Jumat, 19 Oktober 2012

Surat Seorang Proletar Untuk Kaum Elit Borjuis

Judul di atas merupakan sebuah track lagu The Brandals di album Brandalisme yang dirilis via Aksara Record pada tahun 2007. Namun, Saya tak ingin membicarakan The Brandals (karena mereka sudah cukup banyak mendapat publikasi dari media). Sekedar hanya meminjam judul lagu di atas untuk sebuah surat imajiner, yang bisa saja menjadi kenyataan kelak. (Izinkan hamba meminjamnya, yang mulia Eka Annash)

_________________________________________________________________________________



Kupang, 19 0ktober 2012

Kepada :
Yth Achmad Al Ghazalli
Jl Pinang Mas, Pondok indah

Halo Al, apa kabar? Sepertinya kau cukup bahagia di sana. Setiap sore menjelang malam, aku selalu melihatmu bersama adik-adikmu di salah satu stasiun televisi swasta. Aku lihat kau sangat menikmati peranmu. Aku baru mengirimkan surat ini sekarang. Karena aku cukup kesulitan mengumpulkan uang demi membeli seracik kertas, sebuah bolpoint, serta perangko sekedar untuk mengirimkan surat kepada idolaku (mungkin saja kau tak peduli).


Semoga kau semakin sehat di sana dengan memakan makanan bergizi ala Eropa. Sementara aku di sini hanya bisa makan sehari sekali, itu pun dengan lauk seadanya. Dan tentunya jauh dari kadar gizi yang disarankan para pembual yang mendeklarasikan diri mereka sebagai dokter.

Aku cukup kecewa waktu melihatmu di televisi. Aku melihatmu minum bir dan menghisap sebatang rokok. Aku tahu itu hal yang wajar. Namun kau masih empat belas tahun, Al. Tunggulah beberapa tahun lagi untuk melakukan semua itu. Sudah barang tentu kau mengecewakan ayahmu yang menganggap dirinya sebagai orang tua super (sejenis Fairly Odd Parents? Fuck). Aku harap kau tak melakukannya lagi, kau harus tahu betapa sulitnya mencari uang. Ayahmu tak akan selamanya kaya raya. Mungkin hari ini kau sedang bahagia, namun siapa yang tahu hari esok?

Sekian surat dariku, semoga kau bisa lebih baik dari ayahmu. Rajin rajinlah belajar. Onani terlalu banyak juga tak cukup baik untukmu.

                                                                           

                                                                                                                  Fans Beratmu, Martinus.



Surat ini dibalas oleh Al

Keluh Kesah Seorang Pembawa Amanah


Dalam ajaran Islam, amanah yang dititipkan seseorang yang sudah disepakati bersama wajib hukumnya untuk dijaga dan/atau dijalankan. Ketika amanah yang telah diepakati tidak terlaksana, maka label munafik akan segera menempel di kepala orang-orang yang tidak menyampaikan amanah itu. Saya diberi kepercayaan untuk menyampaikan amanah dari seorang kawan. Tentu, sebagai muslim yang kadang patuh pada ajaran agama dan tidak ingin bermunafik-ria, saya menjaga amanah itu dan berusaha untuk tidak mengkhianatinya.

Amanah tetap amanah. Kesepakatan telah tercipta. Alamat tujuan amanah itu sudah diberikan, tinggal bagaimana jalannya.

Terik matahari yang menyengat, kemacetan lalu lintas terlihat di setiap ruas, serta kesewenangan pengguna jalan yang selalu senang untuk menyerobot. Ya, ini tentang Jakarta. Kali ini saya berkeluh-kesah tentang ibukota negara yang bernama Indonesia. Tak hanya tentang Jakarta, tapi tentang sebuah alamat yang “aneh”. Sebuah alamat yang diamanahkan kawan saya untuk dikunjungi.

Peta sebagian selatan Jakarta

“Aneh”, karena hampir tiga jam berputar-putar mengelilingi secuil bagian Jakarta sebelah selatan alamat itu tak kunjung ditemui. Alih-alih bertanya kepada yang lebih tahu, malah tersasar entah ke tempat yang semakin membuat linglung. Patokan yang diberikan adalah supermarket Giant –yang dalam bayangan saya berbentuk giant pula. Namun, nyatanya supermarket tersebut terselip antara ruko-ruko biasa yang bersarnya hampir sama dengan yang disebut sebagai giant. Sekali lagi, saya tertipu oleh sebuah kata.

Setelah perjalanan “panjang” akhirnya amanah itu dapat tersampaikan. Mungkin ada beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai reminder dari keluh kesah ini. Pertama, amanah yang telah disepakati adalah kewajiban untuk dipenuhi. Seorang manusia dipandang bukan karena ucapannya, melainkan perbuatannya. Pun akhirnya keluh kesah ini lahir, tapi setidaknya amanah itu telah tersampaikan (paragraf ini adalah sebuah pembenaran).

Kedua, kata Giant tak selalu bermakna giant. Sebuah kata memang lazimnya terbentuk dari satu makna yang diinginkan penciptanya. Tapi ketika kata itu telah lahir, secara bersamaan makna tunggal itu menjadi tak berarti, mati. Namun, ketika sang pencipta (pemberi amanah) masih ada, tak ada salahnya untuk bersikap skeptis.

Ketiga, alamat lengkap bukan jaminan untuk sampai tujuan dengan cepat. Alamat memang petunjuk yang paling benar, namun bukan berarti yang paling baik –apalagi bila ditujukan kepada orang-orang yang menghafal tempat, bukan alamat. Pada hemat saya, sebagian (besar atau kecil, itu relatif) warga Jakarta tidak hafal nama-nama jalan yang ada. Mereka menghafal tempat-tempat yang populer sebagai patokan untuk pergi ke suatu tempat. Patokan tempat yang populer, mungkin, bila dipadukan dengan alamat lengkap, akan penjadi sebuah pentunjuk yang sempurna –walaupun di dunia tak ada yang sempurna, setidakknya mendekati.

Mungkin sampai di sinilah akhir keluh-kesah saya –setidaknya untuk saat ini.

Kamis, 18 Oktober 2012

Sadar, Tak Perlu Menyelamatkan



Konsumerisme berlebih adalah sebuah kewajaran dalam masyarakat kelas perkerja, seperti di Jakarta. Kehadiran antek-antek kapitalis –baik yang beskala besar, maupun kecil- tak dapat dihindarkan dari kehidupan yang demokratis seperti saat ini. Masyarakat tak lagi memiliki waktu untuk memikirkan tentang kapitalisme yang sedang meenggurita di lingkungan mereka. Karena mereka terlalu sibuk untuk bekerja dan telah menjadi bagian dari sistem yang besar diamana mereka tak mampu melawannya. Dan salah satu cara untuk menghabiskan uang yang didapat dari bekerja adalah berbelanja, menjadi konsumen.

Awalnya mereka berbelanja ke pasar tradisional. Di pasar tradisional –kalau Anda masih ingat- tak hanya menjajakan sayuran, ikan berbau amis dan makanan orang pinggiran, tapi juga pakaian, fashion masyarakat pinggiran. Tak mau disamakan dengan fashion masyarakat pinggiran, para pekerja yang lebih menengah pergi ke supermarket yang notabene-nya lebih berkelas. Pun tak ada perbedaan dari barang yang dijajakan, masyarakat yang memiliki penghasilan lebih dari orang pinggiran lebih memilih berpergian ke supermarket daripada ke pasar tradisional, yang terkenal becek dan bau amis, untuk mendapatkan status sosial yang lebih terpandang.

Barang-barang yang ditawarkan –baik di pasar tradisional maupun supermarket- menjadi seragam, tak ada yang beda. Mainstream, begitulah istilah populernya. Hingga lahirlah gerakan do it yourself (DIY) yang lahir dari aktivitas intelektual yang sadar bahwa segala hal yang mainstream hanya menguntungkan pengusasa kapitalis.


DIY adalah konsep madiri dan swadaya –yang pada zaman Orde Lama dikenal dengan berdikari- yang tidak menggantungkan diri kepada pihak lain. Masyarakat yang memakai konsep DIY untuk sekedar memenuhi kebutuhannya sendiri berkembang untuk memenuhi kebutuhan orang lain pula. Mereka menciptakan pasar dari barang-barang yang mereka buat. Salah satu contoh adalah fenomena merabaknya distro-distro dari konsep DIY tersebut, yang setelah menjadi besar adalah bagian dari sistem kapitalis itu sendiri –walaupun dalam skala yang lebih kecil. Konsep hanyalah tinggal konsep.

Sadar atau tidak, kita telah menjadi bagian dari kapitalisme, yang akan selalu menjadi konsumen. Dan, kesadaran pula yang bisa menyelamatkan kita, setidaknya dari pengeluaran yang berlebihan –yang semakin memberatkan kantong-kantong penguasa kapitalis.

Rabu, 17 Oktober 2012

Menyelamatkan Pasar Loak


“Broh, anterin gua ke C***z yuk, gua mau beli baju nih”. Mungkin kita pernah mendengar percakapan ringan nan membosankan seperti itu. Barang bermerek seakan menjadi hal wajib untuk dikonsumsi anak anak muda. Semua berawal dari sifat konsumerisme berlebih, sifat manusia yang tak pernah puas, atau yang paling menyedihkan adalah sebuah tuntutan untuk modis disetiap zamannya. Semoga hal terakhir tak masuk ke dalam kategori.

Ada sebuah pemikiran ala hipster (ataupun bukan, entahlah) yang mengena di pikiran saya. Mencari sebuah hal yang baru dan terbatas demi tampil berbeda. Khusunya dalam hal berbusana. Saya lebih memilih berbelanja ke pasar loak daripada harus sibuk mengikuti tren yang ada. Tanyakan kepada David Naif, Jimi Upstairs, ataupun para kolektor barang lawas yang tak mungkin saya sebutkan satu persatu, karena memang tak berguna juga. Pasar loak bisa memberikan penghematan luar biasa pada pengeluaran anda. Daripada berburu barang ke negeri singa ataupun homebase Upin Ipin sekalipun (yang pastinya akan menguras tenaga, kocek dan mampu mengkerutkan kelamin). Segala yang ingin kita cari bisa didapatkan dipasar loak. Mulai dari jaket berbulu hewan (baik najis ataupun tidak), rompi, jeans, baju tidur, bahkan bra sekalipun.

Tidak bisa dipastikan apakah barang yang ada disana merupakan sebuah barang bekas ataupun barang illegal yang tertahan dipelabuhan. Yang jelas, pandai pandailah menawar barang yang ingin kita beli. Sekedar untuk menyelaraskan harga pasar dan dompet, hal ini terbukti ampuh. Dan satu hal yang penting, persetan dengan stigma orang orang yang mengatakan, “barang barang dipasar loak adalah barang bekas pakai, kita akan terkena penyakit kulit, bla bla bla”. Dengan pencucian yang baik dan benar, tentu kita bisa mensterilkan hal buruk yang disebutkan orang-orang tadi. Atau jika masih ragu, pergilah ketempat laundry terdekat (walaupun sama saja hasilnya).

Dengan berbelanja ke pasar loak, kita setidaknya turut membantu para pengusaha kecil menengah untuk tetap makan. Daripada membayar mahal untuk barang bermerek dan mengguritakan program kapitalis yang seakin menggurita.



Tulisan ini ditanggapi oleh Bayu Adji P

Surat untuk Seorang Perempuan yang Tak Terduga (Part I)

Kepada seseorang yang selalu menyimpan rahasia.

Apa kabar? Semoga seperti yang kau inginkan. Sejujurnya, aku merasa pertanyaanku itu penting. Kau pasti tahu, saat ini kita tak seperti minggu-minggu lalu. Kita semakin jarang bertemu. Maka apakah pertanyaan yang paling wajar mengenai kerinduan selain kabar? Mungkin kau akan bilang itu tak penting-penting amat. Tapi itu terserah.

Hmm...

Terakhir kali aku tahu saat itu kau memegang perut, dan berkali-kali mengeluhkan sembilu. Sebenarnya aku ingin sekali berbuat sesuatu, setidaknya berbicara. Hanya saja waktu itu aku bingung, aku tak paham. Aku malah bertanya tentang bagaimana mengatasi kesakitan yang kau rasakan. Ah, aku benar-benar tak mengerti sama sekali soal itu. Maaf, mungkin bukan hal yang kau inginkan.

Itu saja yang terakhir kutahu perihal kesehatanmu. Mungkin sebenarnya sejak awal kau memang tak hendak menceritakan apapun padaku, tak inginkan aku mengetahui apapun riwayatmu. Tapi aku tak peduli. Aku tak peduli jika aku sama sekali tak mengerti tentangmu. Aku sadar: cinta -- seperti juga hidup -- ditakdirkan untuk tak jelas, samar-samar, dan absurd. Ini mungkin sama seperti puisi yang pernah kau tulis yang entah untuk siapa, "cukup kau tahu, tak perlu dimengerti". Karenanya, aku rasa semuanya tak perlu dimaknai.

Tapi aku merasa perlu untuk menulis surat ini. Mungkin karena sudah hampir seminggu aku tak benar-benar hidup dalam duniamu. Aku hanya mengintaimu dari jauh: seperti seseorang yang tengah mengamati Burung terbang tinggi di langit terbuka. Aku tak benar-benar tahu Burung apa itu. Kadang aku anggap itu memang Merpati, tapi ia terlalu tinggi. Maka aku pun selalu ragu.

Barangkali keraguan adalah esensi dari semuanya. Aku menerimanya serupa menerima ketidakjelasan yang mungkin mirip dengan kesementaraan yang kau pernah ceritakan: ia ada dan selalu menyimpan rahasia. Ia ada, tapi tak selamanya. Itu mungkin yang sebenarnya abadi, yang kerap menyimpan misteri.

Surat ini sewujud rindu. Kau boleh meragukannya, mencurigakannya, bahkan menertawakannya. Kau pun boleh -- kalau kau mau -- melibatkan seorang siapapun yang pernah kau sebut. Tapi lagi-lagi aku tak akan peduli. Sebab mencintaimu bukanlah sebuah kompetisi. Aku tak akan merasa menang ataupun kalah.

Jika sampai sekarang kau masih enggan terlibat dialog denganku, semoga kau baca surat ini. Memang, aku tak berharap banyak. Tapi setidaknya inilah caraku merawat sesuatu yang pernah kuceritakan padamu, sesuatu yang selalu erat dengan kehilangan, dengan ketakutan.

Apa kabarmu, Kekasih?

Berkelana Bersama Wieteke van Dort

Sumber: last.fm

Lagi-lagi Riko (baca: profil Riko), yang masih menunjukkan kesetiannya kepada musik-musik lawas, merekomendasikan lagu dari penyanyi yang belum pernah saya dengar sebelumnya, Wieteke van Dort. Menurut wikipedia, Louisa Johanna Theodora "Wieteke" van Dort, yang dilahirkan di Surabaya 16 Mei 1943, adalah seorang aktris, kabaretis dan penyayi asal Belanda.

Tak perlu lama-lama membahas tentang riwayat hidup Wieteke van Dort. Ketika Riko memberi rekomendasi kepada saya untuk mendengarnya, saya langsung percaya padanya dan mencari di Youtube untuk mendengarkannya. Pencarian teratas menampilkan lagu Geef Mij Maar Nasi Goreng, dan beruntung saya tak perlu menunggu buffering yang panjang untuk mendengarkan seperti apa musik yang ditawarkan.


Ketika lagu mulai terputar, latar waktu sudah pasti bisa ditebak. Imajinasi saya membawa nuansa  malam yang gelap di masa setelah Indonesia saat itu, yang baru merdeka secara simbolis, mulai mengisi setiap ruang perasaan. Terbayang di kepala saya, para pemuda masa itu sedang berkumpul mendengarkan saluran radio –meskipun saya tak hidup di “masa itu”- yang menjadi satu-satunya hiburan setelah malam menjelang. Riuh rendah musik indorock (atau keroncong atau apapunlah namanya) era 60-an menyihir suasana malam yang perlahan menghanyutkan membawa saya ke masa lampau. Walaupun belum seberapa lama saya mengenal Wieteke van Dort, tak menjadi alasan untuk tidak berimajinasi tentang suasana indahnya malam-malam yang tenang.

Lirik dalam bahasa Belanda yang terselip nama-nama makanan khas dari Indonesia membuat lagu ini terasa dekat secara emosional. Kedekatan ini yang membuat saya lagsung membuat kopi –sesuai saran Riko yang berkata bahwa mendengarkan Wieteke van Dort lebih asyik kalau sambil ngopi- dan saya mulai berkelana ke masa yang entah kapan, namun terasa tentram.

Mungkin benar jika ada yang mengatakan bahwa sebuah lagu memiliki efek psikologis yang dapat menghipnosis para pendengarnya. Hal itu dibuktikan Wieteke van Dort kepada saya melalaui rekomendasi Riko, tentunya. Saya berkelana dengan cepat bersama Wieteke van Dort ke masa lalu, masa di mana negeri ini terasa nyaman. Pun hanya ilusi, tapi terasa nikmat untuk sekedar menemani kopi yang masih hangat.