Jumat, 25 Juli 2014

Aku, Kamu, Pram dan Mario

copyright by bowo bagus*

“Aku suka ucapannya,” katanya pagi itu.

“Mengapa kamu masih saja mendengarnya sih? Berapa banyak orang-orang sabar yang akhirnya tak bisa merdeka? Manusia adalah makhluk berbudaya. Ia berdialektika, menggabungkan antara tesis dengan antitesis sehingga menjadi sintesis. Begitu seterusnya. Hal itu tidak mengalir begitu saja. Tesis adalah kebiasaan. Antitesis lahir dari perlawanan. Kita tak bisa selallu mendengar. Harus melawan agar sintesis baru lekas ditemukan,” bantahku kepadanya.

Ia diam dalam waktu yang lama. Cukup lama hingga tak ada kabar berita, sampai aku merasa menang dalam satu pernyataan sekaligus pertanyaan. Memenangkan sebuah pertarungan psikologis antara aku dan dia.

Haters gonna hate,” ucapnya pelan, membuyarkan kesepian.

“Aku tidak membenci Mario, sayang. Tapi memang itulah adanya. Aku lebih suka membaca Pram. Pram yang menulis Minke. Pram yang menceritakan perlawanan. Pram yang dibuang. Pram yang serba pahit.”

Ia kembali diam. Aku melangit, merasa menang untuk yang kedua kalinya.

“Mario selalu berucap kalau ia tak pernah membenci orang yang menghina nasihatnya. Ia selalu menganggap semua orang baik. Menurutnya, orang yang menghina nasihatnya adalah orang yang belum diberikan hidayah oleh Tuhan. Dan ingat, tidak ada orang-orang yang hidupnya baik kalau ia menghina seorang penasihat.”

“Aku tidak membenci Mario. Aku hanya tidak suka.” Aku mengambil rokok dalam bungkus yang bergambar seorang bapak merokok saat menggendong anaknya, lalu melanjutkan, “Kau pernah dengar seorang mahasiswa yang hanya nangkring di menara gading? Ia adalah pemuda beruntung karena memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, namun pikirannya tak pernah membumi. Ia selalu membahas segala teori-teorinya dengan sesamanya. Tak pernah mereka ke lapangan, melihat bagaimana mustahilnya membayangkan seorang Jean Paul Sartre dapat dilahirkan di tengah lingkungan kumuh, di Kapuk, Jakarta Utara.”

Aku menyalakan rokok yang tadi kuambil, lalu melanjutkan, “Bukankah kemarin sudah kuceritakan padamu tentang Minke? Ia melawan, sayang. Tak perlu ia mendengar ceramah Mario untuk melawan. Ia hanya melihat ketidakadilan, dan melawan. Sesimpel itu. Dan kenyataannya, kesederhanaan adalah hal yang rumit.”

Ia diam, seperti menyimak. Aku merasa semakin menang.

“Ayolah, sayang, kau tak perlu terlalu percaya kepada ucapan seorang Mario. Kau memiliki dua telinga. Matamu pun dua. Kau hanya perlu melihat realita itu dan langsung mendengar kehidupan dari bumi. Bukan dari orang yang berdiri di atas mimbar.”

Haters gonne hate,” ucapmu lebih kencang dari yang pertama. Hampir teriak.

Aku kaget. Untuk beberapa saat aku kehilangan merasa di bawahnya. Kuhisap rokokku yang sudah menyala untuk membantu membuatku tenang, mencari bantahan lainnya.

“Kamu hanya membenci Mario. Betapapun Mario berucap sesuatu yang sangat benar, kau tetap akan membencinya. Tak ada obat untuk seorang pembenci sepertimu.”

Ucapannya seperti rentetan peluru yang ditembakkan ketika aku lengah. Aku menarik napas dalam-dalam. Merenungkan. Apaka benar aku seorang pembenci, batinku. Dalam keadaan seperti ini, batinnya pasti mengembang kemenangan. Memang benar, aku sedang diserang.

“Kamu selalu membandingkan Mario dengan Pram. Padahal kamu tahu, di dunia ini tak ada sesuatu yang bisa dibandingkan. Bahkan seorang anak yang kembar siam pun tidak mau dibandingkan dengan kembarannya. Itu tidak adil. Kamu selalu memandangku sebelam mata kalau aku mengutip Mario. Kamu egois.”

Matanya memerah. Entah sedih atau marah. Mungkin kolaborasi antara keduanya. Kali ini aku yang diam.

“Aku hanya tidak suka melihat orang-orang hanya diam ketika dirinya ditindas. Dan yang aku tahu, dalam setiap ucapan Mario, selalu menyuruh kita pasrah. Katanya, Tuhan hanya menguji mereka yang mampu lulus. Lantas, apa mereka yang tidak lulus hanya kambing percobaan Tuhan sebagai penggembira ujian? Hidup bukanlah sebuah kompetisi seperti ujian, di mana yang tidak lulus dapat diremehkan. Hidup adalah.. aku pun belum bisa mendifinisikannya.” Rokok yang belum habis itu kumasukkan dalam asbak kecil di atas meja.

“Terus?” tanyamu singkat.

Pertanyaan itu adalah sebilah pisau menuju tepat ke jantungku. Aku menyerah. Aku kalah.

Kedua tangannya langsung kupengang. Kepalaku kudekatkan ke kepalanya. Mataku tajam melihat matanya yang besar. Dalam hening, aku kuatkan tekadku, “Ini bukan perkara Mario ataupun Pram. Ini adalah antara kamu dan aku.”

Catatan:
*Copyright is only for beginner

Tidak ada komentar:

Posting Komentar