Kamis, 03 Juli 2014

Menginternasionalkan FPI



FPI adalah sebuah ormas yang berlandaskan Islam dalam menjalankan keorganisasiannya. Hal ini bisa dilihat dari cara mereka berbusana dan menata diri. Banyak dari anggotanya memiliki janggut panjang seperti kambing pada umumnya. Janggut panjang sendiri, menurut beberapa orang adalah stereotip seorang muslim. Entah saya harus percaya atau tidak akan persepsi tersebut.

Mereka kerap melakukan dakwah yang biasa disosialisasikan ke masyarakat. Menurut seorang sepuhnya, Habib Rieziq, dakwah FPI bisa dibilang “agak keras.” Hal ini bisa dilihat dengan rajinnya mereka merazia tempat yang disinyalir sebagai lembah dosa. Mereka biasa berdakwah dengan cara memporakporandakan tempat yang menjadi sumber kehidupan bagi sebagian orang yang tak begitu percaya dengan koorporasi kerja ala kantoran, yang mungkin akan mengikat mereka dalam rutinitas yang menjemukan. Dalam dakwahnya di tempat-tempat tersebut, FPI biasanya menyebut nama tuhan. Berarti, FPI masih memiliki tuhan. Terlepas dari perilaku keras mereka dalam mensyiarkan kebenaran.

Pada dasarnya, dakwah FPI tidak bisa dibilang salah, namun juga tidak bisa dibenarkan begitu saja. FPI mungkin saja sudah memberitahu secara baik-baik, namun mereka yang memiliki tempat usaha tidak mendengarkan. Terpaksalah FPI bertindak radikal bak hooligan yang kecewa karena tim kesayangannya kalah oleh sang rival. Radikalitas tersebut yang membuat FPI kerap di cap buruk oleh masyarakat. Jika ingin lebih bijak, mereka bisa saja berdiskusi dengan pengelola tempat usaha, dengan kepala dingin sembari menyeruput beberapa gelas teh manis dan kentang goreng. Tentunya hal ini tak akan menyebabkan kerugian kepada pengelola. Karena pada dasarnya, properti usaha dunia malam sangat mahal.

Namun ada sebuah hal yang sangat saya sayangkan. Mengapa FPI hanya berani menindak para pengelola usaha yang jelas tak memiliki kekuatan sebanding dengan mereka. Mengapa mereka tak membantu membela islam dengan ikut berperang di Jalur Gazza melawan penindasan kaum zionis. Bukankan zionis adalah musuh islam? Apakah karena FPI lahir di Indonesia sehingga menyebabkan mereka hanya memiliki mental jago kandang? Jika memang jago kandang menjadi sebuah alasan, saya memiliki sebuah gagasan untuk mematikan stigma tersebut.

FPI telah memiliki landasan yang kuat dalam berorganisasi. Jika mereka ingin menginternasionalkan nama mereka, mereka bisa saja mencoba untuk mendiukung sebuah klub sepakbola dan memiliki paham agamis dalam menudukung klub. Supporter Glasgow Rangers dan Celtic cukup berhasil menerapkan paham agamis mereka. Rangers berdiri dengan paham katoliknya, sementara Celtic tetap teguh pada paham protestan. Kedua supporter tersebut telah diakui sebagai supporter yang amat menakutkan bagi kawan maupun lawan. Bedanya, mereka tidak turun langsung ke lapangan untuk membela agama mereka. FPI jelas memiliki sebuah keunggulan untuk membela agamanya secara berlebih.

Bisa saja FPI memulai mendukung sebuah klub lokal. menaggalkan gamis, dan sorban,  stick baseball dan batu yang biasa mereka bawa dalam dakwahnya. Kemudian mereka bisa menggantinya dengan flare, smokebomb, bass,tom dan snare drum, Parka, Harrington, Jeans ,Buckethead dan Adidas  dan brass knucle saat ke stadion. Mereka cukup melontarkan lafaz-lafaz suci sebagai chant mereka. Niscaya, tim lawan tak akan berani mengintimidasi balik mereka. Atau jika perlu, mereka harus memulai pengembangan namanya dengan ikut menyaksikan partai persahabatan antara tim dunia melawan tim Indonesia dengan membawa attitude yang saya jelaskan diatas. Dengan demikian, sorotan media dunia secara langsung akan mengarah kepada mereka. Dan secara langusung, mereka akan mendapatkan nama mereka di mata Internasional.

Setelah mendapatkan status tersebut, bisalah mereka berkolektif ria untuk membawa tim yang didukungnya ke tanah Istrael. Mereka bisa menjadikan Maccabi Tel Aviv ataupun Maccabi Haifa sebagai lawan tanding mereka. Bisa dipastikan match tersebut akan sangat keras, melebihi derby sepakbola manapun di belahan dunia. Jika memang telah hal tersebut terjadi, ultras-ultras dengan paham apapun di seluruh belahan dunia niscaya akan ada dibawah kaki mereka.

Status sudah didapat, pengakuan sudah, lantas sekaranglah saatnya membela islam dengan cara menghancurkan Istrael bersama sekutunya.  Jika memang mereka kurang kekuatan, mereka bisa saja meminta bantuan para ultras dunia untuk membantu misi mereka yang suci, menjaga perdamaian dunia dari belenggu Amerika dan Istrael. Apabila halitu bisa terjadi, Hitler dan Musollini ataupun Putin akan mencium kaki para pejuang FPI dengan anggun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar