Senin, 04 Maret 2013
Jumat, 01 Februari 2013
Tentang Sebuah Lagu dari Era 90-an
Siang itu langit
sedikit muram namun tak kunjung meneteskan hujan. Riko datang, saya ambilkan agar-agar
dan teh manis untuk dijadikan dorongan (berguna untuk menetralisir, layaknya
jeruk nipis untuk sebotol jamu lokal). Ya, berbicara dengan Riko memang lebih
afdol bila memakai dorongan agar semuanya lancar.
Dia datang mencari
segudang pekerjaan untuk mengisi waktu luangnya saat libur kuliah. Tak hanya
itu, ia pun memasang iklan motornya yang masih layak pakai (ini kisah nyata,
jadi kalau ada yang berminat segera hubungi saya).
Sudah selesai dengan
tujuan awalnya datang ke rumah, tiba-tiba dorongan yang saya berikan mulai bereaksi,
dikeluarkan handphone dari saku
celana pendeknya dan ia pun mulai mendengarkan lagu dari playlist-nya. Lagu asing lagi yang terdengar –setidaknya untuk
telinga saya- seperti Wieteke van Dort, Soundtrack serial Kera Sakti, Bob
Marley, dan banyak lagi. Tapi ada satu lagu yang mengingatkan saya tentang hari
Minggu siang ketika tahun 90-an, di mana panas matahari masih terhalang
rimbunnya pepohonan.
Anda salah bila mengira
lagu yang terdengar adalah suara-suara pemberontakan a la grunge Nirvana, lagu
dengan lirik-lirik misoginis Bon Jovi, atau pop manis indie lokal angkatan
Rumahsakit. Lagu yang melantun dari handphone
Riko bercerita tentang seorang pendekar yang selalu mengisi Minggu siang
anak-anak 90-an.
Anak-anak yang kala
itu yang menikmati hidupnya dengan berlarian, mengumpat di balik jembatan,
lewat sambil tertawa di atas sepeda, dan berkelahi setelah diadu oleh teman
yang lebih tua. Setelah mereka cukup lelah, saat yang tepat untuk pulang dan
menonton serial seorang pendekar berbaju putih dan ikat kepala berwarna putih
pula. Seorang pendekar yang kala itu cukup kondang di pergaulan anak-anak 90-an.
Bukan, bukan Catatan
si Boy yang menceritakan seorang pemuda kaya raya. Bukan pula serial Lupus yang
berteman dengan hari-hari sibuk nan melelahkan. Pendekar itu bernama Wiro
Sableng yang mempunyai guru bernama Sinto Gendeng. Dan, satu yang masih saya
ingat, delman itu nyungsep ke sebuah lubang.
Wiro Sableng yang terkenal
dengan nomor dada 212, mempunyai sebuah kapak yang ajaib. Entah apa yang ada
dipikiran Riko mendengarkan (lagi) soundtrack Wiro Sableng, namun lagu itu
sedikit membuat saya bernostalgia dengan, ya.. anak-anak 90-an. Bernostalgia dengan
otot-otot yang saya punya ketika itu, ketika menjadi manusia sempurna. Bila
tulisan ini hanya terpajang dalam layar monitor Anda, itu tandanya otot saya
sudah tak sempurna dulu lagi, seperti anak-anak 90-an dengan nyanyiannya. Setidaknya
sekarang kita bisa bernostalgia menjadi manusia sempurna.
Satu pesan dari Riko
siang itu, “Dari C#7 cuk, yok sama-sama
yok... cokocokocokocokocokocok...” biar sableng, biar jadi bener.
Jumat, 18 Januari 2013
Apresiasi Mimpi
Aku selalu, setiap
hari berangkat kerja lewat jalan kecil itu. Jalan di mana ada Ratna, seorang
perempuan paruh baya selalu menjajakan mimpinya kepada anak-anak sekolah.
“Gapailah mimpimu
yang tinggi dan besar!” perempuan itu selalu teriak ketika mengumpulkan
perhatian anak-anak.
“Ayo kita ke sana,
dengerin mbok Rat dongeng,” anak-anak berseragam itu langsung duduk dengan
tenang mendengarkan cerita demi cerita dari mbok Rat.
“Sebelum aku mulai
cerita, kalian harus tenang. Kali ini akan kuceritakan tentang mimpi sang
seniman.” lalu Ratna memulai cerita sambil mengunyah sirih di mulutnya.
“Aku dulu itu adalah
seniman serba bisa. Karya-karyaku banyak yang dipajang di galeri terkemuka.
Jadi, kalian harusnya beruntung bisa langsung mendapat cerita dari seniman
berkualitas sepertiku.”
“Mbookkkk... kapan
mulai ceritanya?” anak-anak mulai menggerutu.
“Kalian ya mesti
sabar! Semua butuh proses...” mbok Rat kesal dan mulai menggerutu, “..kalau
emang gak mau dengerin, yaudah aku pulang mendingan!”
“Yah.. jangan pulang
dong, mbokkkkk!”
“Aku sudah ilang
mood, besok aja ceritanya. Lagian aku juga banyak kerjaan di rumah.”
Selalu seperti itu,
setiap hari, setiap aku lewat jalan itu. Mbok Rat selalu menjajakan sebuah
mimpi yang tak selesai. Mimpi yang hanya ada dalam banyangannya. Mimpi yang tak
terbeli.
Mbok Rat dulunya
memang seorang seniman hebat. Namun kondisi memaksanya untuk bekerja menjajakan
mimpi di Jakarta. Namun, masyarakat kota tak pernah percaya dengan mimpi.
Bergeraklah yang membuat mereka berubah. Mimpi hanyalah ilusi. Terlalu banyak
mimpi, terlalu banyak sakit hati.
Mungkin ada
segelintir masyarakat kota yang masih percaya dengan mimpi, tapi penghasilan
mbok Rat dari menjajakan mimpi tetap saja sepi. Entah karena apa, mungkin
terlalu banyak penjual mimpi yang lebih hebat darinya, mungkin pula
mimpi-mimpinya terlalu muluk, sehingga orang-orang bosan mendengarnya. Atau
mungkin, mimpinya malah melukai harapan dan realita, siapa yang tahu?
Siang itu, saat
matahari tepat berada di atas kepala, mbok Rat duduk di halte sampil mengajak
bicara calon pembeli mimpinya.
“Nih mas, persediaan
mimpi saya.” Mbok Rat menunjukkan sampel mimpinya.
“Ini beneran bisa
kesampean gak, mbok?”
“Asal mau berusaha,
pasti bisa.”
“Lah mending saya
kerja, kerja juga usaha.”
“Lah orang kayak
kamu ini yang gak bisa mengapresiasi mimpi.”
“Maaf deh, mbok, mending
mengapresiasi diri sendiri daripada mesti mengapresiasi mimpi.”
Setelah hari itu,
mbok Ratna tak pernah lagi terlihat di halte untuk menjajakan mimpinya. Menurut
kabar burung, ada sebuah institusi yang mengapresiasi mimpinya. Tapi tak ada
satu orang pun yang mengetahui keberadaan institusi yang mengapresiasi mimpi
tersebut.
Rabu, 16 Januari 2013
Riko dan Keluh Kesahnya
Bila kalian sudah
bosan mendengar cerita tentang Riko, yang bermimpi menjadi seorang rockstar,
saya tak peduli. Yang penting, Riko tetap ber-oranggila-ria.
Malam setelah hujan
berhenti mengguyur Lenteng Agung-Srengseng Sawah dan sekitarnya, Riko datang ke
rumah. “Sialan, laptop gue kena virus sality. Photoshop sama Illustrator-nya
pada ilang-ilangan,” keluh kesahnya saat hendak meminjam komputer saya untuk
mengerjakan tugas kuliahnya.
Tugas selesai dan, seperti
biasa, transaksi ilegal –entah musik, film, atau gambar- dimulai. Lebih dari sepuluh
album Bob Marley saya copy dari
laptop yang sudah kehilangan software Adobe portable-nya. Sebagai imbalannya,
saya memberikan film-film kadaluarsa dengan subtittle-nya.
Tak disangka dan tak diduga, saya menemukan tugas iklan di laptopnya.
Apa
isinya?
Riko sebagai talent, bukan lagi rockstar, tapi tetap orang gila
Sepertinya tak perlu
lagi penjelasan tidak berkualitas ini, sekian dan terima kasih.
*Tulisan ini sesungguhnya adalah....
Jumat, 14 Desember 2012
Tentang Teater, Hidup, dan Menulis Kehidupan
Saya adalah orang yang tergabung dalam sebuah kelompok teater, Teater Kinasih. Baru-baru ini, kelompok teater tempat saya tergabung bengadakan sebuah diskusi tentang jurnalisme musik. Ada pro, ada kontra.
Kenapa musik? Karena semua orang suka musik, semua orang menikmati musik, dan semua orang hidup berdampingan dengan musik. Musik juga merupakan elemen penting dalam teater. Menulis tentang musik berarti berusaha untuk mengetahui tentang latar belakang teriptanya musik tersebut.
Bila memutuskan untuk mengundang pembicara yang notabennya adalah seorang teaterawan/ti, tentu yang akan senang adalah kita sepihak, sebagai kelompok teater. Animo masyarakat kampus pun tak akan besar dan akhirnya, hanya kelompok teater tersebut yang bertambah ilmunya. Teater Kinasih mencoba untuk tidak memuaskan diri sendiri.
Ada yang bilang, jika sebuah kelompok teater hanya bergaul dengan sesama orang teater, setiap nonton, nonton teater, mengadakan acara, acara teater, kita hanya akan mendapatkan teknik berteater yang baik dan benar (dan kami tentu sadar bahwa kami belum menguasai teknik itu dengan benar), dan sebagai bonus, kita hafal nama-nama pembesar teater dan dikenal dikalangan orang-orang teater.
Kenapa musik? Karena semua orang suka musik, semua orang menikmati musik, dan semua orang hidup berdampingan dengan musik. Musik juga merupakan elemen penting dalam teater. Menulis tentang musik berarti berusaha untuk mengetahui tentang latar belakang teriptanya musik tersebut.
Bila memutuskan untuk mengundang pembicara yang notabennya adalah seorang teaterawan/ti, tentu yang akan senang adalah kita sepihak, sebagai kelompok teater. Animo masyarakat kampus pun tak akan besar dan akhirnya, hanya kelompok teater tersebut yang bertambah ilmunya. Teater Kinasih mencoba untuk tidak memuaskan diri sendiri.
Ada yang bilang, jika sebuah kelompok teater hanya bergaul dengan sesama orang teater, setiap nonton, nonton teater, mengadakan acara, acara teater, kita hanya akan mendapatkan teknik berteater yang baik dan benar (dan kami tentu sadar bahwa kami belum menguasai teknik itu dengan benar), dan sebagai bonus, kita hafal nama-nama pembesar teater dan dikenal dikalangan orang-orang teater.
Teater Kinasih mencoba untuk tidak terperangkap dalam arti teater yang sempit di atas, yang hanya memikirkan tentang pementasan, aktor, panggung, dll. Kemarin, Kinasih mengadakan sesuatu yang berbeda, "Bincang Musik Teater Kinasih: Jurnalisme Musik Dulu & Sekarang". Di acara yang diaselenggarakan oleh Teater Kinasih yang bekerja sama dengan webzine lokal Jakartabeat.net, juga tidak serta merta lepas dari pelajaran, yang telah didapatan dari latihan maupun masukan yang diberikan para senior (orang-orang yang lebih dahulu bernaung di Kinasih) yang hadir, tentang bagaimana mengaplikaskan ilmu teater dalam kehidupan, tentang cara membangun relasi dengan mereka yang dibilang awam dalam dunia teater, tentang mengajak masyarakat kampus mengenal Teater Kinasih yang terbuka.
Ada benang merah yang masih berkesinambungan antara teater dan menulis musik. Kalau teater itu adalah ilmu tentang kehidupan, menulis musik juga menulis menulis tentang kehidupan (setidaknya itu yang dikatakan oleh Taufiq Rahman sebagai pembicara). Kita bisa mempelajari dan menuliskan tentang kehidupan sekaligus, melalui proses berteater dan menulis.
Saya pribadi cukup puas dengan terselengaranya acara "Bincang Musik Bersama Teater Kinasih: Jurnalisme Musik Dulu & Sekarang", dan respon para peserta diskusi pun sama, puas. Semua senang dan mendapatkan sesuatu yang baru untuk dibawa pulang. Jadi, bila anda yang merasa kenal maupun awam dengan teater, mungkin perlu untuk menuliskan kehidupan.
Rabu, 14 November 2012
Harga yang sepadan untuk CD C'mon Lennon
Dua tahun yang lalu, saya pergi
kesebuah toko musik independent dibilangan Jakarta Selatan. Bisa dikatakan saya
sering berkunjung kemari sekedar membeli rilisan fisik, t-shirt dan berbagai pernak-pernik lain dari berbagai musisi independen.
Saat saya sedang memilih milih CD di rak yang tersusun rapih, seorang penjaga
kasir kemudian menghampiri, ”Coba deh lu beli ini (Album C’mon Lennon, Ketika Lalala) keren nih, lu pasti bakal
suka”, cerocosnya. Waktu itu saya sekedar tahu C’mon Lennon melalui lagu ‘Aku Cinta
J.A.K.A.R.T.A’, sebuah lagu yang memceritakan kecintaan C’mon Lennon akan
kesebelasan sepak bola, Persija Jakarta. Timbulnya rasa penasaran dan keingintahuan
yang besar, saya kemudian membeli album tersebut dan membayar di kasir. Lima
puluh ribu adalah harga yang saya bayar untuk album itu. Sebuah harga yang
fantastis untuk ukuran rilisan album musisi independent tanpa ada embel-embel
keemasan eksklusif, dan tentunya harga yang mahal untuk ukuran kantong pelajar
seperti saya, sudahlah lupakan.
Kemudian saya keluar toko dan
duduk sambil menghisap sebatang rokok, sambil menghisap rokok tersebut, saya
membuka keemasan CD tersebut. Terlihat cover
yang menggambarkan sebuah kepolosan disana. Bagian lirik lagu dituliskan
layaknya tulisan anak anak disertai berbagai gambar-gambar mini dan foto para
personil semasa kecil. Saya membaca bait demi bait lirik yang ada. Kesan
pertama yang muncul adalah bagaimana notasi musiknya dibuat? Mengingat liriknya
terkesan tidak biasa. Penjaga kasir tadi keluar dan menyulutkan sebatang rokok
ke mulutnya dan berbicara kepada saya, “ga
bakal nyesel lu beli ni album,
soalnya bandnya udah bubar. Ini juga
barangnya tinggal dikit disini.
Ditempat laen udah kaga ada” sebuah
omongan yang tak bisa di amini sepenuhnya. Mengingat toko ini milik beberapa
personil band independent ibukota, Ballads Of The Cliché, dan biasa mengadakan
pertunjukan music musisi independent dan tentunya mereka memiliki kedekatan
historis dengan para personil C’mon Lennon. Bisa saja ini adalah trik dagang
mereka agar sesegera mungkin menghabiskan katalog-katalog rilisan yang sudah
lama. Dan kamipun berbincang-bincang mengenai musik dan sepakbola.
Sesampainya dirumah, saya langsung memutar CD
tersebut di CD player saya. Track pertama ‘Sudahkah kau minum obat’ mengalun
dengan sedang. Lagu ini menceritakan tentang seseorang yang sakit dan kawannya
menanyakan apakah obatnya sudah di minum. Sebuah tema yang cukup langka untuk
diangkat menjadi sebuah lagu. Notasi yang cukup bisa dinikmati sekali dengar. ‘Kelinci
Jantan’ adalah sebuah analogi untuk para Playboy
sebagai sosok kelinci dan wortel sebagai sosok perempuan. Mereka mencoba
menghaluskan perbendaharaan kata untuk menghaluskan makna yang terkandung. Atau
bisa juga untuk membuat tema yang benar-benar polos. ‘Deketektif flamboyan’
tema yang cukup jarang pula untuk dituliskan. Dektektif. Bassline yang cukup unik dan menawan serta ketukan drum yang liar
tersaja di track ini.’Kikuk’ lebih bercerita tentang kehidupan masyarakat kelas
menengah yang berkunjung ke rumah kawan, melewati hamparan tanah lapang dan
sekumpulan anak-anak yang bermain layangan di sore hari. ‘Ambulan’ yang di
daulat sebagai lagu penutup mengalun absurd, gelap dan suram. Di balik semua
keaneka ragaman warna yang di tawarkan C’mon Lennon. Sampai hari inipun,
beberapa lagu mereka masih terselip di MP3 saya. Sebuah pilihan yang tepat
untuk para penikmat musik
Langganan:
Postingan (Atom)









