berkunjung kemari sekedar membeli rilisan fisik, t-shirt dan berbagai pernak-pernik lain dari berbagai musisi independen. Saat saya sedang memilih milih CD di rak yang tersusun rapih, seorang penjaga kasir kemudian menghampiri, ”Coba deh lu beli ini (Album C’mon Lennon, Ketika Lalala) keren nih, lu pasti bakal suka”, cerocosnya. Waktu itu saya sekedar tahu C’mon Lennon melalui lagu ‘Aku Cinta J.A.K.A.R.T.A’, sebuah lagu yang memceritakan kecintaan C’mon Lennon akan kesebelasan sepak bola, Persija Jakarta. Timbulnya rasa penasaran dan keingintahuan yang besar, saya kemudian membeli album tersebut dan membayar di kasir. Lima puluh ribu adalah harga yang saya bayar untuk album itu. Sebuah harga yang fantastis untuk ukuran rilisan album musisi independent tanpa ada embel-embel keemasan eksklusif, dan tentunya harga yang mahal untuk ukuran kantong pelajar seperti saya, sudahlah lupakan.

Kemudian saya keluar toko dan duduk sambil menghisap sebatang rokok, sambil menghisap rokok tersebut, saya membuka keemasan CD tersebut. Terlihat cover yang menggambarkan sebuah kepolosan disana. Bagian lirik lagu dituliskan layaknya tulisan anak anak disertai berbagai gambar-gambar mini dan foto para personil semasa kecil. Saya membaca bait demi bait lirik yang ada. Kesan pertama yang muncul adalah bagaimana notasi musiknya dibuat? Mengingat liriknya terkesan tidak biasa. Penjaga kasir tadi keluar dan menyulutkan sebatang rokok ke mulutnya dan berbicara kepada saya, “ga bakal nyesel lu beli ni album, soalnya bandnya udah bubar. Ini juga barangnya tinggal dikit disini. Ditempat laen udah kaga ada” sebuah omongan yang tak bisa di amini sepenuhnya. Mengingat toko ini milik beberapa personil band independent ibukota, Ballads Of The Cliché, dan biasa mengadakan pertunjukan music musisi independent dan tentunya mereka memiliki kedekatan historis dengan para personil C’mon Lennon. Bisa saja ini adalah trik dagang mereka agar sesegera mungkin menghabiskan katalog-katalog rilisan yang sudah lama. Dan kamipun berbincang-bincang mengenai musik dan sepakbola.

Sesampainya dirumah, saya langsung memutar CD tersebut di CD player saya. Track pertama ‘Sudahkah kau minum obat’ mengalun dengan sedang. Lagu ini menceritakan tentang seseorang yang sakit dan kawannya menanyakan apakah obatnya sudah di minum. Sebuah tema yang cukup langka untuk diangkat menjadi sebuah lagu. Notasi yang cukup bisa dinikmati sekali dengar. ‘Kelinci Jantan’ adalah sebuah analogi untuk para Playboy sebagai sosok kelinci dan wortel sebagai sosok perempuan. Mereka mencoba menghaluskan perbendaharaan kata untuk menghaluskan makna yang terkandung. Atau bisa juga untuk membuat tema yang benar-benar polos. ‘Deketektif flamboyan’ tema yang cukup jarang pula untuk dituliskan. Dektektif. Bassline yang cukup unik dan menawan serta ketukan drum yang liar tersaja di track ini.’Kikuk’ lebih bercerita tentang kehidupan masyarakat kelas menengah yang berkunjung ke rumah kawan, melewati hamparan tanah lapang dan sekumpulan anak-anak yang bermain layangan di sore hari. ‘Ambulan’ yang di daulat sebagai lagu penutup mengalun absurd, gelap dan suram. Di balik semua keaneka ragaman warna yang di tawarkan C’mon Lennon. Sampai hari inipun, beberapa lagu mereka masih terselip di MP3 saya. Sebuah pilihan yang tepat untuk para penikmat musik 

Selasa, 13 November 2012

Folk, Penyederhanaan dan Sakit Generik Harlan

Folk kembali hadir ke permukaan musik yang hingar bingar, setelah era Iwan Fals dan Ebit G Ade, banyak musisi baru bermunculan. The Trees and The Wild, The Whispy Hummers, Panda Beach, Endah n Rhesa adalah beberapa nama yang mewarnai ranah musik. Folk yang saya sebutkan tadi adalah jenis yang agak sukar bila didengarkan oleh khalayak awam.

The Panasdalam hadir ke ranah musik untuk lebih menyederhanakan folk. Dengan musik yang ringan dan lirik yang jenaka menjurus kearah absurd. The PanDal (sebutan lain untuk The Panasdalam) seakan memiliki tempat di hati para pendengarnya. Tanyakan saja kepada mahasiswa Universitas Padjajaran, Sumedang, Bandung. Hampir di setiap sudut kampus dan kost-kostan disekitarnya kerap kali memutarkan tembang-tembang The PanDal.

Sir Dandy, seorang vocalist dari band rock ugal-ugalan Teenage Death Star seakan kembali menyambung nafas The PanDal. Ia mencoba peruntungan dengan bersolo karir dan merilis album Lesson #1 via Organic Record. Kesederhanaan yang dibawa Sir Dandy pada lagu-lagunya seakan menjadi sebuah Signature Disc-nya. Lagu-lagu seperti "Jakarta Motor City" , "Anggur Merah" , "Lagu itu" , "Gibson atau Epiphone" , dengan mudahnya mampu dihafalkan oleh pendengar. “Kalo liat Sir Dandy solo sama Di TDS (Teenage Death Star) kaya beda yeh, padahal mah orangnya sama” , tutur Bayu, seorang nihilis dari Srengseng Sawah. Saya juga mengutip beberapa kalimat dari Booklet TDS, Honesty is Best Policy. Mungkin hal inilah yang menjadi dasar berkarya Sir Dandy yang tulus dan apa adanya.

Pasca bubarnya moniker pop C’mon Lennon beberapa tahun lalu, praktis hanya Pugar Restu Julian (Drummer) yang memutuskan membuat band baru bernama The Dying Sirens. Semetara para personil eks C’mon Lennon tak diketahui kabarnya. Harlan Boer (Vocals) memutuskan menjadi manager Efek Rumah Kaca (2006-12) dan membuat sebuah majalah independent yang berbasis di Jakarta.

Beberapa waktu belakangan, terdengar kabar bahwa Harlan Boer merilis sebuah EP (Extendent Play) yang bertitel “Sakit Generik”. Mini album pertama dari Harlan yang bernafaskan Folk minimalis. Sebuah lagu lepasan dari Harlan di luar EP, “Jajan Rock” coba saya dengarkan. Lagu yang bercerita tentang fenomena keranjingan Vynil dari seorang Harlan Boer. Ekspektasi saya sebagai penikmat C’mon Lennon buyar. Harlan seperti memaksakan membuat lagu ini. Hasilnya kurang enak di telinga dan saya sempat berfikir, “apakah Harlan ingin menjadi Sir Dandy berikutnya? “ataukah Harlan ingin meneruskan tongkat estafet dari The PanDal? “inikah Harlan sesungguhnya tanpa ada embel-embel C’mon Lennon, The Upstairs ataupun Room V?. “Sakit Umum” mendayu dan syahdu dengan suara latar seorang wanita. Sekilas lagu ini terdengar seperti "Sudahkah Kau Minum Obat" milik C'mon Lennon. apakah lagu ini termasuk sesi selanjutnya dari "Sudahkah Kau Minum Obat", “Kiri kanan” bisa jadi sesuatu yang spesial. Harlan menuliskan tema yang jarang dan pasti tak terfikirkan sebelumnya, Sepatu. Tema seperti ini bisa jadi bom yang bisa meledak kapan saja, seperti Sir Dandy yang booming dengan lagu yang menceritakan tentang seorang petinju. Komposisi manis Harlan bersama seorang wanita teman kantornya. Vocal sang wanita sangat manis, sehingga saya ingin memutar track ini berulang-ulang.

Apapun itu, Harlan setidaknya telah membuat sesuatu yang bisa dinikmati. Terlepas dari jujur atau tidaknya  rilisan ini. Setidaknya ada hal yang membuat saya sedikit tersenyum, nafas dari C’mon Lennon masih terasa di mini album Harlan yang bernafaskan Folk minimalis.

Mengukur Media di Kampus Tercinta


Catatan berdasarkan sudut pandang tunggal yang bias dan penuh prasangka.

Kampus IISIP Jakarta, yang saya tahu, terkenal dengan sebutan kampus jurnalistik. Lulusannya banyak yang berhasil menjadi wartawan besar. Sebut saja, Andy F Noya, salah satu lulusan IISIP Jakarta yang sudah tak perlu lagi untuk diulas profilnya dalam tulisan ini. Banner yang memajang gambar mukanya di depan Kampus Tercinta cukup untuk menarik minat lulusan SMA yang tak sengaja tidak diterima di perguruan tinggi negeri.

Kampus jurnalistik, seperti bayangan banyak anak muda, pasti akan ada berbagai media di dalamnya. Isu-isu sengit dalam lingkungan sekitar, mungkin, akan dibahas menggunakan berbagai teori populer. Paham ke kiri-kirian, mungkin juga, akan menambah rasa tusukan pedang dari isi pernyataan. Namun setelah ke dalam, entah kenapa, saya merasa hampa, sepi, sedikit sekali media –dalam bentuk konvensional- beraksi. Padahal, dengan bangga, Kampus Tercinta memajang gambar muka Andy, yang notabennya adalah pekerja media, di depan kampus. 

Nanti juga saat lulus dan dapat kerja saya akan diajari caranya membuat tulisan pesanan. Oh, betapa dangkalnya pemikiran saya. Tapi tunggu dulu, saya sudah membaca dan berpikir tentang teori-teori komunikasi populer. Sampai sini, kesimpulan saya adalah, generasi saya adalah generasi pemikir tanpa tindakan.

Saya rasa tulisan ini sudah mulai mengawang jauh ke angkasa, melantur karena memang saya kurang tidur. Mungkin bila saya lanjutkan tulisan ini, akan berakhir dengan caci maki.

Tak perlulah saya mengucap sumpah serapah terhadap keadaan media di Kampus Tercinta yang sepi. Toh, masih banyak hiburan berkualitas dalam kampus, berupa pertunjukan seni dan berbagai seminar formal, yang juga merupakan media untuk menyampaikan kegelisahan. Yang pasti, mahasiswa, seperti saya, adalah masyarakat yang berkesempatan untuk menjadi intelektual yang bertindak secara independen. Pun ada kepentingan, itu hanyalah cara untuk mencari eksistensi yang alami.

Hai


Assalamu Alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh...
...................
.............
.........
.....
...
Assalamu Alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh...
.................
.............
......
Assalamu Alaikum!
...........
......
....
Assalamu Alaikum!!!!!!!!!!!
............
......
....
..
WOY! KOK GAK ADA YANG JAWAB SIH?
............................
ASSALAMU ALAIKUM!!!
.............
........
.....
SALAM ITU HARUS DIJAWAB!
.........
......
...
NIH COBA LO BACA!
 

وَإِذَا حُيِّيْتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّواْ بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيباً

“Apabila kamu dihormati dengan suatu tahiyah (selamat), maka balaslah tahiyah itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu." (QS. 4:86)