Selasa, 30 Oktober 2012

Kalimalang yang Lurus nan Panjang



Akhir pekan kemarin, saya hendak menuju Pondok Kelapa untuk menyaksikan perhelatan Festival Teater Jakarta Timur. Tapi tenang, saya tidak hendak membahas tentang perlombaan teater yang sedang berlangsung itu. Saya ingin berbagi pengalaman tentang jalanan lurus sepanjang Kalimalang, jalan yang saya lewati untuk menuju Pondok Kelapa. Secara sadar, saya belum pernah ke daerah Pondok Kelapa. Google Maps menjadi alat bantuan yang pasti, setelah saya tanyakan ke orang-orang yang selalu menjawabnya penuh perkiraan.

Siang itu, Jakarta, seperti biasa, terasa sangat menyakitkan dengan panasnya yang memang biasanya tidak biasa. Untung –sebagai orang Jawa saya selalu merasa untung- kemacetan tidak terlalu parah sehingga energi dan emosi saya tidak terlalu habis di jalanan Jakarta. Pasar Minggu sudah terlewati, Kalibata pun terkangkangi, sampai UKI Cawang, langsung saja belok kanan dan saya mulai memasuki Kalimalang.

Angkutan kota (angkot) warna biru mulai menghiasi pinggir jalan. Kadang ada yang menancap gas dengan perlahan, ada pula yang langsung banting setir ke kiri ketika menurunkan penumpang. Ah sudahlah, itu memang kebiasaan yang tidak biasa. Pemandangan di kanan jalan ada kali sempit yang lurus mengikuti panjangnya jalan Kalimalang. Terlihat pula di pinggir kali beton-beton bakal jalan layang yang terabaikan. Mungkin kali itu yang namanya Kali Malang. Tapi mengapa bernama Malang? Apakah dahulu banyak orang Malang tinggal di tempat itu? Atau masyarakat tempat itu selalu merasa malang? Saya sedang tidak ingin membicarakan asal-usul Kalimalang.

Mungkin tidak benar jika nama Kalimalang dimaknai sebagai representasi warga di daerah itu yang malang, karena kemalangan itu tak terjadi pada saya –walaupun saya bukan warga Kalimalang dan hanya sekedar tersesat dalam kelurusan Kalimalang. Saya membiarkan diri saya tersesat di daerah Kalimalang, walaupun saya sebelum berangkat sudah mengamati Google Maps dengan seksama, namun Kalimalang tetap terasa asing. Seperti pergi ke daerah Kuningan, Jawa Barat (mungkin saya agak berlebihan), ketika sejuknya pepohonan menghalangi matahari yang sedang tak senang (setidaknya seperti itu kondisi Kuningan saat terakhir kali saya melewatinya). Perlahan, saya mulai bosan saat sadar jalanan yang lurus ini tak kunjung berpangkal –ya, sama seperti hidup yang lurus-lurus saja, pasti membosankan. Namun, saya tetap menikmati ketersesatan dalam Kalimalang.

Kalimalang tak seganas jalan panjang Condet yang sempit, macet dan banyak pengemudi tak sabaran di belakang Metro Mini yang menunggu penumpang (mohon maaf untuk warga Condet dan sekitarnya bila tersinggung). Juga tak sepanjang jalanan lurus dari Puncak menuju Bandung (entah, saya lupa nama jalannya). Tapi suasana di Kalimalang membuat saya merasa senang untuk tersesat dalam jalanan yang lurus dan panjang. Entah karena apa. Mungkin pepohonan yang terasa menyejukkan, mungkin kemonotonan jalanan yang terus saja tak bergoyang, atau mungkin suasana kalinya yang sempit dan berwarna hijau-kecoklatan. Saya rasa, tak dibutuhkan sebuah alasan untuk menikmati suasana jalan Kalimalang. Saya membiarkan diri saya untuk tersesat dalam sebuah perjalanan dan mencoba menikmati ketersesatan itu. Semoga saja lain kaki sya kembali beruntung menemukan Kalimalang-Kalimalang yang lain, tentu dalam ketersesatan yang lain pula.

The Power of "Terus Kenape"


Frasa "terus kenape", belakangan ini menjadi senjata paling ampuh bagi beberapa teman saya dalam menangkal setiap serangan kalimat-kalimat dari oranglain. Setiap kritikan yang ofensif, sekejap dapat dipatahkan dengan pertahanan berupa pertanyaan "terus kenape?". Kadang-kadang, frasa itu ditambah kalimat lain semacam, "you pikir vox you vox dei?" (lo pikir, suara lo suara tuhan?).

Awalnya, frasa itu sering digunakan oleh akun twitter @midiahn, seorang publik figur yang absurd (sila cek timeline twitternya). Salah satu teman saya yang juga fans M (nama twitter @midiahn) pun menirunya hingga akhirnya menjadi tren lokal di kalangan teman-teman saya.

Saya semula menganggap itu semacam lelucon. Tapi barusan saya mendapatkan pengalaman yang membuktikan bahwa frasa itu memang memiliki semacam kekuatan tersembunyi.

                                                                                                      ***

Saya kaget. Sekitar jam satu tengah malam tiba-tiba telfon rumah saya berdering, memecahkan segala kesunyian. Ini tak seperti biasanya. Aneh. Jarang sekali orang menelfon di malam seterik ini. Orang-orang rumah saya sudah tertidur lelap. Saya pun langsung bergegas mengangkat telfon tersebut dengan segenap penasaran yang ada dan juga untuk menjaga agar orang-orang di rumah saya tidak terbangun.

"Halo...," saya mengangkat telfonnya. Terdengar suara kerumunan.
"Pa...," suara tangis. Si penelfon itu menangis membelakangi suara kerumunan tadi.
"Halo... Siapa nih?", saya memastikan.
"Pa, ini aku," nangisnya semakin menjadi-jadi, "aku ketangkep polisi, Pa...", semakin lengking.
"Terus kenape?", saya menjawabnya enteng.
"nuuuut... nuuut... nuuuuut," dan telfon pun terputus.

Saya tahu betul, itu adalah telfon penipuan. Teman-teman saya sudah banyak sekali yang menceritakan pengalamannya mengenai penipuan dengan modus seperti itu. Cara yang sama, di waktu yang sama. Penipu tersebut biasanya meminta korban menransfer uang, membuat korban panik di tengah malam yang sepi. Beberapa teman saya pernah ada yang terjebak. Mengerikan memang.

Tapi betapa tidak, malam ini, si penipu menyerah dengan menutup telfonnya karena merasa usahanya sia-sia hanya karena sebuah frasa: TERUS KENAPE?

Senin, 29 Oktober 2012

Aksi dan Reaksi


Meremehkan sesuatu akan berakibat fatal, saya adalah seorang korban atas tindakan bodoh itu. Akibat meremehkan ujian dalam perkuliahan saya menerima ganjaran yang setimpal. Kegelisahan yang mendalam.
Hari ini ada tiga mata kuliah yang di ujikan oleh masing-masing dosen mata kuliah. Entah mengapa pada minggu malam saya hanya fokus mempelajari satu mata kuliah saja. Saya menganggap dua mata kuliah lainnya bisa saya kerjakan tanpa saya harus repot-repot belajar. Namun kenyataanya berlawanan.
Siang tadi, saat mata kuliah penjurusan saya merasa sangat bingung, panik, dan berkeringat. Sampai-sampai pengawas ujian berkata “kamu udah sarapan belum? Ini soalnya susah lho” saya pun menjawab dengan cengengesan “udah pak” betapa tololnya saya saat itu.

Sampai pengisian jawaban, semua hal yang saya pelajari mendadak hilang dari ingatan saya, padahal saya hanya belajar hal itu. Otomatis dengan sigapnya saya menerapkan sistem lama yang tak pernah usang, bertanya kepada teman di saat ujian berlangsung. Untungnya teman saya tak merasa terganggu dengan sikap saya yang cenderung offensif, itulah gunanya teman, selalu bisa diandalkan dalam keadaan terdesak.
Beberapa saat kemudian, ujian sesi berikutnya dimulai. Tak ada pelajaran yang saya bawa ke dalam ruang kelas. Yang saya bawa hanyalah obrolan tentang band-band metal bersama teman di warkop. Saat soal di bagikan saya merasa tenang dan cuek, dan yang terjadi adalah saya mengingat kata-kata teman saya yang baru saya dengar beberapa jam yang lalu “Real Man anti lama-lama dikelas” saya pun menyetujui hal itu dan mengerjakan ujian kedua dalam kurun waktu hanya sepuluh menit.

Sesi terakhir adalah sebuah bencana, hal yang sangat saya benci keluar sudah. Tak ada yang saya mengerti dari soal-soal yang ditampilkan. Sekalipun hanya dua soal yang harus dijawab. Ini adalah hal terbodoh yang pernah saya lakukan. Pesan moral dari tulisan saya adalah jangan meremehkan segala sesuatu jika tak ingin seperti saya. Udahlah capek

Aljabar: Menjabarkan Diri Sendiri




Catatan seorang penonton lakon Aljabar.

Lampu panggung menyala, terlihat seorang lelaki setengah baya duduk sedang menyelesaikan lukisannya, dan seorang perempuan yang mulai mengantuk dan terus mengajak untuk tidur. Mereka berdua adalah pelukis yang sedang mencapai titik kejenuhan dalam mengahadapi kegelisahan hidupannya. Melalui lukisan, mereka menuangkan seluruh kegelisahan itu.

Namun ketika mereka mencoba untuk melukiskan dirinya sendiri, hasilnya pasti kabur dan tidak sesuai dengan  yang mereka inginkan. Sampai pada akhirnya mereka sadar bahwa mereka belum bisa memahami dan memaknai dirinya sendiri. Dengan hidup yang begitu singkat, mereka pesimis untuk dapat mengetahui arti hidup mereka.

Dua pelukis yang diperankan mencoba untuk mewakili kegelisahan masyarakat saat ini. Masyarakat terkadang menjadi tidak berdaya menghadapi kerasnya persaingan hidup dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sampai pada akhirnya, mereka hanya bisa meratapi kegelisahannya dan menyalahkan kehidupan sebagai biang keladinya.

Lakon yang dibawakan oleh Teater Cinta Lakon ini merupakan representasi mereka terhadap kehidupan masyarakat saat ini. Lakon Aljabar menjadi menarik karena mereka sedang menjabarkan tentang kegelisahan yang mereka rasakan dalam sebuah lukisan. Menjabarkan diri sendiri berarti memahimi diri sendiri secara keseluruhan. Dengan mengenal diri sendiri, tentu akan lebih mudah untuk menikmati kegelisahan yang sedang melanda.

Menelanjangi Makna I Love You


Semua orang tahu apa makna I Love You. Tapi apakah I Love You akan tetap pada maknanya jika susunan di dalamnya dilucuti satu persatu hingga telanjang?

Sekarang saya ingin coba menelanjanginya, dengan cara melucuti huruf-huruf yang membentuk kalimat itu, yang membuatnya memiliki makna.

Pelucutan ini dilakukan dengan dua cara dan sembilan tahap. Cara pertama, dengan menghapus huruf-hurufnya dari depan ke belakang. Cara ke dua, sebaliknya.

Sembilan tahap tersebut seperti di bawah ini:

1) I Love You
2) Love You
3) ove You
4) ve  You
5) e You
6) You
7) ou
8) u
9)

Barusan saya menghapus huruf-huruf dalam kalimat "I Love You" dengan cara pertama (dari depan). Sekarang saya ingin coba menghapusnya dengan cara ke dua (dari belakang).

1) I Love You
2) I Love Yo
3) I Love Y
4) I Love
5) I Lov
6) I Lo
7) I L
8) I
9)

Coba simak hal di atas dengan seksama. Kalimat itu menjadi bentuk-bentuk baru, menjadi makna baru. Tapi, menelanjanginya dari depan atau belakang, di tahap kesembilan, yang ada hanyalah kekosongan. Lalu apa?

Ransel

Jika engkau seorang guru
Timbanglah isi ransel Ku
Dengan begitu kau tak akan pernah tahu
Seberapa berat pikiran Ku
Karena keterbatasanmu
Tak akan mampu menimbang ketidakterbatasan Ku