Senin, 29 Oktober 2012

Aljabar: Menjabarkan Diri Sendiri




Catatan seorang penonton lakon Aljabar.

Lampu panggung menyala, terlihat seorang lelaki setengah baya duduk sedang menyelesaikan lukisannya, dan seorang perempuan yang mulai mengantuk dan terus mengajak untuk tidur. Mereka berdua adalah pelukis yang sedang mencapai titik kejenuhan dalam mengahadapi kegelisahan hidupannya. Melalui lukisan, mereka menuangkan seluruh kegelisahan itu.

Namun ketika mereka mencoba untuk melukiskan dirinya sendiri, hasilnya pasti kabur dan tidak sesuai dengan  yang mereka inginkan. Sampai pada akhirnya mereka sadar bahwa mereka belum bisa memahami dan memaknai dirinya sendiri. Dengan hidup yang begitu singkat, mereka pesimis untuk dapat mengetahui arti hidup mereka.

Dua pelukis yang diperankan mencoba untuk mewakili kegelisahan masyarakat saat ini. Masyarakat terkadang menjadi tidak berdaya menghadapi kerasnya persaingan hidup dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sampai pada akhirnya, mereka hanya bisa meratapi kegelisahannya dan menyalahkan kehidupan sebagai biang keladinya.

Lakon yang dibawakan oleh Teater Cinta Lakon ini merupakan representasi mereka terhadap kehidupan masyarakat saat ini. Lakon Aljabar menjadi menarik karena mereka sedang menjabarkan tentang kegelisahan yang mereka rasakan dalam sebuah lukisan. Menjabarkan diri sendiri berarti memahimi diri sendiri secara keseluruhan. Dengan mengenal diri sendiri, tentu akan lebih mudah untuk menikmati kegelisahan yang sedang melanda.

Menelanjangi Makna I Love You


Semua orang tahu apa makna I Love You. Tapi apakah I Love You akan tetap pada maknanya jika susunan di dalamnya dilucuti satu persatu hingga telanjang?

Sekarang saya ingin coba menelanjanginya, dengan cara melucuti huruf-huruf yang membentuk kalimat itu, yang membuatnya memiliki makna.

Pelucutan ini dilakukan dengan dua cara dan sembilan tahap. Cara pertama, dengan menghapus huruf-hurufnya dari depan ke belakang. Cara ke dua, sebaliknya.

Sembilan tahap tersebut seperti di bawah ini:

1) I Love You
2) Love You
3) ove You
4) ve  You
5) e You
6) You
7) ou
8) u
9)

Barusan saya menghapus huruf-huruf dalam kalimat "I Love You" dengan cara pertama (dari depan). Sekarang saya ingin coba menghapusnya dengan cara ke dua (dari belakang).

1) I Love You
2) I Love Yo
3) I Love Y
4) I Love
5) I Lov
6) I Lo
7) I L
8) I
9)

Coba simak hal di atas dengan seksama. Kalimat itu menjadi bentuk-bentuk baru, menjadi makna baru. Tapi, menelanjanginya dari depan atau belakang, di tahap kesembilan, yang ada hanyalah kekosongan. Lalu apa?

Ransel

Jika engkau seorang guru
Timbanglah isi ransel Ku
Dengan begitu kau tak akan pernah tahu
Seberapa berat pikiran Ku
Karena keterbatasanmu
Tak akan mampu menimbang ketidakterbatasan Ku

Minggu, 28 Oktober 2012

Nasionalisme, untuk Negara ini adalah Pertanyaan


Hari ini, hampir semua orang di Indonesia melakukan cara memperingati sumpah pemuda dengan mengisi kemerdekaan. Sebuah langkah yang meluncurkan dua pertanyaan dari saya pribadi, apakah benar nasionalisme di Negara ini hanya berlangsung pada 17 Agustus serta 28 Oktober? Dan saat kebudayaan Indonesia di klaim oleh Malaysia. Yang saya liat sepertinya demikian.

Dalam pelajaran SD yang bernama PPKN (Pendidikan, Pancasila dan kewarganegaraan), kita sering mendengar bagaimana mengisi kemerdekaan. Seperti menyambung cita cita bangsa, belajar dengan tekun untuk meraih cita-cita, berpartisipasi dalam membela negara dan masih banyak lagi. Kenyataan yang ada justru hampir tak semua poin-poin di atas bisa dipenuhi oleh banyak orang  (termasuk saya peribadi). Semua orang telah sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Siang tadi di twitter, “Selamat Hari Sumpah Pemuda” menjadi trending topic.Hal ini menunjukan kesemuan nasionalisme orang-orang Indonesia yang hanya bisa mengisi nasionalisme dengan bicara atau menjadikan hal itu sebagai Tren Populer, atau yang paling menyedihkan jika mereka berusaha untuk mewujudkan “Selamat Hari Sumpah Pemuda” sebagai Trending Topic nomor satu di Twitter, untuk membuktikan kepada dunia virtual kalau hari ini adalah hari bersejarah bagi bangsa Indonesia? Lantas jika dunia sudah tahu, mengutip pertkataan teman saya yang popular “ terus kenape?”.

Atau beberapa waktu yang lalu, ketika semua orang mendadak menjadi sosok-sosok Nasionalis saat kebudayaan Indonesia diklaim oleh Malaysia. Semua orang mendadak menjadi marah dan anti terhadap Malaysia, celotehan tentang “Ganyang Malaysia”, membakar bendera Malaysia, sampai membuat akun page di Facebook yang berjudul “Anti Malaysia”. Apa yang mereka hasilkan dari aksi-aksi tersebut? Omong kosong dan sinisme yang berlebih muncul ke permukaan. Sebetulnya ada solusi yang cukup baik bila kita benar-benar benci dan anti terhadap Malaysia. Kenapa mereka tidak mendatangi Kedutaan Besar Malaysia dan membakarnya? Itu adalah saran yang kongkrit dari saya daripada terus berteriak-teriak anti Malaysia.
Ini adalah sebuah pandangan saya, semua orang pasti akan berbeda pendapat dengan saya. Dan saya akan menerima itu. Maaf jika tulisan ini terlalu ofensif dan menyindir beberapa pihak. Jika memang ada pihak yang tersinggung oleh tulisan ini, saya pribadi tak peduli.

Ps : Tulisan ini akan semakin nikmat bila dibaca sambil mendengarkan Kenyataan Dalam Dunia Fantasi – Koil. Saya menyarankan hal ini bukan semata saya adalah fans Koil, melainkan sebuah perpaduan yang pas antara kedua hal tersebut.

Masih Layakkah Memperingati Sumpah Pemuda?



Pertama   : Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah   Indonesia.

Kedoewa  : Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga      : Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Apakah Anda masih ingat isi dari sumpah pemuda? Blablabla.... Saat ini sumpah pemuda tidak lebih dari sebuah slogan palsu, yang pada akhirnya kita semua telah melanggarnya. Ya, kita semua telah menjadi pelacur. Pelacur yang malang, yang menjajakan dirinya untuk mendapatkan nilai tukar yang sepadan, atau lebih tepatnya yang menguntungkan.

Kami, putra-putri Indonesia, yang selalu bangga terhadap Indonesia hanya dalam kata-kata, hanya dalam ucapan. Rakyat Indonesia meneriakkan cinta Indonesia. Saya pun meneriakkannya. Tapi, tak terlihat adanya perbuatan nyata. Atau mungkin saya yang kurang peka?

Kami, putra-putri Indonesia berbangsa satu, bangsa yang apatis ketika para kapitalis asing terus menghisap darah bangsa ini. Putra-putri yang semangat membela rakyat ketika muda dan lupa setelah dekat dengan penguasa. Power tends to corrupt.

Kami, putra-putri Indonesia mengaku berbahasa satu, bahasa yang dimengerti dari media massa dan enggan membongkarnya. Hanya terus menerima tanpa memperbarui intelektualitas dalam diri sendiri. Kami, putra-putri Indonesia yang hidup dalam mitos-mitos yang diciptakan melalui bahasa media massa.
Kami, putra-putri Indonesia yang perlahan akan menjadi tua dan bersenang-senang sebagai penguasa. Lupa dengan perjuangan ketika muda. Dan memang nyatanya sumpah ini hanya berlaku bagi pemuda. Setelah tua, langgar saja. Toh, tak ada kutukan yang membuat sumpah ini menjadi sakral.

Masih kurang lacur apa? Mudah-mudahan masih ada putra-putri Indonesia yang mempunyai dan menyebarkan harapannya tentang Indonesia kepada orang yang (kadang) sinis seperti saya.

Sabtu, 27 Oktober 2012

Beberapa Jam menjelang Derby Merseyside....


Derby (pertarungan kedua tim sekota) merupakan suatu hal yang biasa terjadi pada pertandingan sepak bola.Pembuktian menjadi yang terbaik di kota tempat sebuah klub berada seakan menjadi harga mati. Rivalitas bisa saja bermuara pada kecemburuan prestasi, status sosial masyarakat sebuah kota, atau yang paling parah adalah masalah agama. Seperti yang terjadi di Derby Old Firm (Glasgow Rangers vs Glasgow Celtic di Liga Skotlandia).

Sangat banyak derby yang sarat akan gengsi dan emosi, sebut saja derby Manchester, derby Della Madoninna, derby Della Capitale, dan dua derby yang akan terjadi beberapa jam nanti Merseyside derby dan Little Derby London (Arsenal vs QPR). Merseyside derby adalah derby paling menarik dan ditunggu (setidaknya untuk malam ini). Karena akan menjadi pertaruhan siapa pemilik kota Liverpool untuk hari ini.
Menilik dari statistik pertemuan, Liverpool jelas diunggulkan daripada Everton. Dari tabel  klasmen sementara Barclays Premier Legue (BPL) Everton Berada di Peringkat empat, sementara Liverpool masih mencari kenyamanan tempat di papan tengah. Namun hal ini tak menjadikan rivalitas kedua tim menjadi lembek. Gengsi tetap akan menjadi suguhan yang menarik beberapa jam lagi.

Sejujurnya, kedua fans dari kedua tim merupakan fans yang sabar. Terbukti dengan dukungan fans yang tak pernah surut saat Liverpool maupun Everton melakukan pertandingan dimanapun. Khusus untuk Liverpool, fans merekalah yang amat sabar, mengutip perkataan seorang kawan di Twitter beberapa waktu lalu “Gara-gara wasit, Liverpool jadi kalah lawan United. Selama sebulan gua harus makan Mie sama Energen nih,”. Entah kesabaran atau sikap pasrah

Bila dilihat pertandingan nanti malam adalah pertandingan derby yang bersahabat. Karena banyak anggota keluarga kedua supporter yang membagi dukungan untuk kedua kesebelasan. Artinya,  warna merah dan biru akan saling berdampingan di tribun penonton. Sebuah hal yang amat jarang terjadi di laga derby. Sekalipun ada, itu bukan laga derby, melainkan sebuah pernyataan semu sebagai “saudara sedarah” yang kerap dilontarkan supporter Persija Jakarta dan Arema Indonesia.

Di kampus tercinta, sangat banyak Mahasiswa / I yang mengenakan Jersey Liverpool. Hampir disetiap sudut kampus saya melihat fenomena itu. Sebuah fanatisme yang luar biasa (ataukah ingin dipandang garang dengan warna merah khas Liverpool ? Entahlah). Yang jelas, setiap saya mengenakan Jersey Everton di kampus, selalu ada stigma negatif dari mereka. Sampai pernah ada kejadian seorang Liverpooldian Meneriakan saya “We are Evertoniaaaan”, Fuck Sekali. Namun itu hebat. Dan saya bisa mengkoreksi satu hal, Liverpooldian tadi bukan merupakan fans sejati Liverpool, Karena ia telah berkata “We are Evertonian”.

Prediksi dari Koran Olahraga terkemuka menyebutkan peluang kedua tim 50-50, yang berarti kedua tim seimbang. Ini sangat tepat. Derby tak melulu melihat sebuah peringkat, penurunan permainan, cidera pemain, ataupun skorsing pemain. Derby tetaplah derby. Derby adalah sebuah rivalitas yang tak akan usai sampai kapanpun. Karena bagi mereka yang melakukan derby mungkin akan memiliki stigma berikut “masih ada darah yang harus dibayar”