Tampilkan postingan dengan label Bayu Adji P. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bayu Adji P. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Juli 2014

Ceramah Sastrawi

Solat Ied baru saja dilakukan. Orang-orang yang menghampar di lapangan belum juga pulang. Mereka harus mendengar ceramah dahulu sebelum bermaafan dengan sanak saudara di rumah pun makam.

Dengan kacamata hitam kecoklatan, kopiyah putih dang tongkat –entah untuk apa- di tangan kanan, sang khotib mulai menaiki mimbar. Puji-pujian serta salam terus-menerus dipanjatkan. Mukanya menghadap hadirin yang datang, namun agak tunduk melihat cacatan. Matanya yang terhalang kacamata hitam kecoklatan, jarang menatap jamaah. Keduanya terus fokus pada catatan.

Ia menggambarkan suasana takbir dari malam hingga pagi itu. Dengan sedikit sentuhan sastrawi dan nada suara datar, ia mencoba menunaikan tugasnya pagi itu. Katanya semua hanya fatamorgana, tanpa makna. Banyak sekali kata tanpa makna terucap dari bibirnya.

Pendengar lebih banyak yang membaca korang untuk alas sajadahnya ketimbang menatap wajah khotib yang mululu tunduk menuju catatan. Saya mendengarkan jelas, namun hanya sesekali lewat. Yang saya ingat, kata tanpa makna itu selalu terucap.

Ah, ceramah solat Ied tahun ini memang tanpa makna. Khotib nampaknya tak membuat benang merah dari apa yang disampaikannya. Pujian dan salam yang terlantunkan hanya sebatas bacaan. Catatan yang dilisankan.

Syahdan, pada penghujung ceramah, khotib mengajak hadirin mengangkat kedua tangan untuk berdoa. Meminta ampun kepada Tuhan. Suaranya disedih-sedihkan. Haru sekali nampaknya beliau. Namun, seorang bapak yang duduk di sebelah saya, hanya mengucap “amin” berulang-ulang di antara jeda kalimat sang khotib. Tak ada sedikit pun rasa haru yang kelihatan. Tanpa makna.

Ah, percobaan ceramah sastrawi pagi itu, saya rasa, gagal. Tak mengikat emosi. Hanya sebatas teks yang dihafal. Tanpa makna.

Minggu, 27 Juli 2014

Komedi

Malam.
Panggung gelap. Lampu sorot menyala..
Di tengah ada kursi kosong,
hadirin tertawa.

Aktor pertama masuk dengan jubah kebesaran.
Hadirin kembali tertawa..
Si aktor lupa naskah.
Hadirin tertawa lebih keras..

Si aktor kebingungan di atas panggung.
Lampu sorot masih menyorot.
Pelunya keluar, kecil-kecil seperti biji jagung,
hadirin tertawa bahak

“Lucu sekali pertunjukan ini,” kata perempuan
di bangku tengah penonton.

Dari dalam paraskene, tendengar ledakan..
Para penonton masih berguling-gulingan
di atas bangku yang disediakan.

Panggung terbakar. Tirai tertutup.
Di depan, para penonton melihat
pada poster pertunjukan;
Drama Kolosal.

Pagi.
Surat kabar minggu selalu dinanti.
Tak ada ulasan pertunjukan pada rubrik kehidupan.
Di halaman depan; Gedung Kesenian Terbesar Habis Dimakan Api
Ratusan pekerja seni mati dalam pertunjukan komedi.

Sehari sebelum lebaran.

Sabtu, 26 Juli 2014

Batu

Sekarang adalah jamannya batu. Tua, muda, mereka semua berbatu. Tak ada ketetapan nilainya. Asal pandai bicara, kaya bukanlah mustahal. Di tengah merebaknya para penjaja batu, saya ingin bercerita tentangnya. Tentang batu. 

Teman saya, Fulan, adalah orang yang pragmatis. Falsafah hidupnya adalah kerja dulu baru mikir. Menerut dia, asal ada kemauan pasti ada jalan. Salah satu kelebihannya yang adalah, ia pandai bicara layaknya seorang motivator. Saya pun kadang terlena dalam begitu banyak analogi tentang kehidupan yang dipaparkannya.

Dalam perjalanannya, Fulan bertemu dengan jaman batu. Jaman di mana orang-orang memakai batu di jari atau dikalungkan di leher. Ia pun menjadi penjaja batu. Semua orang ditawarkan batu koleksinya. Saya pernah ditawarinya juga, namun saya menolak. Saya merasa tak perlu batu.

Ada temannya yang pernah bertanya serius kepadanya; “Mas, gue sama sekali gak ngerti batu nih. Terus menurut lu, kenapa gue harus beli batu yang lu jual?”

Dengan segala analogi dan motivasi yang diberikan, jawaban dengan mudah dikeluarkan Fulan menjawab pertanyaan temannya. Temannya menyimak serius. Namun akhirnya ia tak membeli batu itu. Fulan kali itu gagal.

Namun Fulan bukanlah orang yang pantang menyerah. Ia terbilang cukup sukses untuk penjaja batu pemula. Katanya, dengan menjual satu batu, ia dapat membeli telepon pintar baru. Fulan memang pebisnis yang pragmatis. Ia sebenarnya hanya mempraktikkan ilmu retorika yang dimilikinya. Dan memang, seorang penjaja yang baik adalah penjaja yang pandai beretorika.
***
“Memang pada dasarnya manusia itu suka pada sesuatu yang tak berguna,” ucap teman saya yang lain pada Minggu malam di bilangan Lenteng Agung.

Saya diam. Sesekali tertawa namun tetap menyimak.

“Lu pada tau sejarahnya emas?” tanyanya.

“Gak tau, mas. Emang gimana sejarahnya?” celetuk yang lain sambil tertawa.

“Dulu itu ada yang seorang raja bernama Midas, ia ingin segala sesuatu yang dipegangnya menjadi emas. Dewa mengabulkan permintaan emas itu. Orang itu senang. Ia melihat segala sesuatu yang dipegangnya menjadi emas. Ia suka segala yang berkilauan.

“Tapi setelah beberapa lama, ia akhirnya sadar, kalau emas tidak berguna untuk hidupnya. Semua makanan yang disentuhnya menjadi emas. Ia menyesal. Tangan emas itu menjadi anugrah sekaligus kutukan.

“Sekarang ibaratnya sih sama aja kayak batu. Lu tau kan kalau batu gak ada nilai pastinya. Semakin orang pinter ngomong, semakin banyak untungnya. Yang beli itu orang-orang gila. Dia rela ngeluarin duit jutaan buat beli sesuatu yang gak berguna. Dan itu memang sifat dasar manusia.”

Ucapannya disertai dengan banyak tawa. Semua yang mendengar juga tertawa. Minggu malam itu memang kami sedang pesta tawa. Dan yang saya mengerti malam itu, tertawa juga sifat dasar manusia.

Seperti kegemaran manusia menghendaki sesuatu yang tidak berguna.

Jumat, 25 Juli 2014

Aku, Kamu, Pram dan Mario

copyright by bowo bagus*

“Aku suka ucapannya,” katanya pagi itu.

“Mengapa kamu masih saja mendengarnya sih? Berapa banyak orang-orang sabar yang akhirnya tak bisa merdeka? Manusia adalah makhluk berbudaya. Ia berdialektika, menggabungkan antara tesis dengan antitesis sehingga menjadi sintesis. Begitu seterusnya. Hal itu tidak mengalir begitu saja. Tesis adalah kebiasaan. Antitesis lahir dari perlawanan. Kita tak bisa selallu mendengar. Harus melawan agar sintesis baru lekas ditemukan,” bantahku kepadanya.

Ia diam dalam waktu yang lama. Cukup lama hingga tak ada kabar berita, sampai aku merasa menang dalam satu pernyataan sekaligus pertanyaan. Memenangkan sebuah pertarungan psikologis antara aku dan dia.

“Haters gonna hate,” ucapnya pelan, membuyarkan kesepian.

“Aku tidak membenci Mario, sayang. Tapi memang itulah adanya. Aku lebih suka membaca Pram. Pram yang menulis Minke. Pram yang menceritakan perlawanan. Pram yang dibuang. Pram yang serba pahit.”

Ia kembali diam. Aku melangit, merasa menang untuk yang kedua kalinya.

“Mario selalu berucap kalau ia tak pernah membenci orang yang menghina nasihatnya. Ia selalu menganggap semua orang baik. Menurutnya, orang yang menghina nasihatnya adalah orang yang belum diberikan hidayah oleh Tuhan. Dan ingat, tidak ada orang-orang yang hidupnya baik kalau ia menghina seorang penasihat.”

“Aku tidak membenci Mario. Aku hanya tidak suka.” Aku mengambil rokok dalam bungkus yang bergambar seorang bapak merokok saat menggendong anaknya, lalu melanjutkan, “Kau pernah dengar seorang mahasiswa yang hanya nangkring di menara gading? Ia adalah pemuda beruntung karena memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, namun pikirannya tak pernah membumi. Ia selalu membahas segala teori-teorinya dengan sesamanya. Tak pernah mereka ke lapangan, melihat bagaimana mustahilnya membayangkan seorang Jean Paul Sartre dapat dilahirkan di tengah lingkungan kumuh, di Kapuk, Jakarta Utara.”

Aku menyalakan rokok yang tadi kuambil, lalu melanjutkan, “Bukankah kemarin sudah kuceritakan padamu tentang Minke? Ia melawan, sayang. Tak perlu ia mendengar ceramah Mario untuk melawan. Ia hanya melihat ketidakadilan, dan melawan. Sesimpel itu. Dan kenyataannya, kesederhanaan adalah hal yang rumit.”

Ia diam, seperti menyimak. Aku merasa semakin menang.

“Ayolah, sayang, kau tak perlu terlalu percaya kepada ucapan seorang Mario. Kau memiliki dua telinga. Matamu pun dua. Kau hanya perlu melihat realita itu dan langsung mendengar kehidupan dari bumi. Bukan dari orang yang berdiri di atas mimbar.”

“Haters gonne hate,” ucapmu lebih kencang dari yang pertama. Hampir teriak.

Aku kaget. Untuk beberapa saat aku kehilangan merasa di bawahnya. Kuhisap rokokku yang sudah menyala untuk membantu membuatku tenang, mencari bantahan lainnya.

“Kamu hanya membenci Mario. Betapapun Mario berucap sesuatu yang sangat benar, kau tetap akan membencinya. Tak ada obat untuk seorang pembenci sepertimu.”

Ucapannya seperti rentetan peluru yang ditembakkan ketika aku lengah. Aku menarik napas dalam-dalam. Merenungkan. Apaka benar aku seorang pembenci, batinku. Dalam keadaan seperti ini, batinnya pasti mengembang kemenangan. Memang benar, aku sedang diserang.

“Kamu selalu membandingkan Mario dengan Pram. Padahal kamu tahu, di dunia ini tak ada sesuatu yang bisa dibandingkan. Bahkan seorang anak yang kembar siam pun tidak mau dibandingkan dengan kembarannya. Itu tidak adil. Kamu selalu memandangku sebelam mata kalau aku mengutip Mario. Kamu egois.”

Matanya memerah. Entah sedih atau marah. Mungkin kolaborasi antara keduanya. Kali ini aku yang diam.

“Aku hanya tidak suka melihat orang-orang hanya diam ketika dirinya ditindas. Dan yang aku tahu, dalam setiap ucapan Mario, selalu menyuruh kita pasrah. Katanya, Tuhan hanya menguji mereka yang mampu lulus. Lantas, apa mereka yang tidak lulus hanya kambing percobaan Tuhan sebagai penggembira ujian? Hidup bukanlah sebuah kompetisi seperti ujian, di mana yang tidak lulus dapat diremehkan. Hidup adalah.. aku pun belum bisa mendifinisikannya.” Rokok yang belum habis itu kumasukkan dalam asbak kecil di atas meja.

“Terus?” tanyamu singkat.

Pertanyaan itu adalah sebilah pisau menuju tepat ke jantungku. Aku menyerah. Aku kalah.

Kedua tangannya langsung kupengang. Kepalaku kudekatkan ke kepalanya. Mataku tajam melihat matanya yang besar. Dalam hening, aku kuatkan tekadku, “Ini bukan perkara Mario ataupun Pram. Ini adalah antara kamu dan aku.”

Catatan:
*Copyright is only for beginner

Kamis, 24 Juli 2014

Fadli Zon

Apa kabar bung Fadli? Apakah anda sudah mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi? Dari kabar berita, saya dengar gugatan itu akan dilayangkan Jumat mendatang. Tapi peduli setan, saya sedang tak ingin membahasnya.

Oh iya, bung. Semester lalu saya diberi tugas oleh redaktur saya untuk mencari apa yang terjadi saat tahun 1998 dulu. Ia memberikan buku Penakluk Rezim Orde Baru: Gerakan Mahasiswa ’98. Saya disuruh baca buku itu dan buat kesimpulannya.

Saya takjub, bung. Ada namamu disebut-sebut di buku itu. Kau dibilang sebagai mahasiswa teladan kampus perjuangan Orde Baru. Betapa besar namamu hingga bisa masuk buku.

Bung tidak percaya? Ah baiklah, saya akan tuliskan di sini beberapa cukilannya dari buku itu, tentang PRD, gerakan mahasiswa dan tentu saja; Orde Baru.
***

Kerusuhan yang terjadi di markas PDI, yang akhirnya mengambinghitamkan Partai Rakyat Demokratik (PRD), membuat aktivitas demontrasi sedikit menyusut. PRD dianggap sebagai neokomunis –yang pada masa Orde Baru, kata neokomunis, dapat dapat diadili tanpa melalui sidang- yang berpikir dan bertindak seperti Partai Komunis Indonesia. Koor politik tersebut juga diamini oleh HMI, Pemuda Muhammadiyah, Gerakan Pemuda Ansor, dll.

Fadli Zon, sebagai mahasiswa teladan kampus perjuangan Orde Baru, ikut ambil suara dalam menuntut tindakan tegas kepada PRD. Menurutnya, PRD adalah partai yang anti Soeharto dan anto Orde Baru, hal tersebut dibuktikan, bahwa aktifis mahasiswa Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), sayap PRD, setiap kali menyebut Soeharto, selalu menambahkan huruf ‘A’ di depannya.

Pimpinan PRD dipenjara, namun para pengikutnya tetap menjalani aktivitasnya sesuai dengan tujuan PRD, menurunkan Soeharto, mencabut paket 5 UU Politik dan mencabut dwifungsi ABRI. Aktifis-aktifis ini menyebar dalam organ-organ lain tanpa menggunakan nama PRD.

Gerakan politik ini adalah motor yang memang terkenal radikal dalam mengampanyekan politik golput. Pada 29 Januari 1997 di Purwokertotiga mahasiswa diperiksa oleh polisi dalam kasus 50 stiker politik yang bunyinya, “Bila upah buruh rendah, pengangguran masih ada, paket 5 UU politik belum dicabut. Jangan lupa Golput!”

Gerakan Mahasiswa pada reformasi 98 terbagi menjadi dua: Pertama, gerakan politik yang memang sejak awal menentang Orde Baru; Kedua, gerakan moral yang muncul sejak isu krisis moneter mulai bermunculan dan ekonomi negara semakin kacau.

Bergabungnya Universitas Indonesia dalam barisan, diyakini sebagai bangunnya gerakan mahasiswa setelah 20 tahun tertidur. “Bila UI turun, berarti negara dalam keadaan genting.” Mitos angkatan 66 memang belum bisa dihilangkan. Padalah, subtansi gerakan mahasiswa yang muncul pada 1998 adalah hasil proses panjang sejak tahun 80an.

Namun sebagai penakluk rejim, keduanya sama-sama memiliki andil yang tak bisa dibandingkan satu sama lain. Gerakan politik menentukan format, isi dan radikalisasi gerakan, sedangkan gerakan moral aktifis ‘resmi’ kampus yang memungkinkan aksi menjadi massif dan serentak secara nasional.I
***

Sekian dulu, bung. Kebetulan, saya belum selesai membacanya. Kalau ada kesempatan, mungkin akan saya lanjutkan. Semoga kita bisa berjumpa, bung.

Tabik!


I"’Turunkan Harga, Atau Kami Turunkan Kamu..’ Gerakan Mahasiswa Menggulingkan Soeharto” oleh Muridan S. Widjojo dalam Penakluk Rezim Orde Baru: Gerakan Mahasiswa '98.

Rabu, 23 Juli 2014

Riwayat

Komunis dan Indonesia adalah sesuatu yang tak bisa dipisahkan. Riwayatnya panjang dan tragis. Selalu diasingkan.

Sebelum kemerdekaan, orang-orang merah (sebutan untuk orang komunis) telah berjuang. Para petingginya diasingkan, lebih tepatnya dibuang dari tanahnya sendiri.

Tan Malaka adalah salah satunya. Ia adalah salah satu orang pertama yang mempunyai ide bahwa Indonesia harus merdeka. Dan ide itu yang menjadi rujukan bagi Soekarno dan tokoh lainnya dalam masa pergerakan. Karena dianggap berbahaya oleh pemerintahaan Hindia Belanda, ia dibuang ke Belanda.

Namun orang-orang merah tak lagi dibuang ke luar negeri setelah adanya Boven Digul. Kamp buatan pemerintah Hindia-Belanda di ujung barat Nusantara, di tanah yang mana manusia-manusia di sana masih dianggap tak beradab; Papua.

Buatan pemerintah bukan berarti pemerintah telah menyiapkan rumah-rumah tahanan untuk orang-orang merah. Namun orang-orang yang dibuang itulah yang, tak bisa tidak, haru membuat rumah untuknya sendiri. Pemerintah hanya menyuplai makanan dan obat-obatan.

Konon, dulu di Boven Digul, tempat pembuangan orang-orang komunis, ada sebuah penyakit malaria hitam. Orang-orang yang tersengat nyamuk itu, akan mengeluarkan air kencing berwarna hitam, sebelum kemudian mati di tengah hutan.

Tak seburuk itu memang keadaan di Digul. Tapi tentu sangat buruk bagi mereka yang pertama sampai di sana. Banyak yang mencoba melarikan diri ke perbatasan antara jajahan Inggris dan Belanda di Nugini. Namun banyak dari mereka yang mencoba kabur justru mati di tengah pelarian.

Banyak juga yang bertahan di kamp pembuangan. Di sana, semakin lama semakin banyak orang-orang merah yang dibuang. Ada pula yang membawa turut anak istrinya. Pemerintah saat itu membuang semua orang yang dianggap merah, tak peduli pimpinan atau bawahan.

Tahun ke tahun kamp itu tidak hanya diisi oleh orang merah. Di antara mereka adalah aktivis dan tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Republik Indonesia (PARI), Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Indonesia (PARTINDO), Perhimpunan Muslim Indonesia (PERMI), Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII), dan Sarekat Kaum Buruh Indonesia (SKBI). Nama-nama yang pernah mendiami tempat ini antara lain Chalid Salim, Najoan, Mas Marco  Kartodikromo, Xarim M.S., Aliarcham, Sardjono, Sjahrir, Hatta, Soenarjo, Mardjono, Sarosan, Djamaluddin Tamin, Daja bin Joesoef, Kandor, Moechtar Loetfi, Ilyas Jacob, Jalaloedin Thaib, Moehidin Nasoetion, Abdoel Hamid Loebis, Jahja Nasoetion, Dawud, Amir Hamzah Siregar, Ahmad Soemadi, Moerad, dan Bernawi Latif.I

Pemerintah akhirnya menutup tempat itu pada tahun 1943, karena biaya untuk melaksanakan hidup para tahanan di sana sangat besar.
***
Ah, saya sedang demam. Akhir-akhir ini memang musim yang tak jelas (siang panas dore hujan) menyebabkan nyamuk merajalela. Semoga saya demam saya bukan karena malaria hitam.

Catatan;
ITakashi Shiraishi, Dunia Hantu Digoel dalam Hantu Digoel: Politik Pengamanan Politik Zaman Kolonial, (Yogyakarta: LKiS, 2001), Hlm. 14-15.

Senin, 21 Juli 2014

Munkar Nakir

Belum 70 langkah para pelayat meninggalkan kuburan, langit mendadak gerimis. Orang-orang berlarian menuju gubuk penjuah bunga di pinggir kali dekat blok A. Langkah-langkah mereka belum sampai angka 70. Semua orang masih menunggu gerismis reda. Munkar dan Nakir turur juga, meski mereka bukan orang. Langkah ke 70 adalah tanda bahwa mereka harus bekerja. Namun siang itu, mereka tertahan gerimis. Sementara mayat telah lari, sebelum ditanya.

Minggu, 20 Juli 2014

Percakapan

Bulan sudah ada di tempat yang seharusnya. Tepat di atas kepala. Malam ini, ia sangat penuh. Tak ada bayangan bumi di tubuhnya. Cahaya dari surya terpantul menuju sisi lain Bumi yang ditinggal matahari. Redup, melewati celah daun dan batang.

Suara angin menyuling tubuh dedaunan begitu nyaring terdengar. Jangkrik dan kodok bersahutan membuat lantunan kor yang riang. Gemericik air di tanah pun ikut bergoyang. Sepasang anak manusia ada dalam rimba hutan. Namun kedua anak manusia itu tetap diam.

“Apakah kita berdua bisa bicara sebentar?”

“Tentu. Memang apa yang ingin kau sampaikan?”

“Aku hanya ingin memulai sebuah percakapan.”

Sabtu, 19 Juli 2014

Cak Nur

20.30 waktu Indonesia bagian barat. Badan saya masih terasa tidak enak. Satu pesan telah nampak di layar telepon genggam. Saya membacanya, ajakan untuk datang ke rumah teman. Saya tak membalas. Memang tak ada pulsa. Akhirnya saya ditelepon. Saya angkat, minta jemput.

Seperti biasa orang-orang yang pernah menjadi satu kelas di sekolah dasar dan bertemu lagi saat sudah kepala dua, obrolan tak jauh-jauh dari buka bersama. Apalagi ini bulan puasa. Saya menyimak sambil sesekali melihat layar televisi yang memutar film The Raid.

Tema tentang buka bersama telah usai. Kami mencari-cari tema baru. Saya bilang, ada lomba membuat esai tentang pemikirannya Nurcholish Madjid (Cak Nur). Teman saya tak banyak yang menanggapi, hanya beberapa orang dan lingkaran besar mulai terpecah.

“Lomba gimana?” tanya teman saya.

“Lomba bikin esai tentang pemikirannya Cak Nur. Sumbernya dari buku-buku Cak Nur. Intinya sih tentang pemikiran Islam,” jawab saya menyimpulkan. “Lu punya bukunya Cak Nur gak?”

“Gak punya. Ya, pemikirannya Cak Nur mah gak jauh sama Cak Nun lah, sama-sama Jawa Timuran. Kalo lu mau tau lebih dalem mah, ikutin aja ceramahnya setiap jam tiga pagi di TVRI. Dia yang suka ceramah pake peci ada pin garudanya, kan?”

“Cak Nur udah meninggal, tong, masa masih ceramah di tv?” tanya saya kaget. Setahu saya, Cak Nur memang sudak cukup lama meninggal.

“Ya mana gue tau. Itu sih ceramahnya ulangan, gak live.”

Saya mengiyakan ucapan teman saya. Lantaran itu disiarkan di TVRI, maklumlah kalau bukan siaran langsung. Sengaja saya tidak tidur malam itu, untuk melihat sosok Cak Nur di TVRI. Dan benar saja, sosok yang ceramah di TVRI pagi itu adalah seorang dengan peci ber-pin garuda, keterangan namanya; Cak Nur (Muhammad Nurhadi).

Cak Nur (Muhammad Nurhadi)
Sadar, saya ingat kalau harus sahur.

Jumat, 18 Juli 2014

Ralat

Semalam, Fulan mengabarkan bahwa ada seorang pejabat tinggi di negeri Antakabul, tertangkap tangan akibat menerima suap dari calon pemimpin kubu partai Asu. Menurut Fulan, informasi ini eksklusif, langsung didapat dari juru bicara lembaga detektif flamboyan ternama negeri itu.

Syahdan berita itu geger. Gegap gempita terjadi di seantero Antakabul, yang luasnya sejauh pandangan mata. Entah kegegeran itu membicarakan apa, yang jelas berita tentang tangkap tangan telah menjadi isu utama, yang disebarkan oleh monyet-monyet penyebar berita.

Beberapa jam kemudian, di antara orang-orang yang geger oleh berita itu, ada seseorang yang khilaf. Ia langsung mencari Fulan untuk meminta keterangan lebih jauh. Sayang, Fulan menghilang. Entah menghilang kemana.

Seseorang yang sadar itu tak mau menyerah. Ia melihat ke tempat si Fulan terakhir terlihat. Ada yang aneh, pikirnya. Di tempat itu ada sebuah lubang yang belum tertutup belum rapat. Ia mendekat dan mencoba menggali lubang itu.

Tak ada pacul, batang kayu pun jadi. Batang kayu yang diambil orang itu dari sembarang tempat diarahkannya tepat ke atas gundukan tanah yang tersusun tidak sempurna. Sementara di bawah gundukan itu, di bawah tanah, kasak-kusuk orang kebingungan semakin terdengar. Mereka melihat batang kayu yang semakin dalam menggali. Suara-suara bersembunyi. Suara orang-orang panik.

Orang itu akhirnya menemukan Fulan. Fulan keluar dari bawah gundukan tanah itu, dan berucap kepada orang di sampingnya, “Tolong beritahu orang-orang, rakyat Antakabul, yang tadi sudah geger dan gegap gempita, bahwa informasi tentang tangkap tangan itu masih belum jelas. Detektif sendiri belum mau mengungkapnya.”

“Lantas mengapa tadi kau sebarkan informasi itu,” tanya orang itu.

“Maaf, tadi aku khilaf, bung. Tapi tolonglah, demi reputasiku sebagai penyebar syiar panji-panji kebenaran.”

“Baiklah. Nanti akan kusampaikan ralat darimu, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Orang tua itu berjalan menuju kerumunan, sementara Fulan kembali menghilang.