Tampilkan postingan dengan label May Rahmadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label May Rahmadi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Juli 2014

Istigfar

HARI ini Prabowo mengundurkan diri dari keikut-sertaannya di lakon pemilihan presiden 2014. Dia menolak melanjutkan proses yang sedang berlangsung karena menganggap pemilu yang dilaksanakan KPU ini tidak adil dan tidak demokratis.

Anggapan itu ia ungkapkan lewat pidatonya yang ditayangkan televisi nasional, dengan nada tinggi. Orang-orang menyebut Prabowo gak tahu malu: bukannya mengakui kekalahan, ia malah ngotot, dan marah-marah di pidato  itu.

Saya teringat cerita teman tentang tetangga saya, beberapa hari lalu. Kepada saya, ia bercerita begini:

Bapak itu (tetangga saya) orangnya diem. Kagak pernah marah. Tapi sekalinya marah, bisa parah.

Waktu itu aja dia pernah marahin sodaranya. Di depan pager rumahnya persis. Gue juga gak tahu gara-gara apa. Yang jelas, itu bapak sampe ngebanting sodaranya. Marah-marah lah pokoknya.

Terus istrinya buka pintu rumah. Dia kaget, ngeliat suaminya lagi ngebanting orang. Istrinya cuma bisa bilang, “astagfirullah… Istigfar, pak, istigfar… Nyebut, pak, nyebut.”

Teman saya tak tahu kelanjutannya. Namun saya membayangkan, hati si bapak melunak karena mendengar perkataan istrinya yang ia sayangi itu.

Hmmmm... Kembali ke soal pemilihan presiden. Pemilu tahun ini memang menyedot perhatian banyak orang karena pesertanya adalah seorang kampung bernama Jokowi dan seorang penculik – yang katanya, memiliki ketegasan (kepribadian yang dibutuhkan untuk memimpin negara ini?) – bernama Prabowo. Karena itu, persaingan jadi sengit.

Saat saya menulis ini pun, orang-orang sedang menunggu keputusan resmi KPU di televisi terkait siapa yang memenangkan pemilu 2014. Pendukung Prabowo menonton sambil mengutuk KPU. Pendukung Jokowi menonton sambil berharap tak terjadi kerusuhan setelah KPU memutuskan Jokowi menang.

Saya tidak menjadi bagian dari mereka. Saya tidak peduli dan tidak tertarik.

Saya justru tertarik dengan kuda seharga tiga miliar kesayangan Prabowo. Ketika orang-orang sedang menunggu keputusan resmi KPU, saya sedang membayangkan kuda itu: dia sedang apa? Di mana dia? Bagaimana caranya menyarankan Prabowo agar istigfar dan menyebut nama Allah?


Day 24

Sabtu, 19 Juli 2014

Racauan I

Orang-orang yang es-o-te-er sampai bikin macet dan ngeblock jalan itu, ide awalnya apa, ya? Aku bingung.

Tapi aku yakin, pasti ada orang baik di antara mereka yang riuh-ribet es-o-ti-ar di Jakarta yang kita cinta sekaligus kita love dan kita benci sekaligus kita hate ini.

Hmm soal Jakarta, aku jadi teringat Lucky Anash yang menyedihkan itu. Di lagunya berjudul "Jakarta", ia mengemis, "Jakarta, terimalah aku apa adanya."

Lucky mencintai Jakarta. Tapi Jakarta membenci Lucky. Barangkali karena Lucky miskin dan bodoh, dan buruk dan dungu.

Namun Jakarta di mata Lucky, seperti perempuan di mata Slavoj Zizek, filsuf yang gagal jadi presiden itu. "Kita mungkin tak bisa hidup dengannya," kata Zizek. "Tapi kita lebih tak mungkin lagi hidup tanpanya."

Racauan ini aku tulis setelah melewati jalan raya jam satu malam, yang dipenuhi rombongan sahur on the road sekeramaian parkiran mall saban sabtu.

Kamis, 17 Juli 2014

Pinggulmu Bukan Omelet

Aku bersama anak-anak kita
Menyaksikan pinggulmu di halaman
Bergoyang ke kiri bergoyang ke kanan
Menyisakan suara air menetes-netes
Kau sadar tapi terus memeras baju kami
Dan kau justru bersiul seraya menjemur
Kaos kaki juga celana dalam kami

Barangkali kau mengingat saat kami tertidur
Aku memasukkan tanganku ke dalam celana sambil mengorok
Sedangkan anak-anak begitu pulas
Mereka tetap memeluk perut buncitku
Meski saat terbangun mereka memprotesku

Kau tahu, pagi yang sama tak akan terulang kembali
Ketika kau memberi tahu anak-anak bagaimana suara ayam berkokok
Ketika kau mengajari anak-anak bagaimana cara menyapu dengan sapu lidi
Anak-anak tak peduli
Mereka tetap melompat-melompat sambil menjulurkan tangannya ke langit timur
Mereka masih mengira matahari dapat diraih

Pinggulmu itu
Bukan omelet yang kau buat dengan irisan cabe rawit di saban minggu
Kau bisa lihat kami
Tak berebut mengambil bagian terbanyak sambil saling sikut
Soal pinggulmu itu
Mata kami membuat semacam kesepakatan damai

Kau tentu saja ingat di Depok tak ada bir yang mudah didapat
Waktu kau dan aku pertama kali bertemu
Aku ingin ceritakan itu pada anak-anak kita kelak
Walau kau tak tertarik ikut bersama kami
Anak-anak pasti tetap menyimak cerita itu
Bahkan lebih khusyuk dari pada upaya mereka meraih matahari

Sebab sebelum bercerita, diam-diam aku berbisik cerita itu tentang puisi ini
Lalu aku berjanji akan membacakan puisi ini pada mereka



 Day 19


Senin, 14 Juli 2014

Yang Terpenting dari Partai Final World Cup 2014

Saya tak peduli skor pertandingan final piala dunia 2014 antara Jerman melawan Argentina sebagaimana saya tidak peduli siapa yang memenangkan pemilu tahun ini. Pertanyaan soal mana yang lebih baik antara Jokowi atau Prabowo, bagi saya, tidak penting untuk dijawab. Sama tidak pentingnya bila menjawab pertanyaan mengapa lagu FIFA World Cup 2014 yang dinyanyikan Pitbull dan Jenifer Lopez tak seheboh Waka Waka yang dinyanyikan Shakira, empat tahun lalu.

Yang menarik perhatian saya hanyalah Messi, Mascherano, dan Syurle (dulu saya tak bisa mengucap nama pemain yang berperan Inside Forward di Chelsea ini, sekarang saya lupa bagaimana cara menulis namanya dengan tepat). Mengapa hanya tiga pemain itu? Tentu ini soal keberpihakan. Tuhan saja berpihak, bagaimana mungkin saya bisa tak berpihak sebagaimana Tempo dan juga Jakartapost, yang belakangan sering diperbincangkan?

Karena itu, sebagai pecinta Chelsea sejak Ginfranco Zola dan penikmat Barcelona sejak Rivaldo, saya mencatat beberapa hal dari tiga pemain tadi di pertandingan final kemarin:

1)    Persetan Charles Puyol sebab Mascherano kini sudah menjadi badak! Sejak dipegang Pep Guardiola, kemampuan bertahan Mascherano semakin menajam. Itu terbukti di piala dunia tahun ini. Ia bermain sangat gemilang dalam menjaga keamanan kiper Sergio Romero.  Macherano bahkan menjadi pemain terbaik di pertandingan melawan Belanda berkat beberapa penyelamatannya. Selain itu, ia kerap menyemangati tim setiap jeda perpanjangan waktu. Maka, kehilangan sosok Charles Puyol di Barcelona sebetulnya hal yang tak penting-penting amat.

2)  Lionel Messi begitu berambisi menjuarai piala dunia tahun ini. Kata teman, Messi pernah mengatakan, jika diberi pilihan, Messi memilih mendapatkan piala dunia dari pada berderet prestasi yang kini sudah diraihnya. Ia barangkali benar-benar ingin menjadi legenda sebagaimana Maradona. Dengan ambisi sekhusyuk itu, ia bermain sangat baik sehingga mendapat predikat pemain terbaik. Ia mungkin akan mendapatkan piala dunia empat tahun mendatang ketika dengkulnya sudah semakin rapuh di usia 31 tahun. Soal Messi di Barca, siapa peduli? Sebab, publik Katalan telah menyambut kedatangan Si Bangor Luiz Suarez!

3)  Bocah tengik bernama Mario Goetze itu seharusnya tak disanjung melebihi Syurle! Dia memang mencetak gol, tetapi yang menciptakan gol tersebut sesungguhnya adalah Syurle. Tampil sebagai pemain pengganti, dia begitu apik mendobrak pertahanan Argentina. Dan satu-satunya gol yang ada di pertandingan tersebut terlahir berkat umpan dari kakinya! Dialah sebetulnya sang pahlawan. Ya, dia pemain Chelsea! Dan Chelsea telah resmi mendapatkan Cesc Fabregas, dari Barcelona!



Day 16

Minggu, 13 Juli 2014

Menjilat Takdir

Asap tebal terhembus. Mengepul dan menebas udara menjadi beberapa bagian, sebelum terbang, kemudian menghilang. Ia tak akan kembali. Ia pergi saja tanpa menghawatirkan apa-apa. Ia tahu tak akan terbakar sayapnya di ketinggian karena ia bukan Icarus.

Udara memahami betul semua yang terjadi sebagaimana ia memahami deret Fibonacci. Tapi ia selalu berbaik hati meski asap tak pernah peduli. Ketika asap menembusnya, udara membiarkan dirinya terbelah, pecah, bahkan bila harus berdarah. Ia mengerti, asap adalah bagian dari dirinya.

Orang-orang bilang lautan tak mungkin diteguk hanya dengan satu-dua tarikan nafas. Tapi orang-orang bilang bulan dapat ditiup dengan perut mabuk. Dan perang yang tak akan kita selesaikan adalah melawan keinginan untuk kembali pulang.

Menurut langit, udara sedang berupaya menjadi kuat. Udara sebenarnya tak sanggup menerima takdir untuk selalu pasrah. Tapi langit tak bisa berbuat apa-apa. Pada saat Tuhan menjilatkan takdir pada ruh udara, langit mendapati api tengah menelanjangi diri. Ditatapnya api itu penuh curiga. Api yang penuh siasat, penuh isyarat.

Tapi langit menolak memberi tahu kabar itu kepada asap. Ia hanya anggap itu bagian dari hidup.

Kamis, 10 Juli 2014

Rakus

Lelaki kurus itu berjalan mendekati meja makan. Pelan-pelan berjalan dengan sekujur tubuh gemetar. Tangannya juga bergetar.

Matanya melotot. Bibirnya bergerak-gerak seperti orang stroke. Kepalanya yang agak patah ke samping, juga bergerak-gerak. Ia bertelanjang dada.

Di meja makan, ada banyak makanan. Ada nasi, sop, daging, buah-buahan, dan beberapa plastik. Banyak sekali makanan terhampar tak beraturan. Dengan tangan gemetar, lelaki itu menarik kursi di meja makan, lalu duduk.

Ia sejenak mengamati seluruh makanan yang ada di hadapannya. Kemudian perlahan memakannya dengan tangan kanan.

Satu suap, dua suap, tiga suap, kecepatannya menyuap semakin cepat. Semakin cepat dan terus semakin cepat. Ia kemudian menggunakan tangan kirinya juga untuk menyuap. Kecepatannya terus bertambah hingga suara lelaki itu keluar, seperti menggumam.

Lama-lama, kedua tangannya itu menyuap makanan dengan cara menggenggam. Digenggamnya makanan di meja itu secara acak. Suapan sebesar genggaman tangannya membuat makanan-makanan itu memenuhi mukanya. Gumamannya juga semakin keras.

Ia begitu nafsu memakan seluruh makanan di meja itu. Ia ingin menghabiskan semuanya. Detik demi detik hasrat memakannya semakin besar. Hingga akhirnya dia muntah di meja makan. Ia muntah begitu banyak.

Ketika muntahnya tak lagi keluar, ia jatuhkan kepala dan tangannya di atas meja makan, di atas makanan dan muntahannya. Ia diam beberapa jenak sambil menggumam dan nafasnya tersendat. Kemudian ia bangun, lalu tersenyum, dengan tubuh yang masih gemetar.



Day 12

Selasa, 08 Juli 2014

Menghadirkan Masa Lalu di Masa Kini

LELAKI di depan saya tak mengerti bagaimana mungkin namanya berasal dari nama mantan pacar ibunya. Lebih dari itu, ia tak mengerti mengapa ayahnya menyetujui nama tersebut. Ia mengetahui kenyataan itu dari cerita ibunya.

Yang menarik, saat si ibu bercerita, ibunya menunjukkan foto mantan pacarnya itu kepadanya. Tak hanya itu, si ibu juga menunjukkan foto mantan pacar ayahnya. Jadi, si ibu tak hanya menyimpan rekaman masa lalu dirinya, tapi juga menyimpan rekaman masa lalu ayahnya.

Teman saya itu mengaku tak memahami bagaimana cara berpikir orang tuanya dalam memandang masa lalu. Jika ayahnya lelaki biasa, tentu ia merasa ada yang tak baik-baik saja ketika istrinya memberi nama anaknya dengan nama mantan pacar si istri. Apa lagi, itu dilakukan menggunakan kesadaran penuh, juga dengan kejujuran mengungkapkan bahwa nama tersebut adalah nama mantan pacarnya.

Ibu teman saya juga tampak tak seperti perempuan biasa. Itu karena ia menyimpan foto mantan pacarnya dan foto mantan pacar suaminya sekaligus. Entah apa yang ada di pikirannya. Ketika saya tanyakan pada teman saya, ia tak tahu.

Saya mengatakan kepada teman saya, hal tersebut menandakan, ibunya tak membiarkan masa silam dirinya dan suaminya berlalu dan terlupakan. Sebab, menyimpan foto mantan pacarnya dan mantan pacar suaminya adalah usaha mengekalkan masa lalu. Dan menyamakan nama anak dengan nama mantan pacar adalah menghidupkan masa lalu itu di masa kini.

Teman saya tak tahu-menahu hal yang sebenarnya. Yang jelas, teman saya itu menceritakan hal tersebut dengan nada melawak. Wajahnya tampak biasa-biasa saja. Ia tak melihat ada masalah dari fakta di balik namanya. Tapi ia tertarik menggali lebih dalam pemikiran orang tuanya.


Day 10

Senin, 07 Juli 2014

Berhala

Saya punya pengalaman menarik terkait efek televisi. Beberapa tahun lalu, saya membeli rokok di warung. Di sana, saya mendapati perempuan penjaga warung sedang membelakangi saya karena tengah menonton sinetron di tv. Saya memanggilnya untuk memesan rokok. Lalu rasa canggung tiba-tiba hadir tatkala perempuan itu menoleh ke arah saya dalam keadaan menangis terisak. Rupanya ia menangis lantaran menonton sinetron yang waktu itu memang sedang mendapat rating yang tinggi.

Begitu gaibnya sebuah kotak bercahaya di hadapan manusia. Kotak itu bisa membuat orang menangis, tertawa, dan bahkan horny. Segala yang ada dalam kotak tersebut, seolah-olah adalah kenyataan yang utuh, penuh, dan apa adanya. Sialnya, banyak orang percaya saja.

Acara-acara tv barangkali memang berfungsi untuk memberi pengalaman atau pengetahuan yang tak bisa kita alami atau ketahui di kenyataan. Bila ingin melihat macan, kita tak perlu membuang uang untuk pergi ke Ragunan, sebab macan ada di tv. Bila ingin mengetahui kondisi luar angkasa, kita tak perlu membuang-buang tenaga naik jet, karena bisa kita lihat dengan memutar film Gravity.

Itu kenapa tv menjadi menarik, apa lagi bagi penjaga warung berusia tua yang kerjanya hanya menunggu pembeli datang. Tv menjadi menarik sejauh ia tak sama dengan kenyataan yang penonton dapat alami atau ketahui. Agar tetap menjadi menarik, tv bahkan kerap memproduksi sesuatu yang bahkan tak mungkin terjadi di kenyataan.

Namun begitulah tv. Ia memproduksi mimpi. Mimpi tentang anak remaja yang memiliki pacar seorang monyet atau seorang serigala. Mimpi tentang tukang becak berlarian di pinggir pantai sambil menggenggam tangan pacarnya yang super cantik. Mimpi, mimpi, dan mimpi.

Sampai di sini, batas antara realitas dan imajinasi pun melebur. Kita sulit membedakan mana yang fakta mana yang fiksi. Segalanya ada di tv, bahkan sesuatu yang tak ada pun, bisa ada di tv. Seluruh imaji sudah habis dilumat televisi.

Maka, seperti kata Melancholic Bitch di lagu Mars Penyembah Berhala:

Siapa yang membutuhkan imajinasi jika kita sudah punya televisi?

Karena itu, tv seperti dipuja, seperti disembah. Ia seperti berhala. Melbi pun berkhotbah di lagu itu:

Sodara… Sodara-sodara...
Sodara-sodara dalam iman
Letakkan kedua tangan sodara di layar kaca
Pejamkanlah kedua mata sodara
Dan dalam gelap itu, sodara, lihatlah satu titik cahaya di kejauhan 
Biarkan cahaya itu mendekati sodara
Lalu capailah cahaya itu, sodara, dengan kedua tangan sodara
Genggamlah ia... genggamlah ia sodara
Sebab semesta ada di tangan sodara
Sebab semesta ada di tangan sodara
Sebab semesta, sodara... telah pepat... telah pepat dalam 14 inchi 


Day 9


Sabtu, 05 Juli 2014

Bangku

Masih kosong. Pastilah bangku di taman itu masih kosong. Tentu karena hujan tak kunjung berhenti meski sudah berjam-jam. Tapi ketabahan saya bukan sebuah bulan Juni dan tulang punggungku tak sekeras teriakan Kurt Cobain dalam Smells Like Teen Spirit. Namun ia punya kegelisahan yang dimiliki kemarau panjang tentang air yang jatuh dari langit.

Kaki Langit barangkali tak akan tercapai meski definsi jarak diterjemahkan dengan menggabungkan bahasa Indonesia dan Inggris. Sebab, peluang menang bergantung seberapa besar uang seseorang, bukan pada optimisme atau harapan yang kelak menjadi kesia-siaan semata. Maka biarkan hidup bertahan lebih panjang dari pilek yang diderita Bruce Lee.

Dari jendela kamar, aku melihat bayangan orang-orang yang tak jelas detilnya melintas deras lewat depan rumahku. Aku tahu itu hanya halusinasiku. Mungkin Tuhan sedang memberiku kejutan. Entah apa maksudnya. Memang, bayangan-bayangan itu sesaat melupakanku pada hujan yang tak kunjung selesai.

Tapi dari bayangan-bayangan itu, ada seekor Kuda meluncur dari jarak yang tak akan sampai aku tempuh. Kuda berkulit hitam itu berlari menunduk, kencang, menabrak segala yang ada di depannya. Aku mendengar ledakan yang begitu kencang dari arah taman. Sepertinya, Kuda itu menabrak bangku yang selama bertahun-tahun belum sempat aku duduki. Sebuah bangku emas dengan tekstur berduri.


Day 7

Jumat, 04 Juli 2014

Tentang Garuda Merah dan Bahaya yang Ada di Depan Mata

SPEEDOMETER motor saya berada di angka 80 kilometer perjam. Itu terlalu cepat buat saya, orang yang begitu hati-hati dan tak pernah sekalipun jatuh saat mengendarai motor. Sore itu jalan raya sepi dan motor saya berlari kencang karena dipicu rasa semangat menemui pacar.

Tapi ada yang membuat saya melambatkan kecepatan. Di iklim kampanye dan waktu menjelang pemilu seperti ini, segala cara digunakan guna mencitrakan diri -- kalau tak tepat disebut mempromosikan diri. Karena itu, pandangan saya disesaki berbagai spanduk, baligo, serta stiker bergambar salah satu capres-cawapres. Yang menarik perhatian hingga membuat saya melambatkan motor adalah gambar burung garuda berwarna merah dengan background putih.

Logo itu ada pada spanduk dan baligo besar di pinggir-pinggir jalan. Tak jarang juga, ada di helm dan motor banyak orang. Kita tentu tahu garuda merah berlatar putih itu mengasosiasikan pada nomor urut satu, Prabowo-Hatta, bahkan bila gambar itu tak diperkuat dengan kata-kata.

Itu karena seorang bajingan bernama Ahmad Dhani. Di televisi, pada sebuah iklan, Dhani bersama kawan-kawannya menggunakan burung garuda sambil menyanyikan lagu "We Will Rock You" milik Queen yang diubah liriknya guna mendukung Prahara (Prabowo-Hatta Rajasa). Lebih dari itu, karena Dhani ingin menjadi lebih berengsek lagi, ia pun menggunakan baju tentara NAZI di video tersebut. Alhasil, kampanye itu mendapat predikat dari TIMES sebagai kampanye teburuk sepanjang masa.

Sambil terus memacu motor, saya melihat-lihat garuda merah itu. Lalu saya teringat pada sebuah undang-undang negara. Saya lupa undang-undang tersebut bagaimana. Tapi anda bisa mencarinya di google. Undang-undang itu mengatakan, menggunakan burung garuda (simbol negara) untuk kepentingan partai adalah tindakan pidana. Itu artinya, Ahmad Dhani atau mungkin tim sukses Prahara telah melanggar hukum.

Saya tak sedang memojokkan Prahara. Toh, saya juga tak suka si kerempeng Jokowi. Yes, saya tak memilih. Saya tak akan datang ke TPS. Jika anda berpikir bahwa sikap saya adalah sebuah kesalahan karena suara saya mungkin akan disalahgunakan, itu berarti mitos yang dibangun media massa sudah melekat di kepala anda. Bukankah yang menyebarkan kabar terbsebut adalah media?

Hmmm... Namun sekalipun itu bukan mitos, yang seharusnya dilakukan media bukanlah mengajak orang-orang untuk tidak golput. Tetapi mengkritisi KPU karena kecolongan: terjadi penyalahgunaan kertas suara. Bila yang dituntut media adalah orang-orang golput, itu terkesan bahwa penyalahgunaan adalah hal yang wajar.

Ah sudahlah, lebih baik saya kembali memacu sepeda motor karena saya sudah sangat merindukan pacar.

Dengan kecepatan normal dan mengabaikan segala bentuk kampanye di pinggir jalan, saya bernyanyi santai. Jalan raya hanya ada beberapa mobil dan motor saja. Tetapi, ada yang menarik ketika saya harus berhenti di depan rel karena bunyi alarm tanda kereta segera lewat.


Saat itu, palang portal rel kereta pelan-pelan turun. Beberapa motor tetap bandel, nyelonong saja, tak sabar menunggu kereta lewat. Satu mobil pun coba melakukan itu. Tetapi ia ragu-ragu. Karena kereta sudah hampir lewat, ia pun mau tak mau behenti tepat di bawah palang portal yang bergerak turun. Terjepitlah mobil itu!

Saya tak tahu apa arti hari ini bagi diri saya. Singkat cerita, akhirnya saya sampai di tempat pacar. Hal pertama yang saya lakukan bukanlah memeluk atau menciumnya, tapi mengisahkan semua pengalaman tadi kepadanya, berharap ia menawarkan pemaknaan untuk hari saya.

Namun sialnya, belum selesai saya kisahkan semua, saya menyadari: televisi di depan kami sedang menayangkan Aa Gym di TvOne. Aa tengah berbicara mengenai pemimpin dari sudut pandang Islam. Kita tentu tahu TvOne memiliki haluan kemana, dan Aa Gym berpihak kepada siapa. Saya lalu meminta pacar saya mematikan televisi.

Saya pun teringat dengan status facebook seorang kawan. Di status itu, ia menganjurkan agar tidak golput. Sebab, "bahaya ada di depan mata," tulisnya.




Day 6

Kamis, 03 Juli 2014

Onani

DI HARI ke lima dalam tantangan 30 Hari Menulis, saya tak  mau lalai lagi. Kemarin saya mengabaikan kewajiban menulis di blog ini karena saya tak punya waktu membuka laptop. Namun itu mungkin hanya alasan seorang pengingkar janji amatir saja.

Yang jelas, kini saya tak mau lalai lagi. Tetapi sekarang sudah pukul setengah 11, dan saya baru sempat membuka laptop, dengan kepala kosong. Sedangkan Bayu dan Heri sudah merampungkan tulisannya.

Karena saya tak punya banyak waktu memikirkan apa yang perlu saya tulis, jadi saja saya menulis spontan begini. Cuek. Toh, dalam 30 Hari Menulis, tidak ada yang tidak layak tulis. Kalau saja ada kesepakatan tertentu tentang tema dan blablabla-nya, itu hanya omong kosong belaka. Boleh dipatuhi, boleh tidak.

Intinya, bebas saja. Tak peduli apapun. Semuanya bisa ditulis tanpa perlu memikirkan apa pentingnya tulisan tersebut, apakah informatif atau tidak, dan menarik atau tidak. Sebab, blog ini hanya tempat onani. Tempat onani berjamaah.

Karena onani berjamaah, kami bisa saling melihat bagaimana cara masing-masing kami melakukan onani, dan bagaimana sensasi pada saat orgasme dalam tulisan. Itu berarti, saat anda membaca tulisan di blog ini, anda juga sedang melihat kami onani dan orgasme sendiri.

Tapi jika itu tak terasa, anda barangkali perlu mengklik Tentang Kami di blog ini, lalu lihat dengan seksama tampang Bayu dan Heri. Itu mungkin mampu membantu anda membayangkan mereka onani dan orgasme sendiri.

Jika anda tertarik tertarik lebih jauh, perlu saya beri tahu, saya dan Heri sudah punya pacar.

___________________________

Catatan: Saya tahu ada beberapa teknik melakukan onani. Otong Koil, misalnya, seringkali menganjurkan followers twitternya agar onani dengan menggunakan kabel telepon. Selain itu, di Kaskus, saya juga pernah melihat thread soal bagaimana cara membuat vagina buatan dengan daging sapi sebagai alat onani. Sayangnya, barusan saya cari, thread itu sudah dihapus. Namun ternyata ada orang yang menulis ulang thread tersebut di blog pribadinya.

Day 5

Selasa, 01 Juli 2014

Move On


SEMENJAK Raditya Dika, saya berhenti menggunakan istilah "move on". Sekali ini saya ingin menggunakannya karena melihat sendal jepit saya. Entah apa hubungannya.

Maka begini, "move on" sangat berkaitan erat dengan masa lampau. Dan masa lampau adalah sejarah. Saya akan coba ngomong soal cara menafsirkan sejarah menggunakan Nietzsche, sehingga kau tahu bagaimana sebaiknya memandang masa lalu bersama mantan kekasihmu.

Nietzsche ngomong, ada tiga cara memandang sejarah; sejarah monumental, sejarah antikurian, dan sejarah kritis.

Yang pertama, memandang sejarah sebagai sebuah monumen kebesaran. Ada semacam pengagungan terhadap peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di masa lampau. Peristiwa-peristiwa itu, digunakan untuk merealisasikan diri di masa sekarang. Ini terjadi ketika kau coba menghadirkan situasi dan kondisi masa lampau dengan mantanmu, untuk masa kini bersama pacarmu.

Yang kedua, sejarah antikurian. Ini mirip dengan sejarah monumental. Bedanya, sejarah antikurian mengagungkan identitas (sosok) di masa lalu. Di sepakbola, ini tampak saat Giggs menjadi manager MU. Dia menggunakan seluruh ke-Fergie-an untuk menghidupkan MU. Bila kau mengidentifikasi diri mantanmu untuk nafasmu hari ini, kau mempraktikkan sejarah antikurian.

Yang ketiga, sejarah kritis. Sejarawan kritis memandang masa lampau dengan lebih ilmiah. Segala hal tentang masa lampau yang dianggap membebani masa sekarang, diteliti untuk dilupakan. Karena, dengan begitu, kebebasan dirasa nyata.

Lalu, dengan cara apa kita memandang masa lalu?

Terimakasih sendal swallow...

Day 3

Senin, 30 Juni 2014

Subuh

“BAGAIMANA bisa kamu lupakan yang tak mungkin dilupakan?”

Itu penggalan lirik lagu Kotak Band berjudul Selalu Setia yang mendabak terdengar saat saya hendak tidur dan pacar saya tengah sibuk bermain Farm Saga di tab-nya, beberapa waktu lalu. Siang itu, tetangga kos pacar saya memutar lagu tersebut dengan volume sangat kencang.

Saya tiba-tiba saja ingin menulis sesuatu karena mendengar penggalan lirik tadi. Saya membayangkan, tulisan saya dibuka dengan kalimat: “yang tak ingin aku lupakan…”

Tapi itu belum menjadi kalimat. Saya kemudian membuka mata dan mendesak pacar saya menuntaskan kalimat tersebut. “… tumbuh di keheningan,” katanya.

“Yang tak ingin aku lupakan, tumbuh di keheningan.”

Aih, keren sekali, pikir saya. Masalahnya, saya tak tahu harus membuat tulisan seperti apa dengan kalimat pembuka sekeren itu. Saya berpikir sejenak, tapi ide tak saya dapati. Saya berpikir dua jenak, ide tetap tak saya dapati.

Kalimat sekeren itu tak mungkin saya lupakan begitu saja. Saya butuh ide cerita guna membuatnya berfungsi. Namun berhari-hari saya mencari, ide tak juga saya temui.

Sampai akhirnya Ramadhan tiba. Saya pun teringat dengan pengalaman batin yang terjadi ketika subuh di setiap bulan puasa.

Bagi saya, subuh di “bulan suci” ini berbeda dengan subuh biasa. Itu karena pukul tiga pagi saya terbuat dari teh manis dan masakan ibu di tengah suara petasan yang riuh rendah, bukan terbuat dari rokok, kopi, dan laptop dengan lembaran microsoft word yang kosong seperti subuh yang sering kali saya alami.

Sekitar pukul empat, setelah saya sahur, saya selalu merokok sambil berjalan menuju masjid. Udara saat itu masih terasa begitu dingin. Terlebih lagi, suasana juga sepi. Dingin dan sepi. Tapi di kondisi seperti itulah saya merasa ada yang “hidup” di batin saya. Semacam kekosongan bernyawa. Serupa kehampaan yang nyata, meski suara petasan menyala.

Saya tak hendak memistifikasi “bulan suci”. Saya hanya tak bisa berpura-pura mengabaikan perasaan saya.

Maka, Ramadhan bagi saya adalah pertanda hadirnya Gaib subuh di antara suara petasan yang riuh. Kegaiban yang tetap hening di tengah ledakan petasan yang lengking.

"Yang tak ingin aku lupakan, tumbuh di keheningan.”

Day 2

Minggu, 29 Juni 2014

Di Minimarket

ORANG di sebelah saya pura-pura tak peduli ketika saya mempertanyakan si mas kasir tentang uang kembalian yang saya terima. Ia yang mendengar betul beberapa pertanyaan saya kepada si mas kasir, baru menatap ke arah saya ketika saya beranjak pergi dari mini market itu.

Kejadian tersebut bermula ketika saya membeli rokok di sana. Harga rokok saya 14.300 rupiah. Saya membayarnya 100.000. Tentulah saya berhak menerima uang kembalian senilai 87.700. Tapi tanpa babibu, tanpa satu kata pun keluar dari mulut si mas kasir, ia memberi saya hanya 87.500. Itu berarti uang kembalian saya kurang 200.

Pada saat itu, orang di sebelah saya tampak sedang mengutak-atik handphonenya. Saya tahu, itu hanya blocking saja lantaran ia mendengar percakapan serta teguran saya kepada si mas kasir.

“Bukankah harganya 14.300, mas?” tanya saya pada mas kasir.

“Iya, pak. Itu kembalinya,” katanya.

“Ini kok cuma 87.500, mas?”

Ia mengambil uang 500 rupiah. Tapi uang itu tak ia berikan pada saya. Ia hanya menggenggamnya sambil berkata, “200-nya gak ada, pak.”

Saya masukkan uang kembalian tadi ke dompet. “Kalau gak ada kembaliannya kenapa harganya mesti nanggung gitu?” tanya saya. “Harusnya uang kembaliannya disiapkan.”

Mas kasir itu diam saja. Orang di sebelah saya masih pura-pura main handphone.

“Lain kali, sediakan uang recehan, ya, mas,” sambung saya.

Mas kasir tak berani menatap saya. Ia hanya menganggukkan kepala dengan uang 500 rupiah yang masih dipegangnya.

Saya beranjak keluar mini market itu. Ketika menyalakan motor, mas kasir dan orang di sebelah saya tadi, tengah melihat saya dengan seksama. Dengan matanya, mereka menghukum saya padahal saya hanya mempertanyakan hak saya. Mereka barangkali berpikir saya orang yang pelit, atau orang yang ribet karena ributkan hal sepele.

Itu bukan pengalaman pertama saya. Sebelumnya, saya pernah mengalami hal serupa. Hanya saja, waktu itu caranya lebih “bermoral”: si kasir meminta saya mengamalkan kembalian yang “nanggung” itu.

Pengalaman tersebut menandakan satu hal: betapa remehnya uang recehan kini hingga seolah sudah selayaknya diabaikan atau digunakan untuk beramal, dan tak perlu dipertanyakan.

Saya jadi teringat dengan obrolan bersama teman saya, perempuan, tentang apa yang kebanyakan perempuan rasakan saat diminta Make Love dengan pacarnya. Teman saya mengatakan, kebanyakan perempuan ML dengan pacarnya tanpa kemauan sendiri, meski para perempuan itu bilang mereka melakukannya atas dasar mau sama mau, tanpa paksaan. Maksud teman saya, kebanyakan perempuan “dikondisikan” untuk mau, bukan karena memang mau.

Ketika berada dalam sebuah ruangan, berdua saja,  menurut teman saya, para perempuan kerap berada dalam kondisi yang membuat dirinya gak enakan. Dari hati kecilnya yang paling halus, para perempuan itu takut “terhukum” (semisal konsekwensi dari kekecewaan si pacar) bila menolak. Di titik itu, mereka berada dalam kondisi yang seolah membuat dirinya “mau”.

Kembali ke cerita saya, keadaan seperti itulah yang dialami banyak orang ketika berbelanja di minimarket. Kita berada dalam kondisi yang membuat kita seolah memang mau beramal ketika kasir minimarket bilang, “sisanya boleh diamalkan?” Dengan kata lain, kita dikondisikan untuk tak berkuasa mengatakan tidak karena takut dibilang pelit atau meribetkan hal yang – mungkin mereka pikir – sepele sekali untuk diributkan.

Memangnya, sejauh apa kita meremehkan uang recehan saat ini, sehingga kita seolah tak pantas lagi mempertanyakannya? Lagi pula, apakah recehan kita yang kita amalkan pada mereka betul-betul mereka amalkan? Atau jangan-jangan, recehan yang kita abaikan itu malah menjadi bagian dari keuntungan mereka?

Sudahlah, begitu saja cerita saya di hari pertama proyek 30 hari menulis ini. Sampai di sini, tentu Bayu dan Heri akan protes tulisan saya. Karena, kesepakatan awal kami, selain tiap orang memposting satu tulisan setiap hari selama 30 hari, tema tulisan juga harus bernafaskan Ramadhan.

Bayu sudah lebih dulu memposting tulisan. Ia tahu betul bagaimana cara menjadi “islami”. Karena itu, ia sok menjadi “Arab” sejak judul: ia menggunakan “kun fayakun”.

Agar tulisan ini agak memenuhi syarat kesepakatan awal, maka saya letakkan saja satu ayat dari Al-Quran hasil googling dengan keyword “ayat Al-Quran tentang cinta”:

ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الآخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

"Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya, mereka mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir." – (QS.16:107)


Day 1

Senin, 14 Oktober 2013

Merah Mani

Saya tak tahu harus menulis apa. Billing warnet saya tinggal sejam. Dari pada saya membuang waktu dengan memikirkan harus memposting apa, lebih baik saya posting asal-asalan saja. Sebab saya juga ingin main dota.

Tulisan ini tentang Tempo Institute yang typo menulis nama saya di websitenya. Nama saya May Rahmadi. Tapi Tempo Institute salah menulisnya sehingga menjadi "May Rahmani".


Nama saya jadi ngeri sekali. "May Rahmani", bisa saja dibaca menjadi "Merah Mani". Mani adalah sperma. Jadi, Merah Mani adalah sperma yang berwarna merah. Bayangkan...

Minggu, 13 Oktober 2013

Membandingkan Eleven dengan Abominasi Zine

Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta tengah merindukan terbitan-terbitan mahasiswa, dari yang sifatnya informasi, persuasi, atau bahkan propaganda. Hal tersebut saya simpulkan dari setidaknya beberapa tongkrongan yang saya ikuti.

IISIP (dulunya Sekolah Tinggi Publistik) – yang terkenal dengan sebutan “Kampus Jurnalistik” – memang minim sekali terbitan mahasiswa. Kampus yang selalu memiliki jumlah pendaftaran terbanyak pada jurusan jurnalistik ini juga tidak memiliki Lembaga Pers Mahasiswa yang menjalankan fungsi anjing penjaga (watch dog function).

Pertanyaan mengenai mengapa tidak ada LPM yang menjalankan fungsi anjing penjaga, rasanya lebih tepat dibebankan pada pundak Himpunan Mahasiswa Jurnalistik.

Himajur sebenarnya punya sebuah terbitan bernama Eleven (terbitan tertua di IISIP, klaim redaksinya). Saya mendapatkannya beberapa hari lalu. Namun belum lama juga saya menemukan sebuah zine bernama Abominasi. Oleh karena itu, dari pada menjawab pertanyaan tadi, di sini saya ingin menulis review dengan membandingkan keduanya, membandingkan antara yang legal dengan yang ilegal. Ada beberapa segi yang ingin saya bandingkan: struktur redaksi, teknik penulisan, layout, dan harga.

Yang Legal dan Yang Ilegal

Abominasi adalah zine yang dicetak secara mandiri, independen, dan ilegal, oleh seorang mahasiswa jurnalistik angkatan 2012, Bima. Mandiri, maksud saya, adalah konten dan proses produksinya digarap sendiri. Independen artinya Bima berada di wilayah yang bebas nilai (tidak membawa kepentingan dari pihak tertentu). Ilegal berarti tidak memiliki izin resmi dari pihak kampus.

Sekitar sebulan lalu, saya menemukan Abominasi. Bima menerbitkan zine ini benar-benar apa adanya – kalau tidak boleh dibilang sebisanya. Bima menyebarkannya dengan semangat berbagi informasi dari apa yang ia sukai: metal. Saya sempat mereviewnya. Apa yang telah Bima lakukan menyiratkan pesan bahwa menerbitkan karya adalah hal yang mudah.

Lalu kemarin saya menemukan Eleven (edisi Oktober 2013), terbitan legal dari Himajur. Seperti yang sudah saya tulis tadi, legal dalam pemahaman banyak siswa berarti memiliki izin dari kampus, paling tidak organisasinya. Entah siapa yang membentuk pemahaman seperti itu.

Eleven hadir dengan semangat “mendidik para anggota Himajur untuk menjadi wartawan andal,” begitu tulis redaksinya. Media ini, lanjutnya, “diperuntukan bagi para calon jurnalis muda untuk berlatih menulis berita dengan baik.”

Pembuatan media, secara teknis jelas terkait dengan, setidaknya, dua mata kuliah di jurusan jurnalistik: Bahasa Indonesia Jurnalistik dan Editing dan Produksi Media Cetak. BIJ penting dalam hal konten, dan EPMC perlu paling tidak dalam segi “tampilan”.

Sebagai media yang ingin melahirkan “wartawan andal” (apapun maknanya istilah ini) – seperti yang diklaim redaksinya – Eleven tak mempraktikkan dengan baik ke dua mata kuliah yang saya sebut tadi.

Jajaran Redaksi Tak Berarti Bikin “Rapih”

Berbeda dengan Eleven, Abominasi tak memiliki struktur yang jelas dan rinci. Eleven Nampak lebih professional dengan jajaran dredaksi dari Pemimpin Umum sampai Layouter. Sedangkan dalam Abominasi, seluruh proses penggarapannya – dari penentuan konten, penulisan, sampai urusan layout – dikerjakan oleh Bima seorang. Tetapi jajaran redaksi rinci yang dimiliki Eleven tak serta merta membuat Eleven lebih rapih dibanding Abominasi.

Salah satu contohnya, dari segi penulisan. Eleven secara terang benderang tidak menerapkan dengan baik apa yang telah dipelajari di kelas BIJ. Entah sengaja atau tidak, saya melihat banyak kalimat yang tak logis, kata mubazir, dan penulisan judul yang salah. Hal serupa tentu saja dapat juga ditemukan di Abominasi yang tidak memiliki editor khusus.

Selain itu, layout Eleven nampak lebih parah dari pada Abominasi. Tata letak Eleven sangat tidak teratur. Itu dapat tergambar dari banyaknya spot kosong yang terbuang sia-sia sehingga memakan banyak halaman, serta penggunaan ukuran huruf dan line spacing yang tidak konsisten. Itu sangat tidak enak dilihat. Di persoalan ini, saya malah melihat layout Abominasi yang dibikin Bima secara manual (dengan mengeprint-tempel-fotocopy) malah sedikit lebih baik.

Soal harga adalah yang paling menarik. Harga Eleven dipatok Himajur 5000 rupiah. Hal tersebut, mengutip teman saya, “harga yang tak masuk akal, mengingat daya beli anak-anak IISIP itu susah.”  Sedangkan Abominasi, disebarkan secara gratis seperti udara. [1]

Sebenarnya ada hal lain yang layak dibandingkan: cover dan gambar (citra media), rubrikasi (apa yang ingin dikatakan), dan isi (bicara soal apa). Soal itu, barangkali teman saya yang lain saja yang mengulasnya.

Sangat disayangkan jika Himpunan Mahasiswa Jurnalistik tak mampu mempraktikkan kegiatan jurnalistik dengan baik dan benar. Saya malah melihat Abominasi sedikit lebih keren. Jika tidak percaya, silahkan bandingkan sendiri.

***
[1] Bima sempat mengatakan perihal proses produksinya pada saya. Kalau tidak keliru, ia mengeluarkan uang 125 ribu untuk menghasilkan 35 eksemplar Abominasi Zine.



Sabtu, 12 Oktober 2013

Perjalanan Mabuk

berjalanlah menyusuri angin
menembus gedung pencakar langit
menerjang ombak-ombak lautan
mengitari samudra
dan bermuara pada senja
di seberang dunia
singgah meneguk anggur
lalu berjalan lagi
mabuk
menuju matahari

Jumat, 11 Oktober 2013

Polisi Mengingatkan Saya dengan Babi

Tadi siang polisi menilang di rel kereta tempat di depan kampus saya. Saat itu saya hendak membeli bubur di seberang kampus saya.

Saya dan anda tentu saja tak punya kepentingan apa-apa dengan polisi. Maka slogannya yang melindungi dan mengayomi masyarakat hanyalah omong kosong belaka. Polisi hanya melindungi negara. Mereka hanya mengayomi para pemilik modal. Keberadaannya tak akan pernah berpihak pada masyarakat.

Di tengah penilangan itu, saya sempat berdebat alot. Polisi memang selalu menjengkelkan. Tai kucing lah liputan di media massa mengenai polisi-polisi cantik atau pun yang baik hati.

Perdebatan itu mengingatkan saya dengan Babi. Babi yang saya maksud adalah sebuah cerpen dari Romi Zarman di Koran Tempo 17 Oktober tiga tahun lalu.

Agar jelas mengapa pengalaman saya dengan polisi itu bisa terhubunga dengan ingatan saya mengenai Babi, maka simaklah sendiri cerpen ini: klik.

Rabu, 09 Oktober 2013

Catatan Semester Dua di Kelas Penulisan Berita

Saya teringat dua semester lalu, saat saya masih mengambil mata kuliah Penulisan Berita. Bang Norman adalah dosen mata kuliah itu. Ia kini memimpin Redaksi Sinar Harapan.

Ia sering sekali bercerita tentang bagaimana sulitnya menjadi wartawan. Selama 14 kali pertemuan, ia hampir selalu menceritakannya. Gaya ceritanya yang antusias membuat semua mahasiswa dengan seksama menyimak.

Yang paling saya ingat saat ia bercerita bagaimana menjadi wartawan berarti juga menjadi musuh beberapa pihak. Wartawan kerap menimpa kekerasan. Tentu saja hal itu dilakukan oleh "penguasa" yang tidak menyukai keberadaannya.

Bang Norman sering berpesan agar selalu bekerja dengan hati. Hal tersebut tak hanya ia lakukan pada profesinya sebagai wartawan. Sebagai dosen, ia terlihat bekerja bukan karena uang, tapi karena kesenangan. Wajar saja jika di kelas ia begitu antusias saat membagi pengalamannya. Ia juga sangat terbuka jika diajak diskusi.

Saya mencatat sebuah kalimat yang ia ucapkan di pertemuan terakhir semester itu. Sebelumnya, ia meminta kritik dan saran dari mahasiswa, serta memohon maaf atas kesalahan yang tak sengaja ia lakukan. "Jangan takut menjadi wartawan. Menjadi wartawan memang tak mudah," ungkapnya dengan intonasi pelan. Lalu ia menaikan volumenya saat mengatakan, "tapi semua kebaikan yang dilakukan wartawan, akan dicatat Tuhan, karena membuka hal-hal yang sengaja ditutup-tutupi, yang sengaja diputar-balikkan."