Menulis, yang katanya telah
menjadi fashion, ternyata adalah
pekerjaan yang sangat mudah untuk dilakukan. Apa yang sedang Anda pikirkan? Tuliskan
saja pada selembar kertas –atau di-update
di jejaring sosial- lalu Anda akan mendapatkan apresiasi. Apalagi bila dibumbui
dengan kata-kata ngawur ditambah motivasi-motivasi dari hasil kontemplasi
instan, tentu ratusan “like” akan
hinggap di tulisan Anda.
Dengan banyaknya update
status di jejaring sosial, bisa dipastikan bahwa minat menulis masyarakat
sangatlah besar. “Menulis sudah menjadi fashion!”
begitu kalau meminjam perkataan teman saya. Semua orang suka menulis, layaknya
berbicara. Semua bersuara. Semua orang ingin mendapat apresiasi.
Namun, berapa orang yang mau membaca sebuah tulisan? Berapa orang
yang lebih senang mendengarkan daripada berbicara? Keadaan ini menjadi tidak
seimbang ketika tulisan-tulisan semakin banyak, namun minat membaca justru
semakin berkurang. Keinginan menulis agar dapat diapresiasi secara prematur
membuat mental masyarakat menjadi lemah. Mereka cenderung akan puas ketika
telah mendapatkan apresiasi dan tak lagi mencari referensi untuk bahan tulisannya.
Semua orang dengan cepat menjadi “penulis” tanpa mau membaca tulisan orang
lain. Bukankan begitu egois?
Keegoisan yang berlebihan akan melahirkan persepsi bahwa
tulisan kita adalah sebuaah kebenaran, yang tak bisa untuk dikritisi. Tapi
ingat, tulisan tanpa referensi bacaan yang kuat akan menjadi kering dan sangat
mudah untuk dipatahkan –seperti apapun Anda mempertahankan tulisan Anda, namun
selalu ada antitesis dari sebuah tesis. Jika membaca hanya bersumber pada
status-status jejaring sosial, dengan sangat menyesal saya katakan, betapa
miskinnya referensi bahan bacaan kita. Dan tentu saja, tulisan seperti itu
hanya akan menjadi fashion tanpa ada pesan yang ingin disampaikan kepada
pembacanya. Fashion menulis seperti
itu hanya akan menjadi fashion kering
tanpa makna –yang biasa dijumpai di layar televisi. Bila menurut Anda menulis
hanyalah sekedar fashion, maka tak
ada yang salah dari tulisan Anda yang tersebar di jejaring sosial.
Kegiatan menulis hanya untuk mendapatkan apresiasi memang
sangat mudah untuk dilakukan. Kegiatan menulis menjadi sulit ketika dalam
tulisan itu dituntut untuk memiliki makna dan pesan yang jelas serta memberi
efek pada kehidupan sosial –paling tidak kepada orang yang membacaya.
Hari ini, ketika semua keadaan tak lagi berpihak kepada seseorang. Pasrah
seakan menjadi sebuah jawaban. Karena pemberontakan hanya akan membuat pola pikir menjadi bodoh. Pengkhianatan seakan menemukan sebuah makna, cinta menjadi
suatu yang terlupakan. Dikala matahari mulai tenggelam, malam seakan enggan menjelang.
Kulajukan sepeda motor kreditku dengan sangat lamban, seakan tak peduli
dengan keadaan sekitar. Aku merasa semua orang menertawaiku, namun pedulikah
aku? Mereka seolah menjadi tuhan atas diriku, mereka berkata seenaknya, membabi-buta mencerca. Dan mungkin berpikiran akan menghukum diriku. Dengan segala cara, aku beruhasa untuk tak menghindar dari kenyataan. Merenovasi
pemikiran dengan cara membaca kitab-kitab suci yang terasa tak lekang oleh
zaman. Sekalipun hanya mengartikan sesaat, namun terasa bermakna.
Mereka yang mengaku tuhan biasanya akan semena-mena, tak peduli omongan
orang. Merekalah yang terhebat, terbaik, terbenar. Penggunaan akal pikir
berlebih tentu akan membahayakan diri sendiri, stigma ateis sudah barang tentu akan menjadi label
orang-orang tersebut.
Dari segala jenis keabsurdan yang melekat, selalu tersimpan pembenaran
yang (mungkin) hakiki. Itulah mereka, mereka akan selalu seperti itu. Entah sampai
kapan, selang waktu pun seakan tak mampu untuk menjawab.
Surga dan neraka hanyalah mitos untuk mereka, teologi seakan angin lalu,
kitab suci seperti lembaran pengumuman yang tak berguna. Tuhan telah mati bagi
mereka, merekalah tuhan.
Saya sedang cukup malas
menulis dan berpikir. Tapi agar proyek blog ini tetap berjalan, mau tak mau
saya harus mempublikasi tulisan. Oleh karena itu, dipostinganini saya hanya ingin menyampaikan
kembali renungan saya tentang lirik lagu Melancholia (Efek Rumah Kaca) yang
pernah sayasharedi twitter, beberapa waktu lalu,
dengan ditambahkan sedikit pembuka.
Cinta bukanlah tema baru dalam ranah musik. Begitu juga dengan kegundahan. Ia
memiliki keterkaitan erat dengan cinta.
Dalam lagu Melancholia ciptaan Efek Rumah Kaca, Cholil (vokalis sekaligus penulis lirik) menawarkan cara baru dalam mengatasi kegundahan.
Simak liriknya berikut ini:
Tersungkur
di sisa malam
Kosong
dan rendah gairah
Puisi
yang romantik
Menetes
dari bibir
Murung itu sungguh indah
Melambatkan
butir darah
Nikmatilah saja kegundahan ini
Segala
denyutnya yang merobek sepi
Kelesuan
ini jangan lekas pergi
Aku
menyelami sampai lelah hati
1) Lirik itu menawarkan cara lain dalam memandang depresi. Cara untuk menyikapi rasa, bukan sesuatu yang menimbulkannya.
2) Karena itu, dalam liriknya tak ada objek "siapa" atau "apa" yang membuat murung. Sebab barangkali memang itu gak penting-penting amat.
3) Bagi ERK, justru yang lebih penting adalah "rasa" itu sendiri.
4) Sudah jelas, "nikmatilah saja kegundahan ini", sebuah penghayatan (bukan penolakan) terhadap kegundahan, terhadap hidup.
5) Atau, "murung itu sungguh indah, melambatkan butir darah". Seperti sesuatu yang membuat "ada", dan "hidup": sebuah keindahan.
6) Tapi meski begitu, "siapa" atau "apa" ini bukan tidak penting. Ia tetap ada: sebagai sesuatu untuk diterima seutuhnya, bukan untuk dihindari, dikoreksi, dipersalahkan. Tapi untuk dihayati, bukan diakali, bukan dihindari.
7) Karena ia (si "siapa" atau si "apa") adalah yang menciptakan "rasa" itu (mungkin depresi, mungkin kecemasan, kegundahan, atau keresahan), sekaligus keindahan.
8) Intinya. seperti kata orang, mungkin dunia ditakdirkan untuk tidak baik-baik aja. Tapi buat apa ngeluh? Nikmatilah! (setidaknya dalam hal cinta).
(Delapan poin di atas adalah salin-tempel dari twitter saya)