Saya punya sebuah cerita
tentang laki-laki pemalu
judulnya "Aku"
Senin, 05 November 2012
Minggu, 04 November 2012
Mengembalikan Tahta Manchester United
Manchester United
merupakan sebuah tim yang memiliki tradisi juara. Ini bisa dilihat dari
bertumpuknya gelar juara di lemari piala mereka. Manchester United bisa
dibilang sebagai salah satu tim terbaik di dunia dan para sponsorship dari
seluruh dunia melihat United sebagai media yang baik untuk mempromosikan produk
mereka.
Melihat dari segi sumber
daya pemain, United adalah sebuah klub yang mampu meracik rooster menjadi
seorang bintang dunia. Sebut saja Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, Javier
Chicharito adalah beberapa nama yang tenar. Belum lagi jika menyebut binaan
asli United yang kelak menjadi legenda seperti David Beckham, Ryan Giggs,
Neville bersaudara, Nicky Butt, Paul Scholes. Semua tak lepas dari kejelian dan
kecermatan sang manager gaek Sir Alex Ferguson.
Darah Juara mengalir
deras di dalam tubuh para punggawa United. Terlihat dari hasil klasmen musim
lalu dimana United menempel “tetangga gaduh” Manchester City dalam perebutan
juara Liga Inggris. Walaupun pada akhirnya gagal juara, Mereka mampu memaksa City
memastikan juara pada menit-menit terakhir.
Musim ini United
melakukan manuver transfer yang cukup mencenangkan. Robin Van Persie, Shinji
Kagawa Serta Alexander Buttner diangkut ke Theatre of Dreams. Sudah jelas hal
ini untuk menebus kenihilan gelar pada musim lalu. Terbukti dengan masuknya
nama-nama baru tersebut, daya gedor United musim ini semakin tak terbendung.
Terlepas dari semua
itu, musim ini menjadi sedikit anomali tersendiri bagi saya yang seorang
penikmat Liga Inggris. Dalam beberapa laga terakhir United selalu mendapatkan “hadiah-hadiah”
menarik dari wasit. Kartu merah dan penalty
seakan menjadi bumbu pelengkap bagi kemenangan United. Liverpool, Chelsea,
dan yang paling gress Arsenal adalah para korban keberpihakan korps baju hitam
kepada United.
Yang menjadi sorotan
khusus dari saya adalah laga United melawan Chelsea pada lanjutan Liga Inggris.sepekan yang lalu. Dua
kartu merah untuk Chelsea, serta gol berbau Offside dari Chicharito. Kawan saya
yang supporter Chelsea ikut angkat bicara, “ Kalo dua kartu merah masa bodo
deh, tapi gol Chicharito itu jelas offside, wasit parah banget asli”. Dan saya
juga termasuk orang yang kecewa karena bertaruh untuk Chelsea. Saya merasa di dzolimi oleh kelakuan wasit.
Ada pula supporter
Liverpool yang angkat bicara pasca kekalahan melawan United, “Gara-gara wasit,
Liverpool jadi kalah sama United. Selama sebulan gue harus makan Mie sama
Energen nih”. Dan semalam ketika saya sedikit menyaksikan pertandingan Arsenal
melawan United tiba-tiba ada tendangan penalty untuk United. Sayapun mulai jengkel
dengan hal ini dan menggerutu kepada teman saya. Dan untungnya, penalty
tersebut tak mampu dieksekusi dengan baik oleh Rooney.
Dari beberapa hal
diatas dapat dilihat jika United mengincar kembali hegemoni mereka yang hilang
musim lalu. United seakan melakukan berbagai cara untuk mengembalikan kejayaan
dengan maneuver transfer, rotasi para pemain serta yang paling parah adalah
bersekutu dengan wasit. Dan saya akan menutup tulisan yang cukup membosankan
ini dengan omongan teman saya yang cukup membuat saya tersenyum, “kalo lawan United jangan lihat permainan
sepakbolanya, tapi perhatikan siapa wasitnya”.
Menunggu Ratu Adil
Diam adalah emas. Pantas
saja kalau Gusdur almarhum, presiden Indonesia ke-empat, sering tidur saat
rapat. Beliau tahu bahwa rapat itu akan mendeg di situ-situ saja. Ujung-ujungnya
sudah bisa ditebak dan tak menemukan jalan keluar.
Ya, memang begitu
realitanya. Semua ingin memutuskan, semua punya kepentingan dalam rapat
tersebut, semua bersifat batu. Sudah jelas yang akan jadi korban. Rakyat, yang
sangat memiliki peran namun tidak memiliki kapasitas dalam mengambil keputusan,
semua sudah terwakilkan. Rakyat hanya perlu menunggu mau dibawa kemana negara
ini.
Apatisme semakin
meluas, sejalan dengan egoisme yang semakin merusak. Wajar bila banyak orang
diam. Karena, bila mereka, orang-orang yang memilih diam, bersuara, suaranya tak
akan terdengar. Betapapun segar dan brilian konsep-konsep yang dimilikinya,
kapasitasnya tak mampu untuk merubah keadaan. Jadi, lebih baik diam daripada
cuap-cuap tak ada hasilnya.
Perbedaan kelas,
dalam bentuk ekonomi, sosial, maupun intelektual, akan selalu ada. Pada
dasarnya memang kelas itu sudah ada, konon katanya di surga pun kelas-kelas itu
masih berlaku. Lalu apakah manusia-manusia kelas bawah, yang sesungguhnya
paling memiliki peran dalam sistem tersebut, memiliki kapasitas untuk
menentukan keputusan yang diambil? Ooo, itu kapasitas Anda untuk menentukan.
Kami hanya tinggal jalan mengikuti kematian.
Saya hanya perlu
menunggu Ratu Adil datang. Mungkin hari ini Ratu Adil tidak datang, mungkin
besok, atau.. tak tahulah, tapi Ratu Adil pasti datang. Namun sungguh sial. Keputusan
belum juga dibulatkan menjadi masalah yang semakin larut dan bertumpuk,
sementara janji pertemuan dengan Ratu Adil pun belum didapatkan. Tapi ia pasti
datang, mungkin ketika kita semua hanya tinggal kenangan.
Lalu apa yang akan
Anda lakukan? Ikut memutuskan atau diam? Semua tergantung kapasitas Anda. Saya
sih hanya tinggal jalan. Apa Anda masih berharap dengan luluhnya perbedaan
kelas? Hhmm memang sangat layak untuk diperjuangkan, namun itu adalah
kepercayaan. Tidakkah Anda sama egoisnya, dengan orang-orang yang memutuskan
tanpa memikirkan bawahan, bila terus memperjuangkan kemustahilan? Kembali lagi,
itu adalah kapasitas Anda untuk menntukan diri Anda sendiri.
Sabtu, 03 November 2012
Bikin Macet Lil Alamin
Barusan saya naik motor melalui jalan sempit. Macet, karena ada sebuah pengajian. Ini mungkin sudah umum. Pengajian tersebut digelar di lapangan besar. Orang-orang yang datang ke pengajian itu parkir kendaraannya sembarangan: jalan yang sempit itu semena-mena dijadikan parkiran mobil (khususnya mobil bak) dan motor. Alhasil jalanan sempit itu macet gak karuan.
Bikin macet lil alamin.
Surat Terbuka untuk yang Terkasih
Terima kasih untuk Tuhan
yang mengadirkanmu kemarin malam di acara Ulang Tahun mantan kekasihmu.
Walaupun tujuanmu datang bukanlah untukku, setidaknya aku bisa kembali
memandang wajahmu setelah sekian lama. Hal ini mungkin tak penting untukmu.
Aku sadar selama ini
kau tak menganggap kehadiranku, tak masalah buatku. Akupun sadar akan hubungan
kita yang Utopis, layaknya Istrael dan Palestina. Masalah kau menyadarinya atau
tidak, tentu aku tak tahu.
Di matamu aku adalah
seorang kakak, seorang yang kau tuakan. Aku tak meminta kau untuk menganggapku
demikian. Namun aku tahu mengapa kau menganggapku sebagai seorang kakak. Percayalah, aku bukanlah seorang yang pantas disebut kakak. Aku tak bisa
menjadi seorang kakak yang baik. Jika kau tak percaya, tanyakan kepada
adik-adik kandungku.
Tak pernah
sekalipun aku menganggapmu sebagai adik, aku menganggapmu selayaknya teman.
Teman yang bisa diandalkan disaat apapun, kapanpun, dimanapun. Sama seperti
teman pada umumnya.
Beberapa bulan
terakhir sepertinya ada perasaan yang berbeda dari diriku untukmu. Aku
merasakan kehangatan dan keintiman saat kita berbicara berdua. Aku merasa kita
telah tenggelam dalam bermacam wacana,
terlepas dari penting atau tidaknya yang hal kita bicarakan. Namun aku senang
saat berbicara denganmu, sungguh.
Akupun selalu menanti
waktu untuk kembali berbicara denganmu. Setelah pertemuan itu, aku merasa kita
menjauh. Akupun tak tahu mengapa demikian. Tentunya aku sadar, aku juga
berperan dalam menjauhnya dirimu kepadaku.
Rasa cemas selalu
hadir ketika kau tak membalas pesan singkat dariku. Apakah kau baik-baik saja,
ataukah sesuatu terjadi terhadapmu? Sekali lagi, aku tak tahu. Dan aku mulai
berfikir kau mulai menjaga jarak terhadapku, semoga saja itu hanya pemikiranku
yang tak menjadi kenyataan.
Selang waktu kembali
berputar, dan aku mulai sadar aku mulai menyayangimu sedikit demi sedikit. Aku
mencoba untuk mengungkapkan perasaanku secepatnya. Keadaan sepertinya tidak
berpihak kepadaku untuk mengutarakan hal itu.
Sejujurnya aku
menyayangimu bukan karena tanpa sebab. Aku merasa nyaman jika bisa berbicara
apa saja denganmu setiap waktu. Sepertinya berbicara denganmu akan memberikan
efek ketenangan dan rasa lega serta kepuasan tersendiri untukku.
Suatu waktu aku
benar-benar kikuk dan tak tahu harus berbuat apa, aku tak tahu dengan cara apalagi
harus bisa bertemu denganmu. Aku memang seorang pengecut yang selalu
bersembunyi dibalik apapun yang bisa menutupi kebodohanku.
Aku bukanlah
Jim Morisson ataupun Nazril Ilham yang pandai menyanyi dan memiliki daya pikat
terhadap wanita. Aku juga bukan Kahlil Gibran yang pandai merangkai kata-kata
mutiara. Aku bukan sosok kharismatik seperti Soekarno. Aku tetaplah seorang
pecundang yang tak memiliki kelebihan apapun.
Maaf jika surat ini
mengganggumu waktumu dan membuatmu jenuh dengan berbagai kata-kata di dalamnya
yang mampu membuatmu bosan dan muak. Sejujurnya aku hanya ingin mengutarakan
apa yang kurasakan. Maaf jika aku hanya mampu menuliskan perasaanku dan tak
mampu berbicara langsung kepadamu. Aku memang seorang pecundang yang akut,
untuk bicara denganmu saja aku tak mampu.
Aku harap kau
membalas surat ini dengan cara apapun, entah dengan berbicara langung maupun
membalas surat lagi kepadaku. Jika kau tak membalas surat inipun tak mengapa
buatku. Kau membacanya saja aku merasa sangat puas.
Sekian.
Sajak Kebenaran
Vox populi vox dei. Suara mayoritas adalah suara yang paling benar.
Kalau begitu, bunuh saja minoritas, biar perkara selesai. Semakin banyak rakyat
yang merasa sebagai mayoritas, yang menyebut kebenarannya adalah kebenaran
mutlak.
Rakyat yang
(merasa) mayoritas
semakin sulit untuk dikritik, semakin sensitif akan pandangan negatif. Semua pandangan mayoritas adalah benar
(titik). Tak ada yang bisa mengganggu gugat. Suara kami (mayoritas) adalah
suara tuhan. Lalu apa urusanmu? Pergi sana jauh-jauh. Nanti kalau lama-lama di
sini kau bisa mati. Kau hanyalah minoritas, makhluk hidup yang tak pantas
memperjuangkan kebenarannya. Makhluk yang harusnya mengikuti kami, mayoritas.
Egoiskah kami? Apakah
boleh kami membunuh minoritas untuk kebenaran kami? Salahkah kami
memperjuangkan kebenaran bagi orang yang lebih banyak? Hah? Anda jangan diam
saja. Bicara! Bertindak! Jangan menjadi pengecut, yang mondar-mandir lalu
menganggukkan kepala, tanda sepakat. Apa Anda tak ingin memberontak? Tak ingin
memperjuangkan kebenaran yang anda percayai?
Ambilah senjata. Isi
otak kalian dengan pemahaman. Cari tahu dulu apa arti kebenaran. Sudah ketemu? Mari
kita serang orang-orang yang memaksakan ketuhanannya!
Tusuk matanya. Robek
kulitnya. Jangan lupa, karatkan terlebih dahulu tongkat besimu sebelum kau
tancapkan ke jantungnya. Jangan beri mereka kesempatan. Hancurkan, sampai
mereka kesakitan dan menemukan kebenaran, kematian.
Sampai jumpa
kawan-kawan. Dahulu kita bermain bersama, melewati lembah, menghirup ganja sampai berkhayal tentang surga. Namun
kita saling berlawanan, saling menghancurkan. Aku adalah tuhanku dan kau adalah
tuhanmu, kebenaranmu. Sampai jumpa. Sampai jumpa di kematian, kebenaran.
Jakarta, November
2012
Langganan:
Postingan (Atom)

