Minggu, 13 Oktober 2013

Sepucuk Surat untuk Evan Dimas

Wahai kau Evan Dimas, aku menonton pertandinganmu saat melawan Korea Selatan yang takluk dalam guyuran hujan. Malam ini, aku sempatkan untuk menulis surat ini. Semoga kau membaca.

Tak kusangka, di balik wajahmu yang lemas, engkau memiliki napas yang tak kunjung henti. Larimu seperti harimau, goyanganmu seperti lebah, sujud syukurmu seperti manusia. Engkau adalah persatuan yang sempurna.

Tak ingin aku melewati untuk memujimu malam ini. Sungguh.

Sebenarnya, aku bukanlah orang yang bisa menulis surat untuk manusia yang kupuja. Aku tidak bisa menulis kata mesra. Ah bajingan kepada wasit yang memberikan penalti dan tendangan bebas untuk Korea Selatan. Harusnya kita bisa menang tiga kosong. Tapi itulah pertandingan. Janganlah kau menaruh dendam pada wasit itu, meskipun dia seorang Malaysia. Sayanglah, Dimas.

Hey Dimas, aku sungguh merasa malu. Tadinya aku ingin memasang taruhan untuk Korea Selatan. Namun, hati nurani ini melarangku untuk jangan. Beruntunglah aku. Engkau mencetak hat-trick ke gawang Korea Selatan dengan tembakan dari mukamu yang lemas, hingga Korea tak jadi menang.

Dimas, namamu seperti nama temanku. Dulu temanku pernah dipukuli oleh bapaknya karena disangka minum minuman keras di depan sekolah. Ternyata bapaknya salah. Yang mabuk di depan sekolah adalah temannya Dimas, bukan Dimas. Tapi tetap saja, muka temanku sudah babak belur dipukuli. Ah, kasihan sekali. Semoga nasibmu tidak seperti temanku.

Evan Dimas, aku melihat komentarmu di berita. “Semua bisa dikalahkan, kecuali Tuhan.” Begitu kira-kira bunyinya. Semoga saja, engkau dapat mengalahkan PSSI, dan bahkan Menpora yang sungguh tak indah mukanya untuk di tampilkan dalam tulisan ini. Oh Dimas, doaku selalu untukmu. Tidak janji, namun akan kuusahakan.

Satu lagi, Dimas. Janganlah engkau tergiur untuk menjadi bintang iklan sebuah merek makanan, yang sebenarnya rasanya enak, namun tak memilik tim kreatif iklan yang baik. Nanti pasti kau akan disuruh nyanyi. Namun semua keputusan ada di tanganmu. Jangan sampai kau menyesal.

Mungkin hanya sampai di sini aku dapat menyapamu. Jangan dengarkan komentator-komentator di layar kaca pertandinganmu disiarkan. Karena komentator adalah kosong, dan kau adalah isi. Isi dan kosong, semoga saja memiliki banyak perbedaan.

Dimas, di paragraf terakhir ini akan kutuliskan namamu dengan sebuah rasa, kebanggaan. Evan Dimas, engkau, ..ah, sudahlah!

Sabtu, 12 Oktober 2013

In Your Mind

Hati-hati, Blog Ini Jualan Pelet dan Susuk


Tak disangka tak diduga, apalagi mendapatkan uang dari sang pemasang iklan, ternyata blog ini, blog tempat kami mencari kebenaran, ternyata menjual barang yang selama ini kami cari.

Sedang malas berunding. Sudahlah.

Perjalanan Mabuk

berjalanlah menyusuri angin
menembus gedung pencakar langit
menerjang ombak-ombak lautan
mengitari samudra
dan bermuara pada senja
di seberang dunia
singgah meneguk anggur
lalu berjalan lagi
mabuk
menuju matahari

Jumat, 11 Oktober 2013

Polisi Mengingatkan Saya dengan Babi

Tadi siang polisi menilang di rel kereta tempat di depan kampus saya. Saat itu saya hendak membeli bubur di seberang kampus saya.

Saya dan anda tentu saja tak punya kepentingan apa-apa dengan polisi. Maka slogannya yang melindungi dan mengayomi masyarakat hanyalah omong kosong belaka. Polisi hanya melindungi negara. Mereka hanya mengayomi para pemilik modal. Keberadaannya tak akan pernah berpihak pada masyarakat.

Di tengah penilangan itu, saya sempat berdebat alot. Polisi memang selalu menjengkelkan. Tai kucing lah liputan di media massa mengenai polisi-polisi cantik atau pun yang baik hati.

Perdebatan itu mengingatkan saya dengan Babi. Babi yang saya maksud adalah sebuah cerpen dari Romi Zarman di Koran Tempo 17 Oktober tiga tahun lalu.

Agar jelas mengapa pengalaman saya dengan polisi itu bisa terhubunga dengan ingatan saya mengenai Babi, maka simaklah sendiri cerpen ini: klik.

Aku Ya Aku


Aku lelah
Akan semua kepalsuan
Dan kepura-puraan
Yang harus selalu kuhadapi setiap hari

Haruskah aku juga berpura-pura?
Seperti yang mereka lakukan
Agar mereka mau menerima aku?

Tapi
Siapa mereka?
Membuat aku harus meninggalkan
Jati diriku yang sebenarnya

Aku tidak butuh mereka
Aku ya aku
Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri
Seutuhnya