Selasa, 10 Juni 2014
Senin, 14 Oktober 2013
Membaca Eleven yang Sayang untuk Dibuang
Sebuah lanjutan yang tak berkesinambungan.
Akhir pekan lalu, saya bertemu dengan dua mahasiswa yang
menjalankan blog ini untuk pertama kali. Berkumpulnya kami, sebagai mahasiswa
yang bergerak di media on-line, membahas
seputar media kampus. Kebetulan saya diberi tahu oleh anak-anak Pos Bawah,
bahwa terbitan Himpunan Mahasiswa Jurnalistik (Himajur) Institut Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, Eleven terbit kembali. Langsung saja kami
membelinya.
Sebenarnya saya sudah membaca Eleven sekelibat, dan tak
lantas membuat saya tertarik. Namun, rasa haus akan terbitan kampus membuat
kami terpaksa membeli untuk melihat isinya lebih dalam. Kata “kami” di atas
merepresentasikan kerjasama apik antar mahasiswa. Heri Susanto menyumbang Rp 2000,
May Rahmadi Rp 3000, dan saya yang jalan membeli Eleven yang harganya Rp 5000.
Benar-benar kerjasama apik, layaknya tim nasional Indonesia U-19 kala menggilas
Korea Selatan U-19.
Akhirnya terbitan –buletin, majalah, zine, bulanan, atau apalah namanya- dengan jargon “Gunakan Pena,
Menulis dan Bertindak” ini sampai ke tangan kami.
Membuka halaman pertama, membuat saya kaget. Ternyata, Eleven
ini sudah bisa dibilang besar karena di halaman pertama ada iklan sebuah merek prosesor
komputer. Di halaman pertama juga nampak susunan redaksi dan dua gambar yang
tak jelas maksudnya –mungkin karena tak ada caption-nya.
Halaman dua saya baca dengan singkat, karena hanya ada
daftar isi dan salam redaksi yang berisi basa-basi. Dalam editorialnya, kalimat
terpenting yang saya dapati adalah, “dalam rangka hari tata ruang dan hari
hak-hak asasi hewan, eleven ingin membahas seputar permasalahan tataruang
jakarta”. Saya menuliskannya apa adanya, dan memang sengaja tanda titik saya
taruh di luar tanda kutip.
Kertas itu tertiup angin dan membuka halaman selanjutnya,
yang berisi rubrik “Fokus”. Niat untuk membaca mendadak hilang, terbang bersama
angin yang membuka halaman ini. Saya paksakan untuk membaca, namun hati ini
tetap menolak. Ya sudahlah.
Di halaman lima, ada tulisan berjudul ‘Ulang Tahun KATS’. Tentu
saya senang, karena saya adalah bagian dari KATS (Kampus Tercinta Scooter). Dan
kebetulan, yang menulis liputan tersebut adalah teman saya di Pos Bawah, sesama
anak KATS. Tulisannya asyik, mengalir seperti air. Tentu, paragraf ini tak berdiri
sendiri. Ada latar belakang yang tak bisa dipisahkan dalam diri saya. Sehingga...
Saya lanjut membaca –tepatnya melihat- halaman berikutnya. Ada
rubrik ‘Pojok Himajur’ dengan tulisan berjudul ‘Ibukota harusnya sebagai simbol
kemakmuran, bukansimbolpermasalahan.” Saya pikir, pasti ada filosofi tinggi di
balik kata-kata tersambung dan judul yang berakhir dengan tanda titik. Sampai
sekarang saya masih memikirkannya.
Berikutnya, ada rubrik ‘Sosok’ yang mengangkat seorang
mahasiswi manis dari jurusan Desain Interior, Sekolah Tinggi Seni Rupa dan
Desain Indonesia Telkom. Tak ada yang spesial dari mahasiswi tersebut kecuali
rupanya yang ayu, pun hanya dalam cetakan hitam-putih. Dan tentu saja,
keinginannya untuk membuat desain rumah yang sesuai dengan tata ruang di
Jakarta, bisa dibilang spesial. Entah faktor apa lagi yang membuat Riris,
sapaan mahasiswi tersebut, bisa masuk dalam rubrik ‘Sosok’. Keberuntungan,
mungin.
Di halaman sembilan, ada tulisan dengan judul ‘Mengangkat
DNA Nusantara pada Arsitektur Masa Kini’ yang mengisi rubrik ‘Lintas Sahabat’.
Entah apa yang dimaksud dengan DNA dalam judul tulisan itu. Apakah ada yang
bisa menjelaskan?
Sampailah kita di bagian tengah terbitan ini, tepatnya
halaman 11 dan 12. Isinya membahas seputar komunitas dan tempat wisata yang
layak dikunjungi. Dalam rubrik ‘Komunitas’ tak ada masalah, karena yang menulis
adalah teman saya, yang saya jelaskan di atas –tentu jika dilihat dari bingkai
yang saya miliki. Di halaman 12, rubrik ‘Plesir’, saya diajak untuk mengunjungi
Dubai. Semoga saja di masa depan saya benar-benar bisa ke sana, mengingat untuk
mendapatkan terbitan ini pun harus patungan, dan saya menyumbang tenaga.
Setelah membuka halaman 13, saya sadar, ternyata gambar yang
terpasang di halaman pertama bukanlah iklan. Di rubrik ‘Iptek’, saya menemukan
ulasan tentang merek prosesor yang terpampang di halaman awal.
Melihat sepintas, rubrik di halaman berikutnya sangatlah
menarik, ‘Sekilas Sebelas’. Isinya tentang 11 tokoh arsitektur dunia. Sayang,
perasaan menarik hanya lewat sepintas. Tiga halaman terbuang sia-sia dengan
informasi yang dengan mudah dapat saya temukan secara on-line.
Halaman 17 dan 18 berisi testimoni enam mahasiswa terkait
Hari Kesaktian Pancasila. Isinya seragam, menyayangkan fenomena yang terjadi,
di mana hari besar tersebut tak bermakna lagi. Ah, seandainya mereka mencoba
sedikit keluar dari jendela. Jika saya boleh mengisi testimoni, maka isinya
adalah, “Hari Kesaktian Pancasila adalah tanda dimulainya penghakiman absolut kepada
orang-orang yang dianggap komunis.”
Rubrik ‘Skor’ di halaman 19 bisa saya anggap sebagai
penghibur, pun isinya sudah kadaluwarsa untuk edisi Oktober. Judul tulisannya ‘Indonesia
Juara Umum ISG’, jumlah paragrafnya ada lima, dan setiap paragraf berisi satu
sampai dua kalimat. Saya rasa, itu adalah berita lempang. Saya mencoba mengetik
di Google tentang Indonesia yang juara Islamic Solidarity Games. Hasilnya, saya
menemukan 302.000 halaman terkait dalam 0,30 detik. Lantas, apa saya harus
menunggu sebulan untuk membaca berita lempang?
Halaman 20 saya lewatkan. Saya tak begitu tertarik untuk
membaca tulisan tentang Indonesia International Motor Show di rubrik ‘Event’. Saya
beralih ke halaman 21, dengan rubrik ‘Ada Yang Baru’. Ah, ternyata isinya
adalah sinopsis film yang akan keluar. Andai saja resensi, pasti saya baca.
Di bagian belakang, tepat di balik sampul penutup, ada
sebuah ilustrasi yang tak mimiliki kredit. Pasti yang membuat ilustrasi
tersebut berpaham ‘Copyright is Only for
Beginner’. Begitulah. Dan, ada sepotong pengumuman untuk memasang iklan.
Sampul penutup Eleven memasang rubrik ‘Jendela Rana’. Mungkin,
ditempatkan di bagian paling belakang agar tercetak warna. Cukup menghibur. Sayang,
tak ada keterangan tentang foto-foto tersebut. Hanya ada tiga buah foto dan,
lagi-lagi, sepotong pengumuman yang berisi, “Redaksi menerima kiriman artikel
atau tulisan yang tidak mengandung sara dan kekerasan. Redaksi berhak
menyunting naskah tulisan tanpa mengubah maksud. Naskah tulisan diketik 1,5
spasi dan disertai identitas penulis (foto, nama lengkap, NRP, jurusan & fakultas,
angkatan, asal kampus, contact person, email, serta pengalaman organisasi)
pengiriman ke sekretariat Himajur.”
Begitulah tanda sayang saya kepada terbitan kampus. Andai di
blog ini bisa memasang iklan, pasti akan saya iklankan jasa ‘tata letak dan
edit tulisan’. Namun blog ini sepertinya anti-iklan. Tak apalah, asal jangan
anti-kritik.
Merah Mani
Saya tak tahu harus menulis apa. Billing warnet saya tinggal sejam. Dari pada saya membuang waktu dengan memikirkan harus memposting apa, lebih baik saya posting asal-asalan saja. Sebab saya juga ingin main dota.
Tulisan ini tentang Tempo Institute yang typo menulis nama saya di websitenya. Nama saya May Rahmadi. Tapi Tempo Institute salah menulisnya sehingga menjadi "May Rahmani".
Nama saya jadi ngeri sekali. "May Rahmani", bisa saja dibaca menjadi "Merah Mani". Mani adalah sperma. Jadi, Merah Mani adalah sperma yang berwarna merah. Bayangkan...
Minggu, 13 Oktober 2013
Membandingkan Eleven dengan Abominasi Zine
Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta
tengah merindukan terbitan-terbitan mahasiswa, dari yang sifatnya informasi,
persuasi, atau bahkan propaganda. Hal tersebut saya simpulkan dari setidaknya
beberapa tongkrongan yang saya ikuti.
IISIP (dulunya Sekolah Tinggi Publistik) –
yang terkenal dengan sebutan “Kampus Jurnalistik” – memang minim sekali
terbitan mahasiswa. Kampus yang selalu memiliki jumlah pendaftaran terbanyak
pada jurusan jurnalistik ini juga tidak memiliki Lembaga Pers Mahasiswa yang
menjalankan fungsi anjing penjaga (watch dog function).
Pertanyaan mengenai mengapa tidak ada LPM yang
menjalankan fungsi anjing penjaga, rasanya lebih tepat dibebankan pada pundak
Himpunan Mahasiswa Jurnalistik.
Himajur sebenarnya punya sebuah terbitan
bernama Eleven (terbitan tertua di
IISIP, klaim redaksinya). Saya mendapatkannya beberapa hari lalu. Namun belum lama juga saya
menemukan sebuah zine bernama Abominasi. Oleh karena itu, dari pada menjawab pertanyaan tadi, di sini saya ingin menulis review dengan membandingkan keduanya, membandingkan antara yang legal
dengan yang ilegal. Ada beberapa segi yang ingin saya bandingkan: struktur
redaksi, teknik penulisan, layout, dan harga.
Yang Legal dan Yang Ilegal
Abominasi adalah zine yang dicetak secara
mandiri, independen, dan ilegal, oleh seorang mahasiswa jurnalistik angkatan
2012, Bima. Mandiri, maksud saya, adalah konten dan proses produksinya digarap
sendiri. Independen artinya Bima berada di wilayah yang bebas nilai (tidak
membawa kepentingan dari pihak tertentu). Ilegal berarti tidak memiliki izin
resmi dari pihak kampus.
Sekitar sebulan lalu, saya menemukan
Abominasi. Bima menerbitkan zine ini benar-benar apa adanya – kalau tidak boleh
dibilang sebisanya. Bima menyebarkannya dengan semangat berbagi informasi dari
apa yang ia sukai: metal. Saya sempat mereviewnya. Apa yang telah Bima lakukan menyiratkan pesan
bahwa menerbitkan karya adalah hal yang mudah.
Lalu kemarin saya menemukan Eleven (edisi Oktober 2013),
terbitan legal dari Himajur. Seperti yang sudah saya tulis tadi, legal dalam
pemahaman banyak siswa berarti memiliki izin dari kampus, paling tidak
organisasinya. Entah siapa yang membentuk pemahaman seperti itu.
Eleven hadir dengan semangat “mendidik para
anggota Himajur untuk menjadi wartawan andal,” begitu tulis redaksinya. Media
ini, lanjutnya, “diperuntukan bagi para calon jurnalis muda untuk berlatih
menulis berita dengan baik.”
Pembuatan media,
secara teknis jelas terkait dengan, setidaknya, dua mata kuliah di jurusan
jurnalistik: Bahasa Indonesia Jurnalistik dan Editing dan Produksi Media Cetak.
BIJ penting dalam hal konten, dan EPMC perlu paling tidak dalam segi “tampilan”.
Sebagai media yang
ingin melahirkan “wartawan andal” (apapun maknanya istilah ini) – seperti yang
diklaim redaksinya – Eleven tak mempraktikkan dengan baik ke dua mata kuliah
yang saya sebut tadi.
Jajaran Redaksi Tak Berarti Bikin “Rapih”
Berbeda dengan Eleven,
Abominasi tak memiliki struktur yang jelas dan rinci. Eleven Nampak lebih professional
dengan jajaran dredaksi dari Pemimpin Umum sampai Layouter. Sedangkan dalam
Abominasi, seluruh proses penggarapannya – dari penentuan konten, penulisan,
sampai urusan layout – dikerjakan oleh Bima seorang. Tetapi jajaran redaksi
rinci yang dimiliki Eleven tak serta merta membuat Eleven lebih rapih dibanding
Abominasi.
Salah satu contohnya,
dari segi penulisan. Eleven secara terang benderang tidak menerapkan dengan
baik apa yang telah dipelajari di kelas BIJ. Entah sengaja atau tidak, saya
melihat banyak kalimat yang tak logis, kata mubazir, dan penulisan judul yang
salah. Hal serupa tentu saja dapat juga ditemukan di Abominasi yang tidak
memiliki editor khusus.
Selain itu, layout
Eleven nampak lebih parah dari pada Abominasi. Tata letak Eleven sangat tidak
teratur. Itu dapat tergambar dari banyaknya spot kosong yang terbuang sia-sia sehingga
memakan banyak halaman, serta penggunaan ukuran huruf dan line spacing yang
tidak konsisten. Itu sangat tidak enak dilihat. Di persoalan ini, saya
malah melihat layout Abominasi yang dibikin Bima secara manual (dengan
mengeprint-tempel-fotocopy) malah sedikit lebih baik.
Soal harga adalah yang
paling menarik. Harga Eleven dipatok Himajur 5000 rupiah. Hal tersebut,
mengutip teman saya, “harga yang tak masuk akal, mengingat daya beli anak-anak
IISIP itu susah.” Sedangkan Abominasi,
disebarkan secara gratis seperti udara. [1]
Sebenarnya ada hal lain yang layak dibandingkan: cover dan gambar (citra media), rubrikasi (apa yang ingin dikatakan), dan isi (bicara soal apa). Soal itu, barangkali teman saya yang lain saja yang mengulasnya.
***
[1] Bima sempat mengatakan perihal proses produksinya pada saya. Kalau tidak keliru, ia mengeluarkan uang 125 ribu untuk menghasilkan 35 eksemplar Abominasi Zine.
Langganan:
Postingan (Atom)



