Sabtu, 05 Oktober 2013

Late


Lautnya biru
Tenang di kala senja
Sunyi sendiri

Skarang sendiri
Menunggu kamu sayang
Yah... Telat lagi...

Cara Saya Menghindari Kerugian Memakai Telkomsel Flash

Bagi orang yang memakai modem Telkomsel Flash mungkin mengeluh bahwa paket internetnya mahal. Sudah mahal, kuotanya sedikit. Selain itu, kalau kuotanya habis, ia akan menyedot pulsa reguler dengan sangat cepat. Dan itu brengsek sekali. Saya sering merasa dirugikan.

Sialnya, modem Telkomsel Flash hanya bisa digunakan untuk kartu Telkomsel.

Tetapi, barusan saya dan Ikbal, berhasil mencari tahu bagaimana cara unlock modem Telkomsel Flash ini. Dengan kata lain, saya bisa menggunakan kartu lain sehingga tak perlulah rasa-rasa dirugikan oleh Telkomsel datang kembali.

Begini caranya unlock untuk modem GSM Huawei dan ZTE:

1. Kunjungi http://a-zgsm.com/freecode/ dengan menggunakan wifi atau modem lain

2. Masukkan imei modem (biasnya ada di badan modem) yang ingin diunlock. Setelah memasukkan imei, nanti akan keluar code unlock

2. Masukkan kartu baru ke modem yang ingin diunlock

3. Colok modem ke komputer Anda.

4. Selanjutnya akan keluar jendela message untuk memasukkan kode unlock. Nah silahkan Anda masukan kode unlock yang sudah didapat.

5. Selesai deh.

Tapi trik ini hanya berlaku untuk modem Huawei dan ZTE dengan seri tertentu. Berikut daftar seri dari dua modem GSM tersebut:

Seri Modem Huawei: E1550, E155, E156, E156G, E160, E160G, E161, E166, E169, E169G, E170, E172, E176, E180, E182E, E196, E226, E270, E271, E272, E510, E612, E618, E620, E630, E630+, E660, E660A, E800, E870, E880, EG162, EG162G, EG602, EG602G, Vodafone K2540 • Vodafone K3515 • Vodafone K3520 • Vodafone K3565 • Vodafone K3715 .
 

Seri Modem ZTE: ZTE SFR 231, ZTE SFR 232, ZTE SFR 341, ZTE SFR 342, ZTE ORANGE VEGAS, ZTE VODAFONE INDIE, ZTE X760, ZTE X761, ZTE X960, ZTE GX760, ZTE GX761, ZTE T-Mobile Vairy Touch.

Sudah begitu saja. Maka berhentilah memakai kartu internet yang membuat anda merasa rugi.

Postingan ini basi banget ya? Semacem blog-blog yang nyari pengiklan gitu. Hahaha... Yang penting saya bisa membantu orang-orang agar tidak lagi merasa dirugikan Telkomsel.

Amarah Bumi

Ilustrasi: Itamar Jobani.

Lihat tanah ini
Darah yang mengalir lewat celah dekat cacing yang menggeliat
Tanah yang kering
Latah manusia-manusia kalah
Menyerah...

Lihat Bumi ini gersang
Dengarkan suaranya...
Ia berteriak
Sakit...

Darah yang mengalir
Menjadi sungai yang deras
Bercampur kotoran yang tak sengaja lewat

Malaikat tertawa
Melihat murka semakin menjelma

Bumiku...
Sudah cukup deritamu
Tetaplah basah oleh darah
Hingga tanah tak lagi pasrah...

Jumat, 04 Oktober 2013

Gomenasai~

Haaa... Gomenasai para pembaca setia... Hahaha... Pecahlah telor saya di blog 30 Hari Menulis ini. Yaa... Namanya juga orang sibuk. Gag sempet copast postingan yang udah dibikin kemaren. Udah gitu gag dapet koneksi internet pun . Jadi yaa.. Kena sangsi deh saya.

Tenang. Saya berjanji kemarin adalah bolos pertama dan terakhir saya.

Lagipula, tabungan kami sudah cukup banyak dengan selalu absennya satu dari empat orang yang menjalankan blog ini. Hahaha~ xD

#UdahGituAja

Dua Anak Kegep Belum Posting

Ini bukannya mengancam, tapi memang sudah seharusnya. Postingan saya tiga kali berturut-turut, berarti ada yang salah. Baiklah. Mari kita mengucap Alhamdulillah. Ada dua (sebenarnya tiga) yang belum posting di tanggalan ini. Uang semakin terkumpul untuk nanti di akhir perjalanan kita menikmati kehangatan yang berupa apalah namanya.

Kamis, 03 Oktober 2013

Tapak Kaki Titisan Dewa

Ilustrasinya minjem (lagi) dari Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit

Dalam rumah itu, aku tinggal sendiri. Dinding retak, atap terterbus cahaya kecil dan lantai yang berdebu menjadi pemandangan biasa, mengisi hariku dengan biasa pula. Jarang sekali aku membersihkan rumah warisan dari Emak Bapakku. Dulu tentu berbeda, Emak selalu membersihkan rumah selagi libur.

“Biarkan sajalah. Lagi pula jarang ada tamu yang datang,” pikirku sepele.

Dulu waktu aku masih setinggi pohon singkong depan rumah, Emak selalu bercerita tentang Dewa-dewa yang pernah turun ke Bumi. Konon, dahulu ada Dewa yang dipanggil oleh seorang wanita untuk memberikannya anak. Anaknya adalah orang-orang yang suci, namun tak luput dari dosa. Tentang perjalanan anak titisan Dewa tersebut mencari takdirnya, sampai akhirnya ia moksa. Cerita itu sangat melekat di kepalaku.

“Kalau Dewa punya anak, mungkin aku adalah titisan Dewa juga,” bayangku polos.

Aku rindu Emak, rindu ceritanya, rindu auranya, rindu sikap bersihnya.

Emak sudah lama tak menjengukku ke kota. Terakhir, tiga tahun lalu saat Bapak meninggal, Emak ikut ke kota bersamaku untuk menghabiskan air mata. Di kota, Emak merasa asing. Ia tak lagi sering membersihkan rumah. Mungkin aku dipikir sudah mempunyai calon yang membersihkan hidupku. Emak tak banyak bicara denganku. Lebih sering merenung, sembahyang dan ngaji. Emak hanya sebulan tinggal di kota, setelah itu kembali ke kampung untuk menghabiskan sisa harinya dengan sebuah harapan yang masih tersimpan.

Harapan Emak sederhana adanya. Lima tahun lalu, setahun setelah Bapak pensiun dari kantor lurah, Bapakku memutuskan untuk pindah ke kampung halaman atas ajakan Emak. Emak mau menghabiskan harinya untuk menikmati hidup di masa senja dengan menikmati hamparan tanaman padi yang hijau dan perlahan menguning saat panen tiba. Namun harapan itu tak semuanya terwujud. Ladang yang diharapkan bisa mengusir kejenuhan setelah puluhan tahun tinggal di kota setiap tahunnya selalu kekeringan. Setiap mata pasti tak tahan melihat pemandangan yang kering.

Sebelum meninggal, Bapak sempat membeli beberapa petak lahan untuk ikut-ikutan menanam padi. Bapak mengisi harinya dengan pergi ke sawah, minum kopi menunggu azan Zuhur dan pulang saat senja sudah habis daya pikatnya. Setiap hari seperti itu. Emak pun selalu menyusul ke sawah kalau masakannya sudah selesai. Sambil menenteng rantang dan membawa minuman untuk mereka berdua makan siang.

Dua tahun memang waktu yang singkat. Apalagi kalau setiap hari dilewatinya dengan cinta yang mulai bersemi kembali di masa tua. Aku sempat sekali ke kampung sebelum Bapak meninggal. Rasanya seperti sedang mengganggu muda mudi yang lagi dimabuk asmara. Selalu, setelah perutku lapar sehabis menanam benih, Emak datang bawa rantang. Lantas kita makan siang di tengah sawah, di bawah pohon kelapa yang berjejer, sambil bercerita tentang apa saja kegiatanku di kota.

Saat itu aku hanya seminggu di kampung. Profesiku sebagai pegawai tak mau bertoleransi untuk hal-hal yang melankolis. Serahi tak masuk kantor, sampai tiga kali tanpa kabar, bisa hilang penghasilan. Aku memutuskan untuk ke kota dengan hati yang lepas, melihat Emak dan Bapak berbahagia di kampung halaman.

Namun sekarang, Emak lebih sering diam. Ia jarang menelponku seperti sebelum Bapak meninggal. Dulu hampir setiap minggu Emak menelpon, hanya untuk sekedar menanyakan kabar dan tantang seorang calon. Aku terkadang sampai bosan karena tak ada bahasan lain yang dibicarakan. “Dasar orang tua,” pikirku saat jengkel. Sekarang, kalau bukan aku yang menelpon, Emak mungkin dua bulan sekali baru menelpon. Sekarang, aku yang dibuatnya khawatir. Memang dunia selalu berputar. Mungkin di sana ia punya kegiatan baru yang bisa mengalihkan kesendiriannya.

Saat kutelepon, Emak selalu cerita tentang harinya di kampung yang mulai menjengkelkan, entah apa masalahnya, namun selalu ada yang membuatnya jengkel. Mungkin ia merasa sepi lagi. Namu ketika bercarita tentang senja, aku selalu antusias dibuat mendengar olehnya.  Aku sudah sering mengajaknya tinggal di kota lagi, berdua bersamaku. Tapi ia tetap kukuh ingin melanjutkan harapannya, melihat senja dan menghabiskan hari dalam ketenangannya.

Sawah yang dulu sempat dibeli, sekarang tak ada yang mengurusi. Emak terpaksa menyewakannya ke tetangganya karena ia tak bisa mengolah sawahnya sendirian. Saudara-saudara yang lain pun tak bisa banyak membentu mengolah sawah. Semua sudah punya kegiatan masing-masing dalam mencari penghasilan. Emak tak sudi memaksa.

Senja yang tiga tahun lalu dinikmati bersama Bapak, kini Emak hanya sendiri. Di tengah sawah yang sepi, Emak menyendiri menanti pulang. Aku tak bisa berbuat apapun. Profesi selalu menuntuk prestasi, dan prestasi adalah hal yang menguras energi. Jangankan untuk menemui, menelpon Emak pun hanya kulakukan saat akhir pekan.

Terakhir, aku mendapat kabar kalau Emak sering pergi ke ujung ladang, tempat di mana pohon masih tumbuh lebat, saat senja ingin pulang. Aku ingat cerita Emak dulu, tentang manusia keturunan Dewa yang moksa dan diangkat ke Sorga. Manusia itu terus berjalan hingga tempat yang sunyi, jauh dari hingar bingar kegaduhan duniawi, untuk Manunggaling Kawula Gusti. Pikiranku mulai meracau.

Telepon genggamku bergetar, menyadarkanku dari lamunan tentang Emak.

“Gus, cepet pulang! Emakmu meninggal. Jenazahnya ketemu di hutan, di samping batu yang ada jejak telapak kaki.” singkat pesan dari Wak-ku membuatku haru.