Jumat, 04 Juli 2014

Petasan dan Ramdhan



Ramadhan tiba. Menurut pak ustad dekat rumah saya, di bulan ramadhan setan-setan akan dikurung demi menjaga kesucian bulan ini. Saya turut mengamini, karena selama bertahun-tahun berpuasa, saya belum melihat penampakan setan ataupun sekutunya di bulan puasa. Sungguh. Di era pandemonic seperti sekarang ini, ssetan menjadi hal yang tabu untuk diperbincangkan. Mungkin mereka hanya bisa ditemui di lokasi-lokasi uji nyali berhadiah jutaan rupiah. Itupun hanya kasat mata. Tak pernah lebih dari 10 detik.

Kesucian bulan ini cukup terlihat di wilayah rumah saya. Hampir sepanjang Galur hingga Tanah Tinggi tak ada lagi open bottle untuk Anggur merah, Ciu, ataupun berbagai jenis miras lainnya. Semua sudah tersimpan rapat, serapat perasan hatinya untukku. Namun kesucian bulan ini cukup terganggu dengan maraknya booth-booth petasan disepanjang jalan kampung yang membelah Galur hingga Kramat Sentiong. Booth semacam ini selalu ramai akan pembeli. Mayoritas pembelinya adalah anak dibawah umur yang suka akan hingar bingar ledakan. Adakah ini indikasi calon penerus bangsa khususnya di wilayah Tanah Tinggi dan sekitarnya hendak menjadi pengantin bom bunih diri yang kian marak terjadi? Entahlah.

Petasan dan ramadhan adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Entah siapa yang memulai era ini. Yang jelas, keberadaan petasan sangat meresahkan. Ledakan demi ledakan bisa terjadi kapan saja. Saya seakan merasakan sketsa konflik mini ala Timur Tengah di wilayah yang super asri ini. Apalagi keadaan jantung saya saat ini sudah sangat lemah untuk menerima bebunyian keparat itu.

Harga yang murah menyebabkan semua orang bisa mengkonsumsi benda terkutuk itu. Satu bundel petasan korek misalnya, biasa dibandrol 7-10 ribu. Petasan ini menjadi favorit anak-anak, karena bisa diketeng. Filosofi bermain petasanpun cukup aneh menurut saya, jika Fc Barcelona menerapkan tiki-taka dalam permainannya, maka petasan biasanya lebih kepada sistem kick and rush. Bakar-ledak-dan senang. Saya mungkin terlalu awam untuk menikmati filosofi tersebut. Sungguh. Namun konsepsi kebahagiaan seseorang tak bisa ditakar dengan apapun. Jadi biarkan saja.

Sesungguhnya, memebeli petasan adalah sesuatu yang mubazir. Dan perbuatan mubazir adalah perbuatan setan. Sesungguhnya setan masih ada di bulan suci ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar