Sabtu, 14 September 2013
Minggu, 23 Juni 2013
Membangun karir lewat jalur mandiri
Jakarta, 21 Juni 2013
Zakarias Suharto (45), satu
dari sekian banyak wiraswasta yang sukses meraih kesuksesan di dunia bisnis
percetakan. Ia sempat menimba ilmu Desain Grafis di Institut Kesenian Jakarta
namun urung menyelesaikannya. “Sederhana saja sih, kalo di dunia desain kan
gimana cara kita buat kreatif. Saya sudah menguasai dasar desain dan tahu
step-stepnya. Buat saya, gelar
menjadi tak penting jika kita sudah tahu apa yang mau kita kerjakan,” tuturnya.
Ia mengawali karir sebagai
desainer prodak di salah satu perusahaan percetakan di bilangan Tanah Abang,
Jakarta Pusat. Disana, Karirnya tidak bertahan lama karena tempatnya bekerja
mengalami kebangkrutan medio 1996.
“Tahun 1996 merupakan awal
yang mengerikan untuk saya. Saat itu perusahaan banyak memberhentikan
pekerjanya dikarenakan sulitnya membayar gaji karyawan. Saya hanya mendapatkan
pesangon seadanya. Padahal waktu itu, saya memiliki seorang anak yang masih
kecil,” Tukas pria kelahiran Cirebon, Delapan Mei 1967.
Ia memulai usaha
percetakannya sendiri dengan nama Artolini. “Nama itu sebenarnya diambil dari
nama panggilan saya waktu kecil, Arto,.Sementara huruf sisanya (olini)
merupakan karangan saya saja. Aslinya saya ingin menulis Art-o-line, namun
karena terlalu rumit, saya singkat menjadi Artolini,” Jelasnya.
Dengan modal awal Rp 200.000
dan sebuah sepeda motor, ia membuka usahanya. “Waktu itu saya menyewa sebuah
rumah dikawasan Kramat Soka,Senen, untuk kegiatan produksi. Saya bekerja berdua
bersama sepupu saya.Ppendistribusian barang saya lakukan sendiri dengan
mengantarkan langsung ke pelanggan di kawasan industri Kerawang dengan sepeda
motor.”
“Jika mengantarkan langsung
prodak ke pelanggan, setidaknya bisa menjalin silahturahmi dengan mereka. Dan
bisnis tak melulu bicara soal uang, melainkan juga kedekatan dan keeratan dari
masing masing pihak yang berkutat di dalamnya,” tandasnya sambil menyeruput kopi.
Di awal tahun 2000, Zakarias mulai melebarkan sayap
bisnisnya. Ia membeli sebuah rumah di kawasan kalibaru, Jakarta Pusat demi melancarkan
kegiatan produksinya. “Sebenarnya saya lebih senang di tempat yang lama, karena
banyak kenangannya. Namun tempat itu sudah dibeli orang lain dan saya harus
mencari tempat baru.” Jumlah pekerjanya meningkat menjadi tujuh orang dan
memudahkan proses peroduksi sebuah barang / jasa. “Bisa meringankan beban saya
sih intinya, jadi ngga grasak-grusuk kaya dulu lagi,” Ujarnya sambil tertawa
kecil.
Banyaknya karyawan tak
mempengaruhi proses pendistribusian barang, semuanya tetap ia laksanakan
sendiri tanpa menggunakan jasa pengiriman barang. “Bisa saja sebenarnya saya
menggunakan jasa pengiriman barang, namun ya itu tadi, saya tetap ingin
menjalankan silahturahmi dengan para pelanggaan. Saya juga menetapkan prinsip
itu kepada para pekerja saya.”
“Usaha kadang tak selalu
berjalan baik. Pada tahun 2002, saya mendapat order dari perusahaan Korea
Selatan. Mereka memesan banyak kalender dan buku panduan perusahaan, namun
mereka cuma membayar setengah dari harga kesepakatan. Sejak saat itu, saya
berfikir ulang jika mendapat order dari perusahaan Korea,” tukasnya.
Menurutnya, pahit manis dalam
dunia bisnis merupakan hal yang biasa terjadi. “Sama seperti roda aja sih,
berputar terus. Bisnis, kehidupan dan apapun itu pasti akan mengalami pasang
surut dan kejadian-kejadian di luar perkiraan.”
Tahun 2007, ia kembali
harus pandah karena tempatnya yang lama, di Kalibaru terlalu sulit untuk
dijangkau oleh para customernya yang kian banyak. “Agak bingung juga kalau ada
customer yang mau ke kantor. Karena
letaknya di dalam gang dan nama jalan kalibaru itu ada banyak. Mau ngga mau,
saya atau pekerja saya suka jemput customer di suatu tempat,” jelas pria
berzodiak Taurus ini.
“Tempat yang sekarang sih
udah lumayan bisa di jangkau sama customer. Karena tempatnya strategis dan
gampang buat akses kendaraan. Semoga saja ini tempat terakhir saya dan tidak
pindah-pindah lagi.” Tukasnya lagi.
Untuk pendapatan omset dari
bisnis yang dijalaninya, ia merasa amat cukup dan tidak kurang. “Alhamdulillah,
sejak merintis usaha ini, saya selalu cukup dan tidak kekurangan. Ya cukup
untuk membiayai pendidikan anak-anak dan kebutuhan keluarga,kalau bicara
nominal, ya relatif lah,” jelas ayah dari tiga orang anak ini.
Empat belas tahun sudah
Zakarias menggeluti usaha percetakannya. Dan ia sempat berfikir untuk menyudahi
usahanya. “Keinginan untuk berhenti sebenarnya sudah ada sejak beberapa tahun
lalu. Saya ingin memulai sebuah hidup di usia 40 tahun. Namun saya urung melakukannya
karena masih ada target yang belum saya raih.”
Ia juga memberikan kiat
sukses dalam melakukan usahanya. “Jika ingin sukses dalam dunia bisnis sih
sebenarnya mudah saja. Ikuti kata hati dan percaya saja sama apa yang ingin
dijalani. Insya Allah pasti ada berkahnya,” tutupnya. (hs)
*narasumber wawancara
merupakan ayah dari penulis
Heri Susanto
2011110014
Senin, 04 Maret 2013
Jumat, 01 Februari 2013
Tentang Sebuah Lagu dari Era 90-an
Siang itu langit
sedikit muram namun tak kunjung meneteskan hujan. Riko datang, saya ambilkan agar-agar
dan teh manis untuk dijadikan dorongan (berguna untuk menetralisir, layaknya
jeruk nipis untuk sebotol jamu lokal). Ya, berbicara dengan Riko memang lebih
afdol bila memakai dorongan agar semuanya lancar.
Dia datang mencari
segudang pekerjaan untuk mengisi waktu luangnya saat libur kuliah. Tak hanya
itu, ia pun memasang iklan motornya yang masih layak pakai (ini kisah nyata,
jadi kalau ada yang berminat segera hubungi saya).
Sudah selesai dengan
tujuan awalnya datang ke rumah, tiba-tiba dorongan yang saya berikan mulai bereaksi,
dikeluarkan handphone dari saku
celana pendeknya dan ia pun mulai mendengarkan lagu dari playlist-nya. Lagu asing lagi yang terdengar –setidaknya untuk
telinga saya- seperti Wieteke van Dort, Soundtrack serial Kera Sakti, Bob
Marley, dan banyak lagi. Tapi ada satu lagu yang mengingatkan saya tentang hari
Minggu siang ketika tahun 90-an, di mana panas matahari masih terhalang
rimbunnya pepohonan.
Anda salah bila mengira
lagu yang terdengar adalah suara-suara pemberontakan a la grunge Nirvana, lagu
dengan lirik-lirik misoginis Bon Jovi, atau pop manis indie lokal angkatan
Rumahsakit. Lagu yang melantun dari handphone
Riko bercerita tentang seorang pendekar yang selalu mengisi Minggu siang
anak-anak 90-an.
Anak-anak yang kala
itu yang menikmati hidupnya dengan berlarian, mengumpat di balik jembatan,
lewat sambil tertawa di atas sepeda, dan berkelahi setelah diadu oleh teman
yang lebih tua. Setelah mereka cukup lelah, saat yang tepat untuk pulang dan
menonton serial seorang pendekar berbaju putih dan ikat kepala berwarna putih
pula. Seorang pendekar yang kala itu cukup kondang di pergaulan anak-anak 90-an.
Bukan, bukan Catatan
si Boy yang menceritakan seorang pemuda kaya raya. Bukan pula serial Lupus yang
berteman dengan hari-hari sibuk nan melelahkan. Pendekar itu bernama Wiro
Sableng yang mempunyai guru bernama Sinto Gendeng. Dan, satu yang masih saya
ingat, delman itu nyungsep ke sebuah lubang.
Wiro Sableng yang terkenal
dengan nomor dada 212, mempunyai sebuah kapak yang ajaib. Entah apa yang ada
dipikiran Riko mendengarkan (lagi) soundtrack Wiro Sableng, namun lagu itu
sedikit membuat saya bernostalgia dengan, ya.. anak-anak 90-an. Bernostalgia dengan
otot-otot yang saya punya ketika itu, ketika menjadi manusia sempurna. Bila
tulisan ini hanya terpajang dalam layar monitor Anda, itu tandanya otot saya
sudah tak sempurna dulu lagi, seperti anak-anak 90-an dengan nyanyiannya. Setidaknya
sekarang kita bisa bernostalgia menjadi manusia sempurna.
Satu pesan dari Riko
siang itu, “Dari C#7 cuk, yok sama-sama
yok... cokocokocokocokocokocok...” biar sableng, biar jadi bener.
Jumat, 18 Januari 2013
Apresiasi Mimpi
Aku selalu, setiap
hari berangkat kerja lewat jalan kecil itu. Jalan di mana ada Ratna, seorang
perempuan paruh baya selalu menjajakan mimpinya kepada anak-anak sekolah.
“Gapailah mimpimu
yang tinggi dan besar!” perempuan itu selalu teriak ketika mengumpulkan
perhatian anak-anak.
“Ayo kita ke sana,
dengerin mbok Rat dongeng,” anak-anak berseragam itu langsung duduk dengan
tenang mendengarkan cerita demi cerita dari mbok Rat.
“Sebelum aku mulai
cerita, kalian harus tenang. Kali ini akan kuceritakan tentang mimpi sang
seniman.” lalu Ratna memulai cerita sambil mengunyah sirih di mulutnya.
“Aku dulu itu adalah
seniman serba bisa. Karya-karyaku banyak yang dipajang di galeri terkemuka.
Jadi, kalian harusnya beruntung bisa langsung mendapat cerita dari seniman
berkualitas sepertiku.”
“Mbookkkk... kapan
mulai ceritanya?” anak-anak mulai menggerutu.
“Kalian ya mesti
sabar! Semua butuh proses...” mbok Rat kesal dan mulai menggerutu, “..kalau
emang gak mau dengerin, yaudah aku pulang mendingan!”
“Yah.. jangan pulang
dong, mbokkkkk!”
“Aku sudah ilang
mood, besok aja ceritanya. Lagian aku juga banyak kerjaan di rumah.”
Selalu seperti itu,
setiap hari, setiap aku lewat jalan itu. Mbok Rat selalu menjajakan sebuah
mimpi yang tak selesai. Mimpi yang hanya ada dalam banyangannya. Mimpi yang tak
terbeli.
Mbok Rat dulunya
memang seorang seniman hebat. Namun kondisi memaksanya untuk bekerja menjajakan
mimpi di Jakarta. Namun, masyarakat kota tak pernah percaya dengan mimpi.
Bergeraklah yang membuat mereka berubah. Mimpi hanyalah ilusi. Terlalu banyak
mimpi, terlalu banyak sakit hati.
Mungkin ada
segelintir masyarakat kota yang masih percaya dengan mimpi, tapi penghasilan
mbok Rat dari menjajakan mimpi tetap saja sepi. Entah karena apa, mungkin
terlalu banyak penjual mimpi yang lebih hebat darinya, mungkin pula
mimpi-mimpinya terlalu muluk, sehingga orang-orang bosan mendengarnya. Atau
mungkin, mimpinya malah melukai harapan dan realita, siapa yang tahu?
Siang itu, saat
matahari tepat berada di atas kepala, mbok Rat duduk di halte sampil mengajak
bicara calon pembeli mimpinya.
“Nih mas, persediaan
mimpi saya.” Mbok Rat menunjukkan sampel mimpinya.
“Ini beneran bisa
kesampean gak, mbok?”
“Asal mau berusaha,
pasti bisa.”
“Lah mending saya
kerja, kerja juga usaha.”
“Lah orang kayak
kamu ini yang gak bisa mengapresiasi mimpi.”
“Maaf deh, mbok, mending
mengapresiasi diri sendiri daripada mesti mengapresiasi mimpi.”
Setelah hari itu,
mbok Ratna tak pernah lagi terlihat di halte untuk menjajakan mimpinya. Menurut
kabar burung, ada sebuah institusi yang mengapresiasi mimpinya. Tapi tak ada
satu orang pun yang mengetahui keberadaan institusi yang mengapresiasi mimpi
tersebut.
Rabu, 16 Januari 2013
Riko dan Keluh Kesahnya
Bila kalian sudah
bosan mendengar cerita tentang Riko, yang bermimpi menjadi seorang rockstar,
saya tak peduli. Yang penting, Riko tetap ber-oranggila-ria.
Malam setelah hujan
berhenti mengguyur Lenteng Agung-Srengseng Sawah dan sekitarnya, Riko datang ke
rumah. “Sialan, laptop gue kena virus sality. Photoshop sama Illustrator-nya
pada ilang-ilangan,” keluh kesahnya saat hendak meminjam komputer saya untuk
mengerjakan tugas kuliahnya.
Tugas selesai dan, seperti
biasa, transaksi ilegal –entah musik, film, atau gambar- dimulai. Lebih dari sepuluh
album Bob Marley saya copy dari
laptop yang sudah kehilangan software Adobe portable-nya. Sebagai imbalannya,
saya memberikan film-film kadaluarsa dengan subtittle-nya.
Tak disangka dan tak diduga, saya menemukan tugas iklan di laptopnya.
Apa
isinya?
Riko sebagai talent, bukan lagi rockstar, tapi tetap orang gila
Sepertinya tak perlu
lagi penjelasan tidak berkualitas ini, sekian dan terima kasih.
*Tulisan ini sesungguhnya adalah....
Langganan:
Postingan (Atom)










